Ads Header

Pages

Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Anak Kost. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Anak Kost. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 September 2016

Penis Besar Itu Merobek Keperawanan Ku

Cerita Nafsu Birahi - Nama ku Rina,campuran ambon manado. Aku ingin menceritakan kisahku ketika aku masih berumur 15 thn dan belum terjamah oleh lelaki manapun. 

Tinggi 161 cm,berat 50 kg, Buah dada ukuran 34 b, rambut panjang kulit sawo matang. Tampang sih biasa2 aja,cm yang menonjol adalah buah dada n bodyku yang bisa menggiurkan agan2 para pembaca ceritaseks15 sekalian. Penilaian ini aku ambil dr pendapat teman2ku yg sering memuji akan ukuran buah dadaku maupun bodyku (krn udah berbentuk ketika aku masih berumur 15 thn). Ok,masuk ke cerita ku yah...



Aku yg ingin mendapatkan pendidikan lebih baik terpaksa harus melanjutkan sekolah di luar daerah setelah aku lulus SMP. Akhirnya suatu kota pun menjadi pilihanku,dan ortuku setuju agar aku bersekolah di daerah itu.

Setelah segala urusan utk masuk sekolah selesai,mamiku yg mengantar kembali ke daerah asalnya,tinggalah aku sendiri di tempat kostku.

Hari-hari aku lewati dengan penuh perkenalan,baik di sekolah maupun tempat aku tinggal. Salah satunya aku berkenalan dgn badri,keponakan pemilik kost. Kostku semi permanen dan 2 tingkat,kamarkupun terletak di lantai 2. Tempat favoritku di teras atas,krn kalau udah duduk di situ..pasti mata ini jadi sayup terkena hembusan angin sepoi2... ketika aku duduk2 diatas,aku sering dapatin mata si badri melototin aku klo pas dia juga lagi nyantai disitu. Sebagai cewek,naluriku mengatakan aku harus waspada terhadap badri,

krn tatapannya itu bagaikan singa yg ingin menerkam mangsanya. Aku hanya pura2 gk tau aja klo sering di lihat napsu ma si badri,klo dia ajak cerita aku ladenin aja,daripada gk ada kerjaan di kost n takut di anggap sombong ma si badri. Klo lagi ngobrol2 gitu ma badri,matanya sering curi2 pandang ke arah buah dadaku yang membusung. Walaupun umurku baru 15thn,aku udah punya susu yang besar dan aku gk malu2 utk membusungkan dadaku,gk seperti kebanyakan cewek2 lain yg sering gk PeDe n membungkuk utk menutupi buah dada mereka yg besar.

Suatu malam.... ketika aku pulang dr acara HUT temenku,krn gerah aku pun memutuskan utk mandi walaupun sebenarnya pada saat itu waktu sudah menunjukan pukul 9. Satu persatu kain yg menutupi badan aku lepaskan... perlahan kupegang pengait tali BH ku utk melepaskannya,ketika BH terlepas dan susuku langsung mekar indah tanpa ada penghalang lagi..,tiba2 ada bunyi mencurigakan di atas loteng...sejenak aku lihat keatas kemudian akhirnya aku berjalan menuju kamar mandi tanpa menghiraukan lagi bunyi tersebut.

Segera handuk kulepas dan juga celana dalamku yg belum sempat ku buka td. Aku mulai menyirami tubuhku dengan air yg dingin... terlebih dahulu bagian kepala yg aku siram,katanya sih supaya tubuh dapat menyesuaikan suhu air dan bisa mencegah flu akibat mandi malam. Setelah itu barulah ku guyur seluruh badanku dgn air. Kurasakan setiap alur air yg merambat mengikuti lekuk2 tubuhku,menuruni leher sampai ke sela2 susuku... turun lagi sampai vaginaku yg sudah di tumbuhi bulu2 halus. Aku mulai menggosok badan dengan sabun hingga ke ujung2 kaki...tidak lupa tanganku singgah sebentar di vaginaku utk membersihkannya... ku gosok2 belahan vaginaku sampai terkadang rasa geli menghampiriku...

Setelah mandi aku pun kembali ke kamar. Malam ini kurasakan hawa nya berbeda,panas... dan seperti biasanya klo begini,aku tidur hanya menggunakan CD dan BH. BH yang aku ambil dan pakai kali ini udah agak kekecilan atau mungkin susuku yang udah bertambah besar sehingga pengait BH ini sudah susah utk aku kaitkan... akhirnnya karena kesal aku pun melepaskan BH itu. Akhirnya aku pun tidur hanya menggunakan CD aja.

Dalam asiknya2 tidur... aku merasakan seperti ada yang sedang menggoyang-goyang tubuhku... namun krn rasa ngantuk yg sangat... maka aku gk langsung bangun,hanya membuka mata perlahan-lahan...

Samar2 gk ada yg terlihat krn gelapnya kamarku... namun ketika mata mulai menyesuaikan dengan keadaan gelapnya kamar,di bantu dengan cahaya yg berpancar lewat fentilasi,kudapati ada sesosok tubuh di ujung tempat tidurku... krn kaget aku langsung bangun sambil menutup badan dengan selimut...

Lelaki yang berada dalam kamar itupun sudah tidak mengenakan apa2 lagi... serasa aku ingin teriak sekencang-kencangnya namun tdk ada tenaga seakan di terhipnotis oleh keadaan ini. Mataku mulai melihat sesuatu yang nampak menonjol dr pria itu... tonjolan yang selama ini belum pernah aku lihat secara langsung...

Terdiam seakan dihipnotis,aku hanya melihat lelaki itu mengitari tempat tidurku.... perlahan mulai naik dan skrg dia dekat skali dgn ku sehingga aku dapat mengenalinya.... dia menutupi mulutku dan mengatakan bahwa klo aku sampai teriak maka kita akan sama-sama tanggung malunya. Aku hanya terdiam tidak menyangka akan terjadi seperti ini... air matakupun mulai menetes satu demi satu...
Badri melihatku yang hanya diam saja mulai melepaskan tangannya dari mulutku... dan mulai menurunkan selimut yang menutupi leher hingga ujung kakiku... aku hanya pasrah ketika tangannya mulai menyentuh susuku... di remas susuku secara perlahan,di usap2 hingga ke ujung pentil... kemudian tanggannya mulai turun ke perut sampai ke celana dalamku. Di usap2nya vagina ku dari luar celana dalam,dari celahnya dia mulai memasukan tangannya utk menyentuh langsung vaginaku... bagaikan tersengat listrik ketika ujung jarinya mulai menyentuh bibir vaginaku...

Tiba2 ada keinginanku utk melepaskan diri,mempertahankan kehormatan yang aku punya... aku dorong badri sekuat tenaga... badri yg badannya besar dan tinggi itupun terjatuh dr tempat tidur... secepatnya aku menutup badanku dengan selimut dan lari menuju pintu,namun badri sudah menangkap dan memelukku dr belakang kemudian membantingku kembali ke tempat tidur....

Aku tergeletak tak berdaya... selimut yang menutupi tubuhku sudah di pindahkan,aku terlentang... susuku kini mengacung tinggi ke atas menunggu hisapan dari badri... celana dalamku kini sudah di lepas... dan aku siap utk di setubuhi oleh badri...

Namun ternyata badri bukanlah orang yang ingin cepat2 menghabiskan hidangannya... dia perlahan mulai menjilati kakiku sampai ke pahaku. Badri terdiam sejenak memandangi vaginaku yang sudah ada di depan matanya.... tiba2 bagaikan singa yang lapar,mulutnya langsung menerkam vaginaku... dijilatinya dengan rakus,sela2 vaginaku di hisap dan di tarik-tarik menggunakan mulutnya... kelentitku di hisap... aku mulai merasakan suatu kenikmatan yg belum pernah aku rasakan... ini adalah kejadian pertama dalam hidupku.... aku mulai menutup mata merasakan setiap jilatan liar di vaginaku...

tiba2 badri berdiri kemudian menyuruhku utk menghisap penisnya.

Perlahan aku bangun dari posisi tidurku... Badri menyodorkan tonjolan yang pertama aku lihat td... sambil tutup mata,kubuka mulut dan menerima penis badri yang besar dan panjang itu di dalam mulutku.. mulutku terasa sesak oleh penisnya,di dorong-dorong penisnya di dalam mulutku sampai terasa kena di dinding tenggorokanku... di maju mundurkannya secara perlahan kepala ku hingga susuku pun ikut bergoyang...

Setelah badri puas,dia mulai menindih ku... ujung penisnya kini diarahkan di depan vaginaku.. krn vaginaku sudah licin akibat hisapan badri di tambah dengan cairan dr vaginaku sendiri,badri menggosok-gosokan kepala penisnya yg sudah di sunat itu di vaginaku...kemudian perlahan di memasukan penisnya yang besar dann panjang itu... aku hanya bisa menggigit bibirku dan menutup mata... aku rasakan penisnya mulai merobek setiap inci dlm vaginaku,masuk secara perlahan-lahan hingga akhirnya tembuslah perawanku... aku merasakan perih yg luar biasa di dalam vaginaku.... darah mulai menetes keluar dr dalam vaginaku... badri terlihat senyum penuh kemenangan krn sudah berhasil menjebol pertahananku...

badri mulai menggenjot perlahan penisnya,,sedangkan aku masih bertahan dengan rasa perih yg kurasakan... terasa vaginaku akan sobek utk kedua kalinya ketika badri menusukan sepenuhnya penisnya didalam vaginaku... terasa ujung penisnya menyentuh rahimku.... mataku membelalak ke atas hingga hanya putihnya yg kentara sambil tanganku meremas bahu badri....

perlahan-lahan aku mulai terbiasa dengan sodokan badri,aku mulai merasakan kenikmatan ketika penisnya masuk penuh ke dalam vagina ku....
ohhhh... terus sayangggg.... enak banget.... ucapku perlahan di tepi telinganya...
kedua kakiku kini mulai menekan pantatnya agar bisa menusukan lebih dalam lagi penisnya...
aaaahhhhh..... sayanggggg.... suaraku mulai agak serak menandakan aku udah mendekati klimaks.
Iya sayaaaannnggg... bentar lagi kita keluarin bareng2 yaaaaggghhh...balas badri tanpa mengurangi tempo goyangan penisnya....

Mendadak sodokan penis badri menjadi cepat... aku yg sudah sangat kenikmatan sontak langsung meremas rambut badri,,dan badri kembali mencumbuiku dengan ganasnya,telinga dan leherku dijilatinya dengan buas..... tempat tidur berderak derik bagaikan sedang di pacu... tiba-tiba aku merasakan kenikmatan tiada taranya dan seperti ada yg akan meledak dr dalam tubuhku.... penis badripun kurasakan bertambah besar dan panjang menambah kenikmatan klimaksku...

Hingga akhirnya keluarlah air kenikmatanku dan kedutan2 vaginaku,aku hanya bisa melenguh kenikmatan.... ooooohhhhh oooooohhhh oooooohhhhh dengan mata tertutup sambil meremas-remas rambut,bahu dan bagian belakang tubuh badri.... sungguh kenikmatan tiada tara yang kurasakan...
Tak lama kemudian badripun mencapai klimaksnya di dalam vaginaku sambil meremas susuku yang udah kenceng banget... kurasakan semburan yg hangat keluar dr ujung penis badri sambil dia menciumku liar.... tanpa kusadari pantatku ikut bergoyang menerima klimaksnya badri...

Kami berdua terdiam sejenak sambil menikmati sisa-sisa klimaks kami... hingga akhirnya penis badri terasa mengecil di dlm vaginaku. badripun bangun dan menyalakan lampu kamar....

Krn malu aku hanya bisa menutup muka dengan kedua tanganku seakan tak percaya dengan kejadian ini...

Seakan mengetahui kegalauanku,badri menghampiriku dan berbisik bahwa dia mencintaiku dan akan bertanggung jawab atas perbuatannya.

Bagai Mana Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Ini Dan Baca Juga Cerita Lainnya Di Bawah Ini:
Read more

Jumat, 05 Agustus 2016

Cerita Sex Mandi Bareng Berujung Nikmat

Cerita Nafsu Birahi - Namaku Dewi. Tiga tahun yang lalu waktu aku masih kuliah di Jakarta, aku tinggal di rumah kontrakan dengan tiga teman lainnya. Di kontrakan itu kami tinggal berempat, aku dan Wendy teman kampusku serta dua pria anak kampusku juga walaupun mereka berbeda jurusan. Sebelumnya aku tinggal di tempat kos, juga di daerah Tomang, dan Wendy yang mengajakku untuk mencari rumah kontrakan di dekat kampus. Setelah dipikir-pikir memang lebih enak untuk tinggal di rumah kontrakan karena yang tinggal tidak terlalu banyak seperti tempat kos pada umumnya dan juga biayanya tidak jauh beda karena semua pengeluaran bisa dibagi berempat.

Sebagai gambaran, waktu itu usiaku masih 20 tahun. Badanku tidak terlalu tinggi, 162 cm, tapi buah dadaku besar (36C) sehingga aku sering pakai baju yang longgar supaya tidak terlalu menarik perhatian. Menurutku wajahku tidak cantik-cantik amat, tapi memang tidak sedikit pria yang naksir aku, apalagi saat itu aku belum punya cowok. Waktu di SMU sampai tingkat pertama aku pernah pacaran tapi kemudian mantan cowokku ketahuan menyeleweng walaupun waktu itu aku sudah menyerahkan segalanya ke dia. Perlu waktu cukup lama bagi aku untuk mengobati sakit hatiku padanya.



Salah satu pria yang tinggal di kosku (sebut saja namanya Andi) sangat baik padaku dan aku punya perasaan kalau dia naksir aku. Andi selalu memberikan perhatian yang lebih kepadaku dan sering membawakan makan malam untukku. Sebenarnya aku juga suka padanya, tapi karena dia sendiri tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepadaku, aku bersikap biasa-biasa saja padanya. Kami sudah beberapa kali pergi nonton atau makan berdua tapi Andi belum juga berani bilang atau memintaku untuk jadi pacarnya.

Pada saat libur lebaran, aku memutuskan untuk tidak pulang ke kota asalku di Sumatra Selatan. Andi juga tetap tinggal di Jakarta sedangkan kedua temanku yang lain pulang. Pembantu juga pulang kampung, jadi tinggal aku dan Andi saja yang tinggal di rumah. Karena tidak ada pembantu, aku terpaksa melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci pakaian ataupun membersihkan rumah. Pada hari Minggu pagi sekitar jam 9 aku ke halaman belakang rumah untuk mencuci pakaianku. Biasanya kalau hari Minggu pagi Andi main tennis dengan teman-temannya sehingga waktu itu aku pikir tidak ada siapa-siapa di rumah.

Aku masih mengenakan baju tidurku, daster berwarna biru muda yang pendek dan tidak mengenakan bra. Biasanya aku selalu mengenakan bra bila keluar kamar, tapi pagi itu aku cuek saja karena aku pikir aku sendirian di rumah. Waktu mencuci pakaian aku duduk di kursi pendek. Rokku aku singkapkan dan kedua kakiku aku buka lebar agar mudah untuk mencuci pakaian. Arah dudukku menghadap jendela kamar Andi dan dari arah jendela, pahaku dan celana dalamku bisa terlihat jelas. Badanku juga berkali-kali membungkuk dan bila aku membungkuk buah dadaku sesekali terlihat karena potongan dada dasterku cukup rendah. Apalagi posisi dudukku dekat dengan jendela kamar Andi.

Waktu itu aku benar-benar tidak tahu kalau Andi ternyata tidak main tennis dan masih ada di kamarnya. Setelah aku hampir selesai mencuci pakaian aku menengok ke arah kamar Andi dan sangat kaget kalau ternyata dia berdiri di kamarnya sambil memandangi aku dari jendela. Memang aku tidak bisa melihat dia dengan jelas karena di luar terang sedangkan kamar Andi cukup gelap, apalagi masih ada kaca yang membatasi dia dengan aku. Aku sungguh terperanjat menyadari posisi dudukku dan bahwa Andi sudah berdiri di situ dari tadi sambil melihatku. Cepat-cepat aku atur posisi dudukku dan membetulkan posisi rokku. Andi kemudian keluar dan berjalan ke arahku. Dia minta maaf kalau dari tadi dia diam saja dan tidak kasih tahu aku kalau dia ada di kamar. Sambil menengok ke arah celananya dia juga bilang kalau penisnya berdiri karena terangsang melihatku. Mendengar itu mukaku langsung merah karena malu.

Siang harinya Andi mengajakku keluar makan dan untuk pertama kalinya dia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Aku mengiakan dan memang sudah cukup lama aku menanti saat itu. Kami kemudian pergi nonton di Plaza Senayan dan begitu sampai rumah petang harinya Andi untuk pertama kalinya mencium aku. Aku balas ciumannya dan kemudian dia menarikku ke kamarnya. Kami berciuman sesaat dan tangannya mulai nakal dan menggerayangi buah dadaku walaupun aku masih mengenakan baju lengkap. Andi kemudian mengajakku ke kamar mandi. Aku bilang kalau aku malu dan tidak mau mandi bersama dia. Tapi kemudian dia menarikku ke kamar mandi dan kami kembali berciuman hebat.

Tangannya mengambil air di gayung tanpa sepengetahuanku dan tiba-tiba menyiramkan air ke kepalaku. Aku kaget setengah mati, tapi kemudian tertawa juga. Baju yang aku kenakan basah kuyup. Waktu itu aku mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana jeans. Walaupun masih mengenakan bra, buah dadaku tercetak jelas di balik kemejaku yang basah kuyup. Andi kemudian mundur ke arah dinding dan memintaku untuk melepaskan semua pakaianku.

Tidak tahu apa yang merasuki aku, waktu itu aku menuruti saja apa yang dia minta. Perlahan-lahan aku buka semua kancing bajuku dan setelah terbuka, kemejaku aku lempar ke lantai kamar mandi. Kemudian aku mulai melepaskan celana jeansku sehingga aku berdiri di hadapannya dengan hanya mengenakan celana dalam dan bra. Andi bilang kalau buah dadaku ternyata lebih besar dari apa yang dia pikir selama ini. Kemudian Andi mengambil air lagi di gayung dan mengguyurkannya ke badanku. Celana dalamku langsung basah kuyup dan bulu kemaluannku tercetak jelas di balik celana dalamku yang basah. Aku langsung bereaksi menutupi kemaluanku dengan tanganku sambil tangan satunya menutupi buah dada dan kedua putingku yang sekarang juga tampak samar-samar karena braku juga basah.

Andi hanya memandangi aku dan memintaku untuk melepaskan semua yang aku kenakan. Seperti kena sihir aku membalikkan badan dan melepaskan bra dan celana dalamku. Kemudian aku berbalik lagi dengan posisi tangan kanan di buah dadaku dan tangan kiri menutupi kemaluanku. Aku hanya berdiri menunduk dengan perasaan malu luar biasa karena baru pertama kali itu aku telanjang di depan Andi. Andi memintaku untuk menurunkan kedua tanganku ke samping dan masih dengan menunduk kedua tanganku aku turunkan perlahan-lahan. Badanku gemetar hebat karena malu dan kini aku berdiri telanjang bulat di hadapan Andi.

Buah dada dan putingku yang berwarna kecoklatan tidak ditutupi apa-apa lagi, juga kemaluanku yang ditumbuhi rambut cukup lebat. Andi masih berdiri menyender di dinding kamar mandi dengan baju lengkap dan terus memandangi aku sambil bilang kalau aku seksi. Lama kelamaan rasa maluku mulai hilang dan aku beranikan diri melihat ke arahnya. Andi lalu juga melepaskan semua pakaiannya dan dia berdiri di hadapanku dengan penis yang tegang dan mengarah ke atas.

Andi kemudian menghampiriku dan kembali mencumbuiku. Ciumannya mulai turun ke buah dadaku dan Andi lalu menghisap dan menjilati putingku. Memang itu adalah titik kelemahanku. Bila putingku dijilat atau dihisap, aku pasti langsung lupa daratan. Aku mulai mendesah-desah dan Andi semakin bernafsu menjilati putingku sambil tangannya turun dan memainkan clitorisku. Vaginaku mulai basah dan kedua kakiku aku buka lebih lebar agar Andi bisa memainkan clitorisku lebih bebas lagi. Aku sudah sangat terangsang ketika Andi mengajakku mandi.

Dia mengguyur badanku dengan air lagi berkali-kali dan kami mulai menyabuni satu sama lain. Andi mulai dengan buah dadaku, punggungku, pantatku dan kemudian ke selangkanganku. Kakiku aku buka lebih lebar lagi dan lututku aku tekuk sedikit. Sambil menciumiku, Andi terus menyabuni vagina dan klitorisku. Bibir vaginaku dibuka sedikit olehnya dan kemudian dia mulai menyabuni bagian dalam vaginaku. Andi melakukannya dengan lembut sehingga aku tidak merasa sakit atau perih. Setelah itu giliran aku yang menyabuni dia. Selangkangannya aku sabuni, juga penisnya yang masih berdiri tegak. Aku tahu Andi menikmati itu karena dia tidak mau aku berhenti. Kira-kira lima menit kemudian kami mengguyur badan kami yang masih bersabun dan lalu mengeringkan badan dengan handuk.

Andi kemudian memintaku berbaring di ranjangnya. Aku berjalan ke ranjangnya dan tiduran telentang menghadap Andi yang berdiri di depan ranjangnya. Lama dia memandangi aku sampai kemudian menyuruhku membuka kedua kakiku. Aku sudah sangat terangsang dan aku turuti permintaannya. Kedua kakiku aku buka lebar, kedua tanganku aku angkat di atas kepala dan aku biarkan Andi menikmati tubuh telanjangku. Andi kemudian berdiri di atas lututnya di sisi ranjang dan menarik badanku ke arahnya. Sekarang pinggulku persis di sisi ranjang dan Andi memegang kedua lututku.

Kedua kakiku dia buka lebar-lebar dan Andi mulai menjilati selangkanganku, dimulai dari pahaku bagian dalam. Andi kemudian menjilati bibir vaginaku. Aku sudah sangat terangsang dan vaginaku basah. Sambil memejamkan mata aku terus mendesah hebat, apalagi setelah Andi mulai menjilati klitorisku. Mendengar desahanku, Andi semakin bernafsu dan sekarang dia membuka bibir vaginaku dan mulai menjilatiku dari arah bawah sampai klitorisku. Katanya cairan vaginaku sedikit asin tapi tidak berbau sama sekali. Memang aku sangat hati-hati untuk menjaga kebersihan vaginaku. Andi terus menjilatiku sampai aku orgasme. Setelah aku orgasme, Andi berdiri dan dengan perlahan-lahan memasukkan penisnya ke vaginaku dan mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Rasanya sungguh nikmat dan menurutku bercinta dengan Andi lebih enak dibandingkan dengan pacarku yang dulu karena dia sangat berhati-hati untuk tidak menyakitiku.

Beberapa menit kemudian Andi memintaku untuk berubah posisi sehingga aku sekarang duduk di atas dia. Perlahan-lahan aku masukkan kembali penisnya ke vaginaku dan aku mulai menggoyangkan pinggulku di atas dia. Kedua tanganku aku angkat ke atas dan tangan Andi mulai meremas-remas dan memainkan buah dadaku. Andi bilang kalau buah dadaku besar dan kenyal. Aku terus menggoyangkan pinggulku, ke depan belakang dan juga naik turun sampai aku orgasme untuk kedua kalinya. Tidak lama kemudian Andi bilang kalau dia sudah mau keluar dan cepat-cepat aku lepaskan penisnya dari dalam vaginaku. Waktu itu kami tidak siap dengan kondom dan aku tidak mau sampai hamil, jadi terpaksa aku harus cepat-cepat lepaskan.

Kemudian aku pegang penisnya dan mulai mengocok-ngocok penisnya sampai Andi orgasme. Spermanya keluar banyak sekali sampai muncrat ke leher dan dadaku. Setelah orgasme Andi terlihat lelah dan kemudian aku peluk dia dengan erat. Kami berpelukan cukup lama dan baru setelah itu ke kamar mandi lagi untuk membersihkan badan kami. Apa yang baru kami lakukan benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan. Malam itu aku tidur di kamar Andi setelah kembali bercinta dengan berbagai posisi sebelum tidur. Keesokan harinya kami berdua tidak keluar rumah dan menghabiskan waktu untuk bercinta atau bermalas-malasan di kamar. Selama beberapa hari di rumah berdua, Andi tidak membolehkan aku untuk mengenakan pakaian. Dengan tanpa mengenakan apa-apa kami melakukan berbagai aktivitas seperti memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah dan nonton TV. Awal-awalnya aku masih merasa aneh berjalan-jalan di sekitar rumah tanpa pakaian, tapi lama-lama aku menikmati juga kebebasan itu. Aktivitas-aktivitas gila itu harus kami hentikan setelah pembantu dan kedua teman kontrakanku kembali ke Jakarta.

Hubunganku dengan Andi berlanjut sampai kuliah kami selesai. Selesai kuliah Andi kembali ke Surabaya untuk membantu usaha ayahnya dan aku sendiri kerja di Jakarta. Setahun pertama kami masih meneruskan hubungan lewat telpon dan sekali-sekali Andi datang ke Jakarta. Awal tahun ini Andi mulai jarang menelponku dan banyak pikiran negatif berkecamuk di benakku. Karena takut kejadian yang sama menimpaku lagi, aku memutuskan hubungan baik-baik dengan Andi. Aku tidak tahu apakah saat ini Andi sudah punya pacar lagi atau tidak. Terus terang aku tidak mau tahu dan aku hanya mau mengenang saat-saat indahku dengan Andi. Aku yakin satu saat aku pasti akan mendapatkan penggantinya.

Bagai Mana Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Ini Dan Baca Juga Cerita Nafsu Birahi Lainnya Di Bawah Ini:
Read more

Kamis, 21 Juli 2016

Cerita Hot Anak Kost Ku Tersayang

Cerita Nafsu Birahi - Namaku adalah Iyo, usiaku 24 tahun, aku tinggal sendiri di sebuah rumah yang cukup besar untuk aku tempati sendiri karena itu rumahku kujadikan tempat kost cewek. Apalagi rumahku letaknya berdekatan dengan universitasku.



Aku menyeleksi semua cewek yang ingin kost di rumahku, mereka harus cantik, seksi dan gaul apalagi kalau wajahnya terlihat nakal, pasti langsung aku terima tinggal disini. Karena itu semua kamar terisi dengan cewek-cewek cantik. Itulah awal percintaanku dengan salah satu cewek kostku.

Yang aku incar adalah Nuke karena dia sangat cantik dan bodynya sangat seksi, wajahnya sangat sensual menurutku, aku jatuh hati saat pertama melihatnya karena itu aku melakukan segala macam cara agar bisa memilikinya, mengantar dia kuliah pakai mobil, membantu menyelesaikan tugas, ajak dia jalan, nonton, shopping, pokoknya kumanjakan dia.

Akhirnya usahaku tak sia-sia, Nuke mulai jatuh hati padaku. Hal itu terjadi saat kami berdua pulang dari menonton bioskop. Tingkah laku Nuke terlihat lain, biasanya dia suka bercanda sampai tertawa ngakak, malam itu di dalam mobil dia tampak pendiam dan sering menatap wajahku lalu tersenyum manis, sebenarnya aku tahu isi hatinya tapi aku pura-pura tidak tau.

"Kamu kenapa Say..? Sakit ya?", tanyaku sok perhatian.
"Oh.. Nggak kok Yang.. Nuke jadi suka aja ngelihat Yayang..", jawabnya polos.

Kemudian kami tersenyum dan terdiam lagi sampai di rumah. Pada waktu jalan dia menggandeng tanganku lembut sampai di kamarnya.

"Udah ya Say, sekarang tidur ya?", kataku sambil beranjak pergi menuju kamarku.
"Yang.. Kenapa ya Nuke kok jadi sayang sama Yayang.." ucapnya sambil memegang tanganku, matanya menatapku penuh harap.
"Ah.. Ngaco kamu, udah tidur sana!", jawabku sok cuek sambil berlalu.
"Yang..! Temani Nuke bentar ya..?", pintanya, aku hanya tersenyum lalu dia menggandengku masuk kamarnya. Setelah kamarnya kukunci, Nuke langsung memelukku.
"Nuke cinta Yayang..", katanya sambil mencium bibirku lembut.

Inilah yang kutunggu, aku membalas pelukannya sambil mencium bibir sensualnya. Lama kelamaan ciuman kami semakin panas, lidah kami saling beradu penuh gairah, tanganku sudah tak tahan ingin meremas buah dadanya yang montok dan kencang itu. Kusandarkan dia di balik pintu, lalu aku memasukkan tanganku ke dalam bajunya, buah dadanya terasa empuk dan lembut saat kuremas meski putingnya sudah mengeras. Nuke tampak sangat menikmati permainan ini, matanya terpejam sambil sekali-kali mendesah nikmat.

Ciumanku mulai turun ke leher jenjangnya, lidahku menyapu tiap jengkal lehernya, tampaknya dia sudah tak tahan lagi saat puting susunya kujilati sambil kugigit lembut, lalu roknya mulai kulepaskan perlahan, tanganku kini mulai meraba-raba gumpalan bulu halus tempiknya sambil terus menjilati susunya, jemariku terasa basah saat kugesek-gesekkan di luar tempiknya, lalu aku jongkok, salah satu kakinya kuangkat dan kusandarkan di bahuku agar aku lebih leluasa menciumi tempiknya, lidahku menyapu klitorisnya sambil sekali-kali kusedot gelambir tempiknya, kakinya terasa bergetar menahan geli nikmat rangsanganku. Cukup lama kurangsang tempiknya dengan mulut dan lidahku, sampai akhirnya tubuhnya bergetar hebat.

"Oh.. Yayang.. Nuke hampir.." bibirnya makin mendesah nggak karuan dan tangannya makin menenggelamkan mukaku ke tempiknya. Lalu terasa banyak cairan kental yang hangat mengalir dan membasahi mulutku, cukup banyak yang tertelan di mulutku. Tampaknya dia mengalami orgasme hebat.

Lalu aku berdiri sambil mengusap mulutku yang basah, Nuke menatapku sambil tersenyum nakal, tangannya melingkar manja di pinggangku, aku makin nafsu melihatnya lalu kugendong dia ke ranjangnya dan kurebahkan tubuhnya. Kulebarkan kedua kakinya lalu aku menindih tubuhnya, Nuke terlihat pasrah hingga membuatku makin bernafsu. Lalu sambil berciuman, kugoyang-goyangkan kontolku sambil kugesek-gesekkan di bibir tempiknya.

Batang kontolku terasa basah dan geli, lalu kuarahkan kontolku ke lubang tempiknya, kusodok pelan-pelan. Terasa sulit untuk memasukinya karena lubangnya sangat sempit, aku terus menggoyang-goyangkan pantatku, terasa nikmat saat helm kontolku masuk ke dalamnya.

"Achh.. Yayang, pelan-pelan.. Sakit yang.." Nuke menjerit tertahan menahan sakit saat kosodok-sodokkan kontolku lebih keras.

Aku memperlambat gerakanku, akhirnya kontolku masuk ke dalam tempiknya sedikit demi sedikit.

"Uhh.. Achh.." desahnya saat seluruh batang kontolku tenggelam, serasa seperti dipijat-pijat dan tersedot masuk ke dalam tempiknya.

Aku makin bernafsu melihat raut wajahnya yang mempesona, keringatku menetes membasahi tubuhnya, makin lama makin cepat sodokan kontolku di dalam tempiknya, suara desahan kami makin keras di kamarnya, tak peduli ada yang mendengar. Kutindih dan kupeluk Nuke sambil kujilati telinganya.

"Oh Yayang.. Nuke mau lagi.. Ahh..", rintihnya.
"Aku juga Say..", balasku.

Saat spermaku terasa menjalar di dalam urat kontolku, gerakanku semakin cepat, akhirnya kami berdua mengalami orgasme bersamaan, spermaku muncrat memenuhi tempiknya, pelukanku makin erat, gerakanku makin melambat, tapi tangan Nuke terus mendorong pantatku agar aku terus bergerak..

"Terus.. Nuke hampir.."

Lalu saat sodokanku kembali kupercepat, Nuke semakin keras meremas pantatku, pahanya makin erat menjepit pinggangku.

"Achh.. Achh..", desahnya saat dia mengalami orgasme kedua kalinya, terasa banyak cairan hangat membasahi kontolku, lalu gerakanku berhenti.

Kupeluk terus dia sambil mencium keningnya, kontolku masih tertanam di tempiknya sampai mengecil dengan sendirinya. Kemudian kulepas perlahan, terasa geli sekali dan kulihat ranjangnya telah basah oleh cairan kami berdua. Dan terlihat ada noda merah darah di ranjang itu, kutatap wajahnya, tak ada raut penyesalan di sana.

"Nuke udah nggak perawan lagi Yang.. Jangan tinggalin Nuke ya..", pintanya padaku.
"Nggak mungkin aku tinggalin kamu Say, aku cinta kau..", batinku. Lalu kami berdua tidur sambil berpelukan, aku bermimpi indah sampai pagi tiba..

Tak terasa matahari sudah terbit, hari sudah mulai siang, dan kulihat Nuke masih tidur pulas di sampingku sambil memelukku. Wajahnya tampak mempesona dan cantik sekali pagi itu. Aku sangat beruntung bisa memilikinya. Lalu kukecup lembut keningnya. Aku tak mau membangunkannya, jadi kutunggu saja sampai dia terbangun. Akhirnya tidak berapa lama Nuke terbangun dan menggeliat, kemudian dia menatapku.

"Met pagi Say..", katanya manja sambil menciumku.
"Ihh bauu.. Sana mandi dulu..", jawabku bercanda.
"Gak mau kalau nggak Yayang mandiin", balasnya genit.

Lalu kugendong dia ke kamar mandi di dalam kamarnya. Lalu kami berdua mandi bersama. Saat kusiram tubuhnya dengan air dingin, Nuke tampak menggigil dan memelukku lagi.

"Yayang.. Dingin nih.. Ntar aja mandinya ya..", pintanya manja.

Lalu dia mulai merangsangku lagi, puting susuku dijilati dan tangannya mulai nakal meremas kontolku yang masih tidur. Lidahnya berputar-putar mengelilingi puting susuku, rasanya benar-benar nikmat sekali. Makin lama kontolku mulai tegak lagi karena tak tahan menahan rangsangannya. Ketika tanganku ingin meremas buah dadanya, Nuke langsung menepisnya..

"Nggak boleh.. Aku mau puasin Yayang dulu..". katanya.

Lalu ciumannya perlahan mulai turun ke perut dan pinggangku, benar-benar geli dan nikmat sekali. Aku cuma bersandar di dinding menikmati rangsangannya. Lama kelamaan bibirnya mulai turun kearah kontolku, perlahan dijilatinya mulai pangkal sampai helmnya. Aku benar-benar dimanja oleh sentuhannya yang begitu lembut. Sekali-kali matanya menatapku nakal, aku benar-benar tak tahan dibuatnya. Kontolku terus dikulum sambil dikocok perlahan.

"Ahh udah say.. Sini gantian..", bisikku lirih.

Lalu kubalikkan badannya membelakangiku dan aku jongkok di belakangnya, langsung saja kujilati vaginanya, baunya begitu harum khas wanita, kujilati perlahan sambil sesekali lidahku masuk ke dalamnya. Nuke mulai mendesah..

"Oh.. Yayang..", aku semakin bersemangat merangsang klitorisnya, tanganku juga meremas pantatnya yang membulat bersih. Lalu jilatanku mulai naik ke lubang pantatnya..

"Ihh geli Yang..", desahnya sambil tertawa kecil, jemariku kini mulai kumasukkan ke dalam vaginanya dan kuputar perlahan sehingga menimbulkan sensasi pada tubuhnya. Getaran kakinya mulai terasa dan desahnya mulai tidak karuan.

"Oohh.. Achh", lalu aku berdiri dan kontolku kini mulai kugesek-gesekkan di bibir vaginanya. Kumasukkan perlahan dan kugoyangkan pelan-pelan, kami sangat menikmati permainan yang lembut ini.

Akhirnya kontolku benar-benar terbenam seluruhnya di dalam vaginanya, tanganku terus meremas-remas pantatnya. Nukepun juga ikut bergerak maju mundur seirama dengan gerakanku. Lalu saat gerakan kupercepat, Nuke tampak sudah tak tahan menghadapi gempuranku, tubuhnya mulai bergetar dan desahnya makin keras di dalam kamar mandi. Orgasmenya mulai mengalir membasahi kontolku, begitu basah dan hangat terasa, lalu kurasakan spermaku mulai mengalir di dalam batang kontolku dan gerakanku makin cepat menyodok tempiknya. Akhirnya sperma telah berada di ujung kontolku dan ketika akan kutarik keluar, Nuke menahannya..

"Yayang, dikeluarin di dalam saja.."

Akhirnya aku tak jadi menarik kontolku dan melanjutkan sodokanku, lalu spermaku muncrat membasahi vaginanya. Mataku terpejam menikmati orgasme yang begitu hebat itu. Akhirnya saat permainan telah selesai, kupeluk dan kukecup lembut keningnya, lalu kami berdua meneruskan mandi sambil saling membasuh tubuh dan bercanda.

Bagai Mana Dengan Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Ini Dan Baca Juga Cerita Dewasa Lainnya Di Bawah Ini:
Read more

Rabu, 20 Juli 2016

Cerita Dewasa Kenikmatan Dan Kegalauan

Cerita Nafsu Birahi - Waktu itu aku sedang sendiri. Aku baru saja (sekitar sebulan) berpisah dengan salah seorang gadis yang sangat kusayangi. Ah, aku sendiri heran, mengapa perpisahan yang kali ini membuatku sedikit sakit hati. Hari-hari terasa sangat berat tanpa kehadirannya, bahkan aku pun punya rasa sedih akan kehilangan seseorang (setidaknya itulah yang kupikirkan saat itu). Aku jadi semakin sering menelepon Enni (kekasih pertamaku) walau hanya sekedar menceritakan betapa aku merasa sangat sendirian.



Mungkin kalian pernah merasakan (paling tidak sekali) serius menjalin hubungan dengan seseorang, dan begitu pula aku. Pathetic, untuk cowok sepertiku. Tapi, yah terkadang perasaan tak dapat selalu ditipu, bukan?
Suatu hari aku (karena menganggur sekali) menghabiskan waktu luangku di toko buku Gramedia, di jalan Kertajaya, sekedar membaca-baca buku.

Soalnya di sana satu-satunya toko buku bermutu dimana kita bisa membaca gratis. Waktu itu aku sedang menikmati membaca buku komik Jepang Elex Media terjemahan bahasa Indonesia (entah apa judulnya, soalnya aku tak ingin repot mengingatnya). Menyandarkan tubuhku di tembok di sebelah rak buku, dan membiarkan orang-orang memandangku dengan heran saat aku tertawa. Saat itulah tiba-tiba aku melihat sebuah kepala muncul dari balik buku yang kupegang.

"Nia?" seruku tak percaya.
"Ray? Bener kan? Raayy!" seru gadis itu tak kalah sengit.
Kami berdua tanpa terasa saling berpelukan, tertawa-tawa, membiarkan adegan tak senonoh itu dilihat orang di sekitar kami.
"Ssshh.. banyak orang," Nia berkata kepadaku.
"Hahaha.. nyari tempat yuk," kataku.
Kugandeng tangannya keluar dari Gramedia. Kami akhirnya mengambil tempat di salah satu warung di sebelah toko buku itu.
"Ray, gimana aja kabarnya.. umm.. setahun yah?"
Ah ya setahun, lama memang.
"Yah, baik-baik saja. Kamu?"
Lalu Nia bercerita tentang bagaimana ia setelah lulus SMU, berangkat ke Jakarta untuk meneruskan kuliah D1 di sebuah universitas negeri di sana. Setelah tamat, ia kembali ke Surabaya dan bekerja di sebuah bank swasta yang namanya cukup kondang di Indonesia.

Ceritanya sangat panjang (dan siapapun takkan mau mendengarnya, membosankan), namun yang kutahu saat itu aku butuh teman untuk bicara, untuk.. "Ray, jadi inget waktu dulu." Aku pun teringat. Waktu..
Kota Xxx, Jawa Timur, 1995
Kami bertengkar hebat hari itu. Enni tidak mau lagi mendengar alasanku. Dia benar-benar marah ketika mengetahui bahwa aku melupakan janjiku untuk mengantarnya les hanya demi bandku. "Pulang, pikir dulu perbuatan kamu, baru temui aku lagi!" Huh, ya sudah, pikirku sambil beranjak keluar mengambil sepeda Federal-ku dan ngeloyor pulang. Di tengah jalan hampir saja aku terjatuh, reaksi Nipam di tubuhku masih belum hilang benar. Aku pulang ke rumah, membanting sepedaku di halaman, dan langsung menuju ke kamar. Kubuka lemariku dan mengambil sebotol Bacardi yang isinya tingal setengah. Kuambil 'tik' obat di saku belakangku. Memencet keluar dua butir terakhir, mengunyahnya sambil menenggak seteguk cairan dari botol di hadapanku. Nikmat! Anganku melayang, kujatuhkan tubuhku di tempat tidur, menunggu reaksi obat bekerja. Cih, pikirku, siapa yang butuh wanita. Kubuka retsleting celanaku, mengeluarkan batang kemaluanku, menggoyang-goyangnya sejenak dalam genggamanku sampai menegang. Kusentil ujungnya dengan telunjukku sambil tertawa kecil. Gila, aku tahu kamu protes atas ucapanku, hahahaha. Setan pun tertawa dalam jiwaku.

Kubayangkan tubuh Enni di atasku, tanpa pakaian, tubuhnya bersimbah peluh. "Ahh.. uhh.. ahh.. Ray.. ahh.. ahggh.. agg.. ahh.." kutariik-tarik kulit kemaluanku, merasakan nikmat pada ujung-ujung sarafnya. Sekarang Enni menciumi dadaku dengan ganas, menggerak-gerakkan pinggulnya, "Ahh.. mm.. mm.. hh.. ahh.. ngnggnn.. hh.." kuraasakan keringat di permukaan perutku. Nikmat, anganku semakin melayang. Bangsat hina! Kulepaskan genggamanku pada batang kemaluanku, mengeleng-gelengkan kepalaku untuk memperoleh sedikit kesadaran. Monyet!
Kuulurkan tanganku mengangkat gagang telepon yang barusan berbunyi keras sekali di pinggir kepalaku.

"Halo..?" nada suaraku terdengar penuh emosi.
"Ray? Kamu tidur..? Sori deh.." nada suara ketakutan terdengar dari seberang.
"Ah.. nggak apa-apa. It's okay," emosiku sedikit mereda.
"Kamu ada masalah apalagi dengan Enni?"
"Biasa, sifat kekanak-kanakannya belum mau hilang."
"Ya sudahlah, tadi dia nangis telpon aku.."
"Lalu? Kamu mau menyuruhku minta maaf ya?"
"Bukan gitu, Ray.."
"Ya sudah deh, aku ngantuk."
Kuletakkan gagang telepon tanpa menunggu sahutan suara di seberang. Kembali menelentangkan tubuhku, menggenggam batang kemaluanku. Hup. Ah, ya. Kuangkat lagi gagang telpon, menekan beberapa nomor.
"Nia? sori aku sedikit emosi."
"Hmm.. iya deh, tapi jangan berantem terus."
Pikiranku sedikit melayang. Obat sialan.
"Nia, jalan yuk."
"Ha? Mau kemana?"
"Curhat saja, aku pingin refreshing," sahutku sok sedih.
"Iya deh, jangan pulang malam-malam okay."
"Yop."
Kuletakkan gagang telpon ketempatnya semula, mengambil celanaku dan berpakaian.
"Ma.. aku pakai mobil," teriakku.
"Mau kemana Ray? Nanti Papa pulang loh.." mama berteriak dari dalam kamar.
"Bentar saja.." sahutku, dan langsung mengambil kunci mobil dan tanpa menunggu seruan mamaku, aku membawa mobil papa keluar rumah.
Di jalan kutenggak teh pahit yang selalu kubawa di saku jaketku. Ah, lumayan segar. Kutaruh kembali botol Vicks 44 itu ke dalam saku jaketku, dan memacu gas mobil menuju ke rumah Nia.

Kugerayangi buah dadanya, menciumi puting susu-nya, melumat bibirnya, meraba selangkangannya, "Ahh.. uh.. oh.. hkk.. jangan gitu dong, Ray. Kamu harus lebih pengertian." Kubanting stir ke kiri, memasuki jalan menuju ke luar kota yang ditumbuhi pepohonan, jalan itu terlihat sepi dan gelap.
"Bagaimana bisa pengertian kalau sifatnya seperti itu terus?"
"Yaahh.. bagaimana yah?" Nia terlihat bingung, matanya menatap jendela, melihat pepohonan yang seakan berlari.
"Memang anaknya seperti itu, Ray?" lanjutnya.
Saatnya, pikirku. Kubanting stir melewati kali kecil di bahu jalan, itu bukan masalah untuk Taft GT milik papaku.

Kurasakan Rena mengelus rambutku. Aku menangis semakin keras, mengerang dan terisak, sesekali menguap dengan gerakan sesamar mungkin, sekedar memastikan air mataku tetap keluar.
"Aku sedih.." isakku.
Yah, sedih sekali, sampai menempelkan kepalaku di pahanya.
"Ya, begitulah namanya orang pacaran, kan nggak harus senang terus.." kudengar bisikannya.
"Kamu baik.." kataku lirih nyaris tak terdengar.
Nia mencondongkan kepalanya.
"Apa..?"
Susu-nya itu loh, menempel di ubun-ubunku, seandainya aku bisa berkata begitu saat itu. Namun, aku lebih memilih untuk memutar tubuhku, mengangkat punggungku sekuat tenaga sehingga dapat menyentuh bibirnya dengan bibirku. "Hhh.. Ray.." Peduli amat, lagi enak, nih.
"Aku butuhh.. mm.." kukulum bibirnya.
"Sayanghh.." Nia membalas ciumanku.
Matanya terpejam. Kuangkat sisi tubuhku, memeluk belakang lehernya dengan telapak tanganku. Plakk! Tamparan itu telak mengenai pipiku, membuat pengaruh obat di kepalaku sejenak berkurang. "Nia.. maaf.." Aku beringsut ke bangkuku sendiri, menutup mukaku dan menangis seperti seorang anak kecil. Cukup lama dan melelahkan untuk berpura-pura seperti itu. "Ray.. aku juga minta maaf.." Akhirnya siasat ini memang tak pernah gagal.
Nia diam saja saat aku membalikkan tubuhku dan mengecup bibirnya. "Ah.. mm.." kudengar Nia mengeluh dan kulihat matanya terpejam, meninggalkan garis kepasrahan saat kugenggam susu-nya dengan telapak tanganku. Sip, pikiranku mulai bergerak cepat dalam kondisi setengah sadar. Kutempelkan telapak tangaku ke belakang lehernya, menekan kepalanya supaya aku bisa melumat bibirnya lebih dalam. "Hhh.. Nia.." kuremas dadanya di genggamanku, menikmati kekenyalannya. Nia diam saja saat kumasukkan tangaku ke dalam bajunya. "Ray.." Entah setan mana yang menyetir otakku saat itu, kuremas buah dadanya yang empuk, mengulum bibirnya dengan penuh nafsu, membuatnya terengah-engah menahan tekanan kepalaku.

Nia menurut saat. Kugandeng lengannya menuju jok belakang. Kukulum lagi bibirnya, sekarang tanganku mengangkat bagian bawah bajunya. "Ray.. hh.." Kuangkat bajunya melewati kepalanya, menciumi dadanya, menjilati BH yang menutupi payudaranya, memegang ketiaknya, mendorong punggungnya terangkat, sehingga bisa kutekan kepalaku di dadanya. "Ahh.. mmhh.. ah.. nikmatnya.." Nia mengeluh kecil saat kulepas kaitan BH-nya. Kulihat payudaranya yang membusung dan putingnya yang terlihat menggoda. Kuhisap putingnya, menyaksikan pori-porinya yang membuka saat kujilati kulit dadanya. "Ray.. hh.." kubekap mulutnya dengan bibirku, nafasku mulai terengah-engah oleh nafsuku sendiri. Kubuka baju atasku, menempelkan dadaku ke payudaranya, menekan dan menggesek, menikmati semua keluhan dan rintihannya yang tertahan ketika bibirku mengulum bibirnya.

Ah.. kenikmatan ini, kenikmatan yang selalu kuinginkan saat hatiku gundah. Kepalaku terasa sangat ringan. Kubaringkan dia di jok belakang, sambil terus menekan dadaku, memastikan dia tidak banyak bergerak. "Ray.. jangan, Ray.." Ahh, betapa aku merindukan setiap gadis yang merintih seperti itu di dekapanku. Kuteruskan membuka celana pendeknya, membiarkan pahanya terlihat jelas. Ahh, kuelus dan kuraba pahanya tanpa memperdulikan tatapan matanya yang setengah terbuka, menatap protes atas perlakuanku kepadanya. Jadi, sebelum tangannya menyingkirkan tubuhku, kuciumi lagi wajahnya, meremas payudaranya, membuatnya mengerang dan melenguh. "Ahh.. mmhh.. nnggh.." kunikmati gerakan tulang punggungnya yang terangkat. Ahh, nikmatnya. Kuraba betisnya, menelusuri kulit pahanya yang mulus, dan meletakkan telapak tanganku di permukaan belahan pahanya, beristirahat sejenak, menikmati genggamannya di pergelangan tangaku yang menguat. "Ya Tuhan.. ahh.." Sayang, jangan mendesahkan nama Tuhan sekarang, paling tidak jangan saat ini. Kuraba celah kemaluannya yang mulai basah dari balik celana dalamnya.

Menggerak-gerakkan jariku, membuatnya semakin meronta dalam tindihan dadaku. "Ray.. oohh.. hh.." Dengan gerakan halus kutarik celana dalamnya menelusuri pahanya, betisnya, menikmati geliatnya di tindihanku. Ahh.. betapa indahnya kenyataan yang akan kuberikan padamu, gadisku. Kukecup bibirnya dengan lembut, sebelum membuka ikat pinggangku dan menurunkan celanaku berikut celana dalam yang menutupi auratku.

Nia memandang mataku dengan wajah memelas memohon pengertian, namun pengertian apakah yang bisa kuberikan kepadanya saat itu? Nyaris tidak ada. Kugenggam pergelangan tangannya, menuntunnya ke batang kemaluanku yang mulai tegang tak karuan. "Aaahh.." kurasakan nikmatnya saat tangannya menempel dan menggenggam batang kemaluanku.
"Ray, aku tidak mau begini."
"Nia, please.." kukecup bibirnya, sama sekali tidak merasakan penolakannya.
"Ray.." mendadak (seperti wanita pada umumnya) Nia menekan bahuku menjauh.
"Oke," katanya.
"Aku sebenarnya juga mau."
Wah, ini luar biasa, pikirku.
"Tapi ada syaratnya.."
Sial!
"Kamu harus mau menjadi pacarku."
Aih, jadi ini masalahnya. Dapat kubayangkan hubungan persahabatan kompetitif antara Enni dan Nia, ahh.. begitu bodohkah aku?
"Okay.. as you wish.. my lady."
Ternyata begitu, hmm.. mungkinkah Nia merasa iri atas keberhasilan Enni mendapatkanku? Sempat terpikir olehku tentang apa saja yang telah diceritakan Enni kepadanya mengenai hubungan kami. Tapi.. mendadak Nia menekan leherku dengan tangannya, mengecup bibirku dengan penuh nafsu. "Ah? Mmm.." Dalam keterkejutanku, aku nyaris tidak percaya semua ini. Nia mendadak menggerak-gerakkan genggamannya pada batang kemaluanku. "Ahh.. ah.. ah.. kk.." tak dapat kutahan nikmat yang menjalar di seluruh pembuluh darahku. Kuciumi seluruh wajahnya, menjilat bibirnya yang terbuka dan terengah, menggigit lehernya, menghisap puting susu-nya dan tanpa basa-basi kuangkat tubuhku, menaikkan pahanya ke samping, dan menempelkan ujung kemaluanku di permukan liang kemaluannya. Kulihat pandangan matanya yang sayu, melihat anggukan kecilnya. Apakah ini saatnya perjalananku berhenti? Membayangkan memiliki seorang kekasih yang tak dapat kulepas lagi? Masa bodoh.

"Ahh.." kudengar ia menjerit kecil saat kutekan-tekan ujung kemaluanku ke liang kemaluannya. Namun aku masih sangat muda dan miskin pengalaman saat itu, bahkan dengan keseringanku menonton film blue aku masih tidak dapat melakukannya. Aku menjadi bingung, keringatku keluar dari dahi dan sekujur tubuhku. "Ahh.. ah.. ah.. Ray.. ah.." kudengar erangannya saat pinggulku bergerak-gerak di atasnya. Shit! bagaimana melakukannya dengan benar? Saat itu aku menjadi panik.
"Nggak mau masuk, nih.." kataku dengan alis berkerut.
"Ahh.. hidupin.. lampunya.." Nia berkata setengah tertahan.
Hah? Lampu, sempat aku celingukan seperti orang bingung menatap sekelilingku. Gila apa ya? Dalam kebingunganku, pinggul Nia terangkat menekan batang kemaluanku, membuatku sedikit mengerang.

"Ngga ah.. kamu aja yang naruh," ujarku.
"Hhh.." Nia memegang batang kemaluanku dan menaruhnya di.. entah bagian mana dari kemaluannya. Aku berusaha menekan lagi,
"Ahhkk.."
Kami mengerang bersamaan, kutekan-tekan batang kemaluanku, tanganku menggapai susunya dan meremas-remas, membuat kepalanya terangkat ke belakang.
Keringat di tubuhku semakin deras karena kurangnya ventilasi di dalam mobil, dan karena segala gerakan yang kulakukan. "Ahh.. ahh.. ah.." Nia masih mengerang-erang di bawahku. Kutekan terus batang kemaluanku berusaha menembus "apapun" juga yang menghalangi pergerakannya saat itu. Aku mulai jenuh menekan-nekan tanpa hasil. Nia mengangkat kepalanya dan memandang ke bawah. "Duh.. gimana sih.. sakit nih.." Ya gimana dong? pikirku saat itu. Kuakui aku masih buta melakukan hubungan seksual, kalau peting sih sering. "Terus.." tanyaku. Nia bangkit, mendudukkan dirinya, dan menarik pundakku.

"Coba kalau begini."
"Ahhkk.."
Kurasakan bibirnya yang menempel di dadaku.
"Ahh.. ah.."
Nia mengeluh saat tangannya menggenggam batang kemaluanku dan menaruhnya di entah bagian mana dari kemaluannya dan mendudukinya.
"Aacchh.." batang kemaluanku terasa sakit. Nia menarik punggungnya ke belakang, meletakkan tangan kanannya di atas sandaran kepala bangku depan, dan menggoyang-goyang pinggulnya yang menduduki batang kemaluanku. "Ahh.. ah.. ah.." aku mulai merasakan kenikmatan yang ditimbulkan oleh goyangannya di sekujur tubuhku.
"Ahkk.."
Tanganku mencengkeram pahanya, berusaha menahan spermaku yang hampir keluar.
"Arrgghh.."
Kusentakkan pinggulku ke atas, membuat tubuh Nia terangkat sejenak, spermaku menyembur entah kemana. Membuat mataku rabun dan pikiranku yang sudah terkontaminasi obat melayang.
Nia menggerak-gerakkan pinggulnya lagi.
"Ahh.. ahh.." kudengar nafasnya mendengus.
"Nia.. udah dong.." kataku.
Selalu begini, begitu sudah keluar, langsung saja keinginan itu hilang lenyap.
"Ha? Kan belum masuk?" kudengar Nia berbisik protes.
Kuangkat tubuhku, menatap kemaluanku yang mulai agak lemas.
"Masa?" tanyaku.
"Iya, kayaknya belum deh.." Nia menimpali.
Akh, hahahahahahaha..
"Untunglah.." kataku tanpa memperdulikan bibirnya yang terlipat.
"Ray.. duh.."
Kukenakan baju dan celanaku, melihatnya masih duduk di pojok kursi belakang tanpa pakaian dan menyilangkan tangannya di dada.
"Nih.." ujarku saat mengecup bibirnya dan dadanya.
Kuremas lubang kemaluanya sambil tertawa. Akhirnya Nia tertawa mengiringiku, dan mengenakan baju dan celananya kembali. Anehnya, pengaruh obat itu mulai terasa agak ringan sekarang.
Kuantar ia pulang ke rumahnya. Sampainya di depan pagar, kesadaranku mendadak sedikit pulih.
"Nia.. umm.. kita.."
Nia membalikkan tubuhnya,
"Aku tahu kok.. nggak pernah ada apa-apa kan?" Aku tersenyum kepadanya.
"Thanks.."
"Your welcome, Ray," jawab gadis manis itu sebelum menghilang di balik pintu rumahnya.
Ah.. what a night.
Kukendarai mobilku menembus gelap malam. Mendadak saat itu aku ingin menelepon Enni dan meminta maaf.

"Ray..?" "Ah, sorrie.." sahutku cepat.
"Eh.. Nia.. mm.. gini.." Nia tertawa melihat kegugupanku.
"Jalan yuk."
"Hah.. sure.." aku tergagap-gagap.
Selalu saja anak ini tahu maksudku. Hehehehehe!
Dalam perjalanan, Nia lalu bercerita bagaimana semenjak lulus SMU ia selalu berusaha melupakanku dan menolak setiap lelaki yang berusaha mendekatinya. Dan mengomeliku karena tidak pernah menghubungiku lagi sejak perpisahanku dengan Enni. Aku sangat terharu, karena aku juga tahu betapa ia menyayangiku, namun karena persahabatan adalah yang terpenting baginya, ia rela menyerahkan kemenangan itu kepada Enni. Ah, Nia.. seandainya saja.. Nia lalu bercerita bagaimana Mas Dita (begitu dia menyebutnya) berhasil meluluhkan gunung es dalam hatinya, dan mengajaknya bertunangan kira-kira dua bulan yang lalu. Sampai di sini aku terdiam, memandangnya tanpa berkedip, lalu kami berdua tertawa terbahak-bahak, antara sedih, kerinduan, dan kasih sayang tulus seorang teman sejati.
Masih kuingat, sebelum kuturunkan kembali ia di Gramedia (karena Dita akan menjemputnya seperempat jam lagi), Nia sempat mencium pipiku dan meremas kemaluanku dari balik celanaku, tersenyum memandangku dan berkata, "Ray berkecamuk , kita akan bersahabat selamanya.." aku hanya bisa tersenyum saat itu, semua gejolak nafsuku hilang berganti perasaan menyesal, sayang, dan haru yang di hatiku. "Tentu.. Nia.." jawabku.

Bagai Mana Dengan Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Ini Dan Baca Juga Cerita Nafsu Birahi Lainnya Di Bawah Ini:
Read more
 
Blogger Templates