Ads Header

Pages

Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex PSK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex PSK. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juli 2016

Cerita Sex Permainan Si Cantik Anggi

Cerita Dewasa IGO - Seperti biasa, sepulang dari kantor aku selalu memanfaatkan waktu untuk beristirahat di sebuah cafe yang terletak tak jauh dari kantorku. Sedang asyik menikmati juice sirsak kesukaanku, tiba-tiba salah satu dari dua HP milikku berdering. Aku lihat siapa yang meneleponku, ternyata nomornya tak aku kenal sama sekali. Dengan bermalas-malasan, aku angkat juga telepon itu.



"Halo..," aku coba bicara sesopan mungkin.
"Ya, hallo. Ini Jarot ya," ujar suara lembut dari seberang sana.
"Ini siapa ya, maaf saya tidak mengenal suara anda," jawabku dengan sedikit heran. Soalnya, sama sekali aku tidak mengenal suara tersebut, termasuk nomor teleponnya.
"Ini Anggi, kita memang belum pernah kenal kok," jawabnya semakin membuat saya heran.
"Anggi..? Trus, dari mana kamu dapat nomor HP saya," aku coba bertanya.
"Nanti kamu akan tahu juga kok. Kita bisa ketemu nggak?" ujarnya lagi.

Aku sedikit tersentak kaget. Soalnya, selain aku tidak mengenalnya sama sekali, aku juga tidak tahu apa maunya cewek itu ingin berjumpa denganku. Namun dengan masih penasaran, akhirnya aku menyanggupi permintaannya untuk bertemu denganku di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di kotaku.

Setelah menghabiskan sisa juice sirsak di hadapanku, aku langsung menghidupkan mesin mobil dan melaju arah utara, menuju pusat perbelanjaan tempat aku janjian bertemu dengannya.

Sesampai di tempat kami janjian untuk bertemu, aku coba untuk menghubungi nomor HP-nya yang masih tersimpan di HP-ku. Seketika terdengar suara dering HP milik seorang cewek cantik yang berdiri tak jauh dari tempatku berada. Seketika aku matikan kontak telepon dengannya, dan langsung menuju arah cewek itu.

"Anggi ya, saya Jarot..," aku mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Anggi," kurasakan tangannya yang lembut bersentuhan dengan tanganku.

Setelah berkenalan, aku ajak dia untuk masuk ke salah satu cafe yang ada di pusat perbelanjaan itu, sekaligus untuk mengobrol. Dari percakapannya dengannya, ia menyatakan mendapatkan nomor HP-ku dari seseorang yang katanya kenal denganku. Tapi ketika memberikan nama orang yang memberikan nomor HP-ku itu padanya, ternyata aku juga tidak mengenalnya sama sekali.

"Persetan dengan orang yang memberikan nomor HP-ku, yang penting bisa berkenalan dengan cewek cantik," ujarku dalam hati.

Dari pembicaraanku dengannya, ternyata kuketahui ia kuliah di fakultas hukum di Universitas "BH" yang cukup terkenal di kotaku, dan kost di daerah "T" yang dekat dengan bandara. Dari ceritanya, aku juga bisa menebak bahwa ia saat ini sedang kebingungan setelah ditinggal pergi sang pacar.

"Sudahlah, tak usah dipikirkan lagi. Justru kalau kamu memikirkannya terus, akan menambah beban pikiranmu," ujarku sambil coba menenangkan perasaannya dengan membelai rambutnya yang direbonding.

Dan tanpa kusadari, ternyata ia merebahkan kepalanya ke dadaku. Aku terkejut bukan main, karena tak menyangka ia akan begitu. Lalu perlahan, aku tawarkan padanya untuk pergi dari tempat itu mencari tempat yang bebas untuk bercerita. Ia setuju, dan kamipun meluncur menuju pinggir pantai.

Dalam suasana yang sejuk dan senja mulai merambat turun itu, aku memberanikan diri untuk merengkuh pundaknya. Ia terlihat pasrah, dan aku jadi makin berani untuk berbuat lebih lagi. Ku coba kembali membelai rambutnya dan mengecup lembut keningnya, terus turun ke bibirnya yang ranum.
"Ah..," dia mendesah.

Aku jadi semakin berani. Lidahku mulai keluar masuk ke rongga mulutnya, dan perbuatanku itu ternyata mendapat balasan darinya. Aku jadi semakin berani, dan tanganku coba meremas daging kenyal di dadanya, sementara ia juga terlihat mencoba menrambat ke sela-sela sudut pahaku.

Anggi terlihat mulai tak sabaran untuk bisa mengelus-elus rudalku yang sudah menegang sejak tadi. Secara perlahan-lahan, ia mencoba untuk bisa membuka resluiting celana ku, dan sesaat ia terkejut merasakan betapa besarnya punyaku.
"Oh.., besar sekali," katanya, dan aku hanya tersenyum menanggapinya sambil tanganku tetap bermain di puting susunya.

Ciuman bibirku mulai turun ke leher, dan terus turun ke bawah serta berhenti sejenak di puncak bukit kembarnya. Disini, aku permainkan puting susunya dengan lidahku, sehingga membuatnya tak kuasa menahan gejolak hawa nafsunya. Tampaknya, ia sudah tak sabaran lagi untuk melanjutkan aktivitasnya ke arah yang lebih intim lagi, karena ia sudah mulai berusaha untuk melorotkan celana dalamku.

"Jangan disini, Anggi. Kita cari tempat istirahat yang aman yuk," ajakku, yang ternyata dibalas dengan anggukan.

Tanpa pikir panjang, segera aku hidupkan mesin mobilku, dan menuju sebuah hotel "P" yang terletak di jalan Dobi bersebelahan dengan Bank BNI. Begitu masuk kamar, aku segera memeluknya dan mengulum bibirnya dengan penuh nafsu. Sementara ia kulihat sibuk membuka kancing-kancing baju kemeja yang kupakai dan kemudian melorotkan celana panjangku.

Akupun tak mau kalah. Dengan sekali tarik, aku berhasil melepaskan baju kaos yang dipakainya dan kemudian menarik resluiting celana jeans yang dipakainya, sehingga tinggallah ia hanya mengenakan BH hitam dan CD yang juga berwarna hitam.

Tanpa membuang waktu lagi, aku dorong tubuhnya ke ranjang yang berukuran besar itu setelah berhasil membuka kait BH dengan ukuran 34B di bagian belakang tubuhnya, sehingga terlihatlah dua buah gunung putih yang menyembul dengan puncaknya yang berwarna pink. Tanpa menunggu lagi, segera aku hisap puting susunya yang berwarna pink itu dan sekali-sekali memainkannya dengan ujung lidahku.

"Ah, Jarot..!" serunya.
"Anggi, mimikmu begitu indah dan kenyal. Aku sangat menyukainya," ujarku.
"Terus, Jarot. Oh, geli..," desahnya.
Mendengar desahannya itu, aku jadi semakin bernafsu. Jilatanku terus merambat turun ke pusarnya, dan terus ke gundukan di sela kedua pahanya. Dengan lihainya, aku permainkan clitorisnya yang sudah mulai menyembul dengan ujung lidahku, dan aku terus memasukkan ujung lidahku hingga ke dalam. Tiba-tiba, ia mengangat pinggulnya dan berteriak,
"Ah.., terus.. ee.. naak..!" raraunya.

Sementara aku terus mempermainkan rongga kenikmatannya, Anggi juga terlihat semakin kencang menggoyang-goyang pinggulnya. Dan tiba-tiba ia berteriak dengan kuat.
"Ah, aku.. ke.. luar..," dan terlihat tubuhnya mengejang dengan mata terpejam. Sementara di lubang kenikmatannya terlihat cukup banyak cairan yang keluar. Aku merasakan rasa asin bercampur manis dengan aroma yang harum dan terasa panas.

Dengan rakusnya, aku jilat seluruh cairan yang keluar dari rongga kewanitaannya itu, dan tubuhku terus merambat naik ke atas. Disini, aku permainkan kembali puting susunya yang terlihat begitu indah. Rasanya, tak ingin aku melepaskan bibirku dari sana.

Tak lama kemudian, aku lihat Anggi kembali menggeliat dan mendesah-desah. Ia tampak kembali terangsang dan minta aku segera memasukkan rudalku yang berukuran 16 Cm dengan diameter 3 cm itu ke lubang vaginanya.
"Ayo Jarot, Anggi sudah nggak tahan lagi," erangnya.

Tanpa menunggu lama lagi, segera aku arahkan rudalku ke lubang vaginanya. Secara perlahan-lahan tapi pasti, ujung rudalku mulai menyeruak masuk ke lubang vaginanya yang berbulu tipis itu. Aku merasakan punyaku cukup sulit menembus lubangnya yang ternyata masih sempit itu. Namun aku terus memaksanya untuk bisa masuk.
"Ah, pelan-pelan ya..," erangnya.

Kembali aku tekan kepala rudalku untuk masuk ke lubang vaginanya secara perlahan-lahan, sehingga akhirnya aku berhasil memasukkan seluruh rudalku dan merasakan ujungnya menyentuh dasar vaginanya.
"Oh, nikmat sekali," katanya sambil mendesah.

Aku semakin bernafsu untuk menggenjot terus lubang kenikmatannya mendengar desahannya. Semakin dia menceracau tak karuan, semakin kencang aku mengeluarkan dan memasukkan rudalku ke lubang kenikmatannya.
"Oh Jarot, aku.. mau.. ke.. luar lagi," desahnya.
"Tahan dulu ya sayang, aku juga.. su.. dah.. mau sampai.. Keluarkan dimana..?" tanyaku.
"Di lu.." Belum sempat ia menjawab, aku sudah tidak bisa menahannya lagi, sehingga akibatnya.

"Crot.. crot.. crot..!" beberapa kali tembakan spermaku yang cukup banyak menghantam dinding vaginanya, sementara pada saat bersamaan aku juga merasakan cairan hangat menyelimuti batang kemaluanku.

"Maaf Anggi, aku tak kuasa lagi menahannya dan spermaku tertancap di lubang vaginamu," kataku menyesali.
"Tak apa-apa, mudah-mudahan saja sekarang aku tak subur, karena jadwal datang bulanku dua hari lagi," katanya sambil memelukku sambil mengelus dadaku.
"Terima kasih Anggi, kamu telah memberikan kenikmatan yang tiada tara padaku hari ini," ujarku sambil mengecup bibirnya.
"Saya juga, rasanya beban pikiranku hari ini menjadi hilang dan berubah jadi rasa nikmat. Yuk, kita mandi berdua," ajaknya sambil menarik tanganku menuju kamar mandi.

Dan di kamar mandi itu, batang kemaluanku kembali mengeras ketika Anggi sedang mengelus-elusnya. Tanpa berbasa-basi lagi, aku menarik pinggang Anggi dan menyuruhnya menungging membelakangiku. Perlahan-lahan, aku arahkan kepala rudalku di sela-sela pantatnya yang bahenol. Sesaat, aku merasakan Anggi tersentak. Namun itu hanya sebentar, karena tiba-tiba Anggi mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya, ketika dirasakannya kepala rudalku sudah amblas semuanya.

"Ah, Jarot. Aku sampai lagi," desah Anggi tertahan.
"Aku ju.. ga..," kataku sambil menembakkan kembali spermaku ke dalam rongga kewanitaannya.
"Kapan kita bisa mengulangi seperti lagi, Jarot," ujar Anggi sambil mengecup lembut bibirku.
"Terserah kamu aja, telpon saja aku," jawabku pasti.

Setelah jam menunjukkan pukul 20.45 WIB, kami lalu check out dari hotel itu dan mengantar Anggi pulang. Di perjalanan menjelang tempat kostnya, Anggi terlihat seperti tidak ingin melepaskan tangannya dari rudalku. Sebelum sampai di tempat kostnya, aku belikan ia voucher simpati agar ia bisa menghubungiku kapanpun ia menginginkan permainan seperti tadi kembali, dan kemudian aku kembali ke rumah untuk berkumpul dengan keluargaku.

Bagai Mana Dengan Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Ini Dan Baca Juga Cerita Dewasa Lainnya Di Bawah Ini:
Read more

Kamis, 14 Juli 2016

Aku Seorang Pelacur

Cerita Nafsu Birahi - Kenalkan namaku Indah. Umurku 24 tahun. Statusku bersuami dengan 2 orang anak. Pekerjaanku pelacur. Tetapi nanti dulu, jangan mencemoohku dulu. Saya bukan pelacur kelas Kramat Tunggak apalagi Monas di Jakarta atau Gang Dolly di Surabaya. Saya seorang pelacur profesional. Oleh karena itu tarip pemakaian saya juga tidak murah. Untuk short play sebesar US$ 200, dengan uang muka US$ 100 dibayar saat pencatatan pesanan dan kekurangannya harus dilunasi sebelum pengguna jasa saya sebelum menaiki tubuh saya.



Jelasnya, sebelum kunci kamar tempat berlangsungnya permainan dikunci. Short play berlangsung 1 jam, paling lama 3 jam, tergantung stamina customer. Kalau sesudah 1 jam, sudah merasa capai, dan tidak memiliki lagi kekuatan untuk ereksi, apalagi untuk ejakulasi, artinya permainan sudah usai. Semua kesepakatan ini tertulis dalam tata cara pemakaian tubuh atau jelasnya lagi tata cara persewaan kemaluan saya. Ini sudah penghasilan bersih, sudah merupakan take home pay.

Saya tidak mau tahu soal sewa kamar, minum, makan malam dan sebagainya. Semua aturan ini saya buat dari hasil pengalaman menjadi pelacur selama 3 tahun (saya berniat berhenti menjadi pelacur dua tahun lagi, bila modal saya sudah cukup). Saya tidak pernah diskriminasi, apakah pembeli saya itu seorang pejabat atau konglomerat. Pokoknya ada uang kemaluan saya terhidang, tak ada uang silakan hengkang. More money more service, no money no service.

Biasanya para langganan yang sudah ngefans betul pada saya masih memberi tips. Setelah persetubuhan selesai, saya akan menanyakan, "Bapak (atau Mas) puas dengan layanan saya?" Jawabnya bisa macam-macam. "Luar biasa!" mengatakan demikian sambil menggelengkan kepalanya. Atau ada yang menganggukkan kepala, "Biasa!". Tetapi ini yang sering, tanpa berkata sepataHPun memberikan lembaran ratusan ribuan dua atau tiga lembar. Untuk tarip long-play atau all night, tergantung kesepakatan saja, namun tidak akan kurang dari enam ratus dolar. Itu tentang tarip.

Sekarang tentang service. Saya akan menuruti apa saja yang diminta oleh pelanggan (customer) selama hal itu tidak merusak atau menyakiti tubuh saya atau tubuh pelanggan. Dengan mulut, oke, begitu juga mandi kucing atau mandi susu yaitu memijati tubuh pelanggan dengan buah dada saya yang putih dan montok, juga oke-oke saja. Tetapi bersetubuh sambil disiksa, atau saya harus menyiksa pasangan saya, saya akan menolak.

Tiga tahun menjadi pelacur telah memberikan pengalaman hidup yang besar sekali dalam diri saya. Saya mempunyai buku catatan harian tentang hidup saya. Saya selalu menulis pengalaman persetubuhan saya dengan bermacam-macam orang, suku bangsa bahkan dengan laki-laki dari bangsa lain (Afrika, India, Perancis, dan lain-lain). Tetapi kalau selama tiga tahun saya menggeluti profesi saya itu lahir dua orang anak manusia, (masing-masing berumur 2 tahun 3 bulan dan satunya lagi 1 tahun), tentunya saya tidak bisa bahkan tidak mungkin mengetahui siapa bapak masing-masing anak itu. Cobalah dihitung, kalau dalam seminggu saya disetubuhi oleh minimal 10 orang, dalam 1 bulan ada 30 orang yang memarkir kemaluannya di kemaluan saya (1 minggu saat menstruasi, saya libur).

Tetapi ini tidak berarti anak itu tanpa bapak. Resminya anak itu adalah anak Pak Hendrik (nama samaran). Dia adalah boss tempat saya secara resmi bekerja. Seorang notaris dan sekarang sedang merintis membuka kantor pengacara. Pekerjaan resmi (pekerjaan tidak resmi saya adalah pelacur) ini cocok dengan pendidikan saya. Saya, mahasiswa tingkat terakhir Fakultas Hukum salah satu universitas swasta, jurusan hukum perdata. Tetapi nantinya saya kepingin menjadi notaris, seperti Pak Hendrik ini.

Sebetulnya saya ditawari Pak Hendrik untuk menangani kantor pengacara yang akan didirikannya tadi. Tetapi saya tidak mau. Menurut persepsi saya (mudah-mudahan persepsi saya salah) dunia peradilan di negeri kita masih semrawut. Mafia, nepotisme, sogok, intimidasi masih kental mewarnai dunia peradilan kita. Dari yang di daerah sampai ke Mahkamah Agung (ini kata majalah Tempo loh). Tetapi sudahlah itu bukan urusan saya. Lalu darimana saya kenal dengan Pak Hendrik? Itu terjadi pada tahun pertama saya menjadi pelacur.

Waktu itu saya hamil 2 bulan. Kebetulan Pak Hendrik mem-booking saya. Setelah selesai menikmati tubuh dan kemaluan saya sepuasnya, saya muntah-muntah. Itu terjadi waktu saya bangun pagi. Dia bertanya apa saya hamil. Saya jawab iya. Lalu dia bertanya siapa bapaknya. "Ya entahlah", jawab saya. Waktu itulah dia menawari pekerjaan untuk saya, kesediaan untuk secara resmi menjadi suami saya dan tentunya melegalisir bayi yang akan saya lahirkan.

Saya tidak tahu bagaimana dia mengurus tetek bengeknya di kantor catatan sipil dan bagaimana dia dapat menjinakkan isterinya. Yang jelas setelah itu tiap hari Selasa dan Kamis saya berkantor di kantor Pak Hendrik. Lalu apa keuntungan Pak Hendrik? Ya pasti ada. Tiap hari Selasa dan Kamis, dia akan sarapan kedua. Mulai dari menciumi, meraba-raba badan dan buah dada, dan terakhir menyutubuhi. Kadang-kadang saya malah tidak sempat bekerja karena selalu dikerjai oleh suami saya tersebut. (Bangunan yang dipakai sebagai kamar kerja Pak Hendrik dan saya terpisah dengan bangunan untuk ruang kerja stafnya).

Wajah saya memang cantik. Tinggi dan berat serasi, bahkan berat badan di atas angka ideal, namun terkesan seksi. Buah dada cukup besar, tetapi tidak kebesaran seperti perempuan yang menjalani operasi plastik dengan mengganjal buah dadanya dengan silikon. Kata orang saya cukup seksi tetapi dari sikap dan penampilan sehari-hari juga terkesan cerdas. Singkat kata, kalau ada perempuan laku disewa Rp 1,6 juta sekali pakai, bayangkan sendiri bagaimana penampilan, penghidangan dan rasanya. Baiklah terakhir saya ceritakan tentang pengawal saya, atau bodyguard saya.

Namanya Mulyono. Saya biasa memanggilnya Dik Mul, karena memang usianya baru 21 tahun, tiga tahun lebih muda dari saya. Orangnya tinggi, atletis dengan potongan rambut cepak, dan penampilannya seperti militer. Konon katanya, sehabis lulus SLTA Mulyono pernah mengikuti tes masuk di AKMIL, tetapi jatuh pada tes psikologi tahap 2. Orangnya sopan (asli dari Klaten, Jawa Tengah) dan disiplin, dia juga sangat loyal pada saya (saya sudah sering mengetes kesetiaannya tersebut).

Mulyono sudah saya anggap adik sendiri. Menjadi sopir pribadi, mengurus pembayaran kontrak, mengatur waktu kerja, melindungi dari berbagai pemerasan oknum keamanan dan sebagainya, pokoknya seperti sekretaris pribadi. Hanya saja dia tidak tinggal serumah dengan saya. Saya kontrakkan dekat dengan rumah saya. Selain itu dia masih mengikuti kuliah di Universitas Terbuka, Fakultas Hukum. Lalu berapa gajinya? Itu rahasia perusahaan.

Tetapi yang jelas, sebagai seorang penjaga putri cantik, atau penjaga kebun wisata, sekali waktu dia saya beri kesempatan untuk mencicipi atau menikmati keindahan kebun itu. Mula-mula dia memang menolak. Itu terjadi pada suatu malam minggu di rumah. Dia saya panggil, saya minta dia memijati badan saya. Dia menurut. Saya hanya mengenakan gaun malam tipis dengan celana dalam dan BH yang siap dilepas. Mula-mula kaki saya dipijatnya pelan-pelan, enak sekali rasanya. Rasanya tangannya berbakat untuk memijit. Kemudian naik ke betis, yang kiri kemudian yang kanan.

"Dasternya ditarik ke atas saja Dik Mul", kata saya waktu dia mulai memijat bokong.

Saya sengaja memancing nafsu seksnya sedikit demi sedikit. Sementara nafsu saya sudah mulai terbangun dengan pemijatan pada bokong tadi. Bokong saya diputar-putar, dan nafsu seks saya semakin bertambah. Terus pemijatan pada pinggang, lalu punggung. Pada pemijatan di punggung kancing BH saya lepas, sehingga seluruh punggung dapat dipijat secara merata tanpa ada halangan.

Waktu Mulyono memijat leher, dia terlhat sangat berhati-hati. Setelah saya membalikkan badan, Mul akan memulai memijat dari kaki. Tetapi saya mengatakan agar dari atas dulu. Rupanya dia bingung juga kalau dari atas mulai darimana kepala atau leher, padahal dada saya sudah terbuka sehingga kedua bukit kembar yang putih dan kekar itu terbuka dan merangsang yang melihatnya. Belum sampai dia menjawab pertanyaan saya, saya sudah mengatakan..

"Dik Mul, Mbak Indah dicium dulu yach!"
"Ach enggak Mbak jangan."
"Lho kenapa? Dik Mul nggak sayang sama Mbak ya?"

Tanpa menunggu jawaban, saya sambar leher Mul, saya peluk kuat-kuat, saya cium bibirnya. Dengan kedua kaki saya, tubuhnya saya telikung, saya sekap. Dia terlihat gelagapan juga. Lama leher dan kepala Dik Mul dalam dekapan saya. Rasanya seperti mengalahkan anak kecil dalam pergulatan karena Dik Mul ternyata diam saja. Baru setelah lima menit, Dik Mul memberikan perlawanan. Pelukan saya lepaskan. Dia mulai mencium lembut pipi saya, turun ke dagu, lalu dada, di antara kedua buah dada saya. Disapunya dengan bibirnya semua daerah sensitif di sekitar mulut, dada dan leher. Saya menikmati benar ciuman ini. Apalagi setelah bibirnya turun ke bawah di sekitar pusat, pangkal paha dan sekitar kemaluan saya.

Tanpa saya sadari tubuh saya meliuk-liuk, mengikuti dan menikmati rangsangan erotis yang mengalir di seluruh tubuh. Kemaluan saya mulai basah, menanti sesuatu yang akan masuk. Setelah puas diciumi, saya berbisik..

"Dik Mul, masukkan sekarang kemaluannya ya! Saya sudah nggak tahan.."

Dia lalu berdiri dan mulai melepaskan, baju, celana, kaus baju dan terakhir celana dalamnya. Kini penisnya terlihat utuh putih kehitaman, dengan semburat urat-urat kecil di sekitar pangkalnya. Ujungnya seperti ujung bambu runcing, lebih panjang bagian bawah. Penis itu mencuat ke atas, membentuk sudut lebih kurang 30 derajat dengan bidang horisontal.

Pelan-pelan penis itu mulai ditelusupkan di antara bibir kemaluan saya. Setelah itu ditarik secara pelan-pelan. Kemaluannya dan kemaluan saya dapat diibaratkan dua kutub magnit, pergesekannya membangkitkan arus listrik yang merambat dari kemaluan keseluruh tubuh, juga dari kemaluannya dan memberikan rasa nikmat yang sangat kepada pasangan yang sedang ber-charging tersebut. Gosokan kemaluan Mulyono yang semakin cepat membuat seluruh tubuh saya seperti terkena listrik. Kemaluan saya terasa berdenyut meremas kemaluan Mulyono.

Saya orgasme, dan ini terulang lagi beberapa kali, multi orgasme. Makin lama rangsangan itu semakin meningkat. Bersetubuh dengan Mulyono memang saya rasakan agak lain. Biasanya saya bersikap meladeni kepada para pelanggan, tetapi dengan Mulyono saya seperti diladeni, dipuaskan rasa haus saya. Gerakan keluar-masuk kemaluannya yang lambat, ciuman disekitar buah dada yang terkadang diselingi dengan menghisap-hisap putingnya, dan reaksi menggeliat-geliatnya tubuh saya, seperti suatu pertunjukkan slow motion yang mengasyikkan. Dan ketika saraf tubuh saya tak lagi kuat menampung muatan listrik itu, saya berbisik..

"Dik Mul, tembak sekarang ya!" Dan Mulyono mempercepat gesekan kemaluannya, sampai pada puncaknya kakinya mengejang. Bersama itu pula saya peluk kuat-kuat tubuh Mulyono.

Inilah puncak persetubuhanku dengan Mulyono.

Bagai Mana Dengan Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Nafsu Birahi Ini Dan Baca Juga Cerita Nafsu Birahi Lainnya Di Bawah Ini:
Read more
 
Blogger Templates