Ads Header

Pages

Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Tante Binal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Tante Binal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Oktober 2016

Digilir Tiga Tante Ku Yang Gila Sex

Cerita Nafsu Birahi - Hari itu jumat 3 desember 2014,aku pergi ke puncak bersama Keluarga.Namu bukan keluarga inti.Hanya bersama Tante saya 3 orang yang cantik-cantik.Pukul 07.00 saya sudah bangun dan bersiap-siap mandi dan membereskan barang bawaan yang akan dibawa.



Tepat pukul jam 08.30 Tante saya yang bernama Dina sms saya,Cris tante jemput jam 09.00 yaaa,jangan telat.Saya pun membalasnya akan datang tepat waktu.Perlu saya deskripsikan ketiga tante saya ini.Yang pertama bernama tante Dina dia berumur 36 tahun,tinggi badannya sekitar 170 an (mantan Peragawati),Ukuran dadanya yang membuat saya menelan ludah yaitu 36b dia sangat berpengalaman dalam urusan sex.

Yang kedua tante Mira umurnya 39 tahun tinggi badannya 175,walaupun sudah agak tua,tp dia masih seksi dengan ukuran dadanya yang masih kencang yaitu 34b.Yang terakhir tante Lina yang termuda yaitu 34 tahun dengan tinggi 165 serta ukuran dada 36b,Khusus Tante Lina,saya sudah sering bermain sex dengan dia sewaktu tante Lina berkunjung kerumah.Tante Lina adalah seorang wanita hypersex karena bisa bermain berkali-kali.

Tepat Pukul jam 09.00 Mobil tante Dina sudah ada diujung gang,langsung saja saya masuk dan duduk didepan ,tepat samping tante Dina.Saat itu saaya hanya bisa terbengong melihat ke3 tante saya itu.Tante Dina hanya menggunakan kaos ketat Mejiku dengan hot pants,saat itu tante Dina memakai Bra berenda warna biru,kelihatan karan saking tipisnya baju tante Dina.Tante Mira saat itu memakai baju gaun merah dengan potongan v necknya yang sexy.

Tante Mira sepertinya tidak memakai bra,Untuk Tante Mira dia kurang suka memakai bra,katanya tidak enak.Sementara Tante Lina lah pakaiannya yang menurut saya paling ekstrim.Dia memakai You can see Putih dan hotpants.Dibalik you can see putih itu Tante Lina memakai bra bikini hitam yang menggoda.Setelah basa-basi dengan cipika-cipiki,saya hanya mengobrol dengan Tante Dina karna Tante Mira tertidur pulas,sementara Tante Lina merokok deng Mildnya dan mendengarkan mp3nya dengan asik.

'mama apa kabar Cris' tanya tante dina...

'baik tan 'jawab aku dengan malas.

Selama 1 jam aku tertidur dimobil,sementara tante dina yang menyetir mobil dengan hati-hati.Tepat jam 1 siang kami sampai di vila yang berada dipuncak,cukup besar dengan 3 kamar plus kolam renangnya.Tante Dina,Lina dan Mira langsung masuk kamar dan langsung berenang,sepertinya mereka sudah kepanasan dengan udara diJakarta.Aku pun langsung menuju kolam renang melihat mereka yang sudah tercebur.Tante Dina memakai bikini warna ungu lengkap dengan G-Stringnya,Tante Mira memakai bikini berenda dengan warna hijau sementara Tante Lini dengan menggunakan Bikini Kuning lengkap dengan celana dalam satunnya.

Aku yang sedang berjalan dipinggir kolam tiba-tiba didorong Tante Lina,Mereka ber 3 hanya tertawaaketika aku tercebur saja ke kolam.Beberapa menit kami berennag ria sampai Tante Mira,Tanteku yang tertua sudah tidak tahan nafsu menarik celana dalam ku hingga lepas.Aku pun naik kepinggir kolam renang agar Tante Mira lepih gampang melepaskan celana dalamku itu.Sesaat kucari kemana Tante Dina dan Tante Lina,ternyata mereka sedang asyik bercinta diruang tamu yang kulihat,Tante dina tampak sedang menjilat vagina tante Lina,Perlu diketahui ke3 tante aku ini juga para lesbian.

Aku pun kembali berkosentrasi dengan tante Mira yang sudah menjilat kontolku ini,Kontolku in cukup besar dengan panjang 19 cm diameter 4 cm.Tante mira menjilat dengan lahap.Aku pun hanya mengerang dengan nikmat,setelah cukup lama,kuangkat saja tante mira keruang tamu untuk gabung dengan tante dina dan lina.Segera kubuka bikini yang membungkus tante Mira.kuciumi puting yang sudah tegak menantang,tiba-tiba aku pun disuruh tidur telentang oleh tante Mira.

Ternyata Tante Dina akan menghisap kontolku,sementara tante Lina duduk dihadapan wajahku agar aku menghisap memeknya.Tante mira sendiri memutuskan untuk merokok dahulu.Kuhisapkan saja memek tante lina yang segar kehisap-hisap sampai tante lina mengerang.Setelah cukup lama,aku memutuskan untuk mengentot tante dina terlebih dahulu.Dengan posisi doggie style,kutusukan penis ku,tante dina hanya bisa mengerang nikmat .

Perlahan-lahan kumaju-mundurkan penis ku itu...bunyi plak-plak menghiasi ruangan tamu itu,Tante dina hanya bisa mengerang nikmat.Kudengar juga desahan tante mira yang sedang menusuk-nusukan dildo gerigi ke memek tante lina.Tante dina yang mengerang kuat akhirnya orgasme untuk pertama kali,Tante dian pun terkulai lemas.Tante Mira yang sedang jongkok kutarik segera naik kepangkuan ku untuk ronde selanjutnya.

Tante Mira pun mengoyang-goyangkan pinggulnya sambil meremas-remas payudaranya.Tante Mira lalu menarik Tante Lina untuk menghisap pyudara tante lina.Tante Mira dan Tante Lina saling mendesah nikmat.Bosan dengan posisi itu aku berganti posisi dengan women on top.Tant mira pun lalu mengoyang-goyangkan pinggulnya sambil menciumi bibir ku dengan penuh nafshu.Tante mira pun mengerang hebat menandakan orgasme yang pertamanya telah mucul.Bermain dengan tante mira adalah ronde terlama dengan memakan waktu 1 jam! tane mira memang ahli soal ngentot.

Aku masih menahan agar sperma ku jangan keluar karna masih ada tante lina.Tante lina yang selagi nungging langsung saja kutusukan penis ku ini,kugoyangkan saja penisku sambil meremas payudara tante lina yang sangat ranum itu,Tidak lama kemudia tante Lina pun orgasme,lalu kucabut saja penis ku tampak ketiga tante ku berbaris untuk menyambut sperma ku yg lezat ini.kukocol-kockan saja didepan wajah mereka,dan akhirnya crottt...cortt... 10x menyembur sperma ku,yang langsung kuarahkan ketiga wajah tante ku itu.

Mereka dengan rakus dan lahap berebut sperma ku itu.Mereka saling berciuman agar mendapat sperma ku itu,sungguh sangat hot.Tante mira yang terakhir menjilati penisku sampai habis.The end.

Cerita Nafsu Birahi - Cerita Seks Terbaru, Cerita Dewasa Hot, Cerita Mesum Seru - 
Read more

Permainan Seru Dengan Tante Rini

Cerita Nafsu Birahi - Perkenalkan namaku Putrie Paramitha dan cukup panggil saja Putrie . Saat ini usiaku 20 tahun. Aku masih duduk dibangku kuliah semester 5 sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Kota Gudeg Yogyakarta. Aku ingin menceritakan pengalaman pertama bercumbu dengan sesama wanita.

Cerita panas ini dimulai pada suatu sore di akhir bulan Februari tahun 2008 lalu. Pada saat itu kedua orang tuaku pergi keluar kota untuk beberapa hari. Kedua orang tuaku sudah meminta tolong kepada tante Siska untuk menemaniku. Sore itu tante Siska datang dengan temannya yang bernama tante Rini yang berumur sekitar dua kali dari umurku.

Setelah berbasa-basi sebentar di ruang tamu, kupersilakan mereka untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan. Mereka berdua masuk ke kamar dan aku membereskan gelas minuman yang kusuguhkan kepada mereka.

Ketika aku melewati kamar mereka, kudengar suara tante Rini , “Ayo kita mulai”. Aku penasaran dengan perkataan tante Rini  sehingga aku sengaja mengintip melalui lubang kunci pintu kamar itu siapa tahu kelihatan. Memang benar kelihatan. Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan sedang saling berciuman dan saling melepas baju. Kulihat tante Rini  tidak mengenakan BH sedangkan tante Siska mengenakan BH. Mereka masih berciuman dan saling meremas payudara.



Tante Rini  meremas kedua payudara tante Siska yang masih dilapisi BH sedangkan tante Siska dengan leluasa meremas kedua payudara tante Rini  yang sudah telanjang. Aku sudah terangsang dan tanganku tanpa sadar masuk ke kaos meremas kedua payudaraku sendiri.

Beberapa saat kemudian tante Siska menghentikan remasannya pada kedua payudara tante Rini  dan melepas BH-nya sehingga kedua payudara mereka yang lebih besar dari punyaku yang 36A sudah sama-sama telanjang. Mereka melanjutkan saling meremas serta saling mencium dan aku juga makin terangsang, ingin bergabung dalam permainannya.
Tiba-tiba kedua payudara mereka sedikit demi sedikit sudah saling menempel dan mereka berpelukan. Adegan selanjutnya aku tidak melihatnya karena posisi mereka bergeser dari lubang kunci pintu kamar yang aku intip.

Aku kemudian pergi ke kamarku dan melupakan hal tersebut. Aku pergi ke kamar mandi dan ketika aku tinggal melepas CD pintu kamar mandi diketuk oleh seseorang. Aku meraih handukku dan melilitkannya di tubuhku. Kubuka pintu dan kulihat tante Rini  hanya dengan memakai kimono.
“Kamu dipanggil tante”
Pikiranku kembali ke adegan yang kulihat dari lubang kunci sehingga kujawab, “Tapi saya baru mau mandi”
Dengan harapan tante Rini  terangsang melihat keadaan tubuhku terlilit handuk kemudian mencumbuku. Ternyata tidak.

“Terserah kamu mau mandi. Tapi aku cuma disuruh”
Dia kemudian pergi dari hadapanku. Aku lalu masih berselimutkan handuk lalu masuk ke kamar tante Siska dan kulihat dia sedang tengkurap di tempat tidur hanya dengan memakai CD saja.
“Ada apa tante?”
“Kamu bisa mijit kan”
“Bisa”

Disuruhnya aku untuk duduk di atas tubuhnya dan aku mulai memijit. Aku memijit sambil membayangkan adegan yang kulihat dari lubang kunci. “Handuknya dilepas saja” Aku menoleh dan kulihat tante Rini  melepas kimononya. Dia yang juga memakai CD saja kemudian naik ke tempat tidur dan menarik handuk yang masih kupakai.
Sekarang kami bertiga sudah sama-sama setengah telanjang. Tante Rini  duduk di belakangku dan menempelkan kedua payudaranya ke punggungku. Digesek-gesekkan kedua payudaranya ke punggungku dan tangannya juga maju ke depan meremas kedua payudaraku. Aku semakin berani dan tanganku yang memijit punggung tante Siska lalu turun ke bawah meremas kedua payudara tante Siska.

Setelah beberapa menit, tante Rini lalu turun dari tempat tidur dan aku disuruhnya duduk di tepi tempat tidur. Tante Siska juga turun dan berdiri di belakang tante Rini . Mereka melepas CD mereka masing-masing. Tangan tante Siska dari belakang meremas kedua payudara tante Rini . Kemudian salah satu tangannya turun ke bawah. Jarinya masuk ke vagina tante Rini  yang sudah basah. Aku sendiri juga semakin basah sehingga kulepas CD-ku. Tapi aku tidak mau ikut bergabung. Takut keasyikan mereka terganggu.

Sekarang mereka sudah saling berhadapan dan berpelukan sambil berciuman serta saling meremas pantat. Jari tante Rini dimasukkan ke pantat tante Siska begitu pula sebaliknya. Mereka serentak melepaskan ciumannya dan mendesah bersama-sama. Tante Rini  melepaskan pelukan tante Siska dan menyuruhku untuk tiduran. Dia kemudian mencium bibirku dan aku membalasnya. Lidahku masuk ke mulutnya dan saling menjilat. Tangannya meremas kedua payudaraku dan perlahan-lahan kemudian turun ke bawah. Dia menerima sesuatu dari tante Siska. Kulihat penis buatan ada di tangannya. Kemudian penis buatan yang besar itu perlahan-lahan dimaukkan ke vaginaku.

Pertama hanya dimasukkan 2 cm, kemudian ditariknya lagi. Lalu dikeluar-masukkan lagi lebih dalam sampai 7 cm. Dan dikocoknya vaginaku sedangkan mulutnya menghisap payudara kiriku. Aku menikmati perlakuan tante Rini  dan kulihat tante Siska ikut bergabung. Dia mulai mencium bibirku, kemudian turun ke bawah menghisap payudara kananku sedangkan tangannya yang juga memegang penis buatan memasukkannya ke mulutku dan dikeluar-masukkan.

Beberapa saat kemudian tante Rini  menghentikan mengocok vaginaku tetapi penis buatan itu ditinggalkannya. Tante Siska juga berhenti mengeluar-masukkan penis buatan ke mulutku. Tante Siska lalu tengkurap di atasku sambil penis buatan yang masih ada di vaginaku dimasukkannya ke vaginanya kemudian dia naik turun. Seolah-olah aku adalah laki-laki dengan penis besar.

Setelah beberapa menit dia terlihat lemas kemudian tidur di atasku. Kedua payudara kami saling menempel. Kurangsang dia dengan ciuman di bibirnya. Dia mulai terangsang dan memelukku sambil pindah posisi. Tante Siska di bawah dan aku di atas. Aku merasakan ada sesuatu masuk ke lubang pantatku. Ternyata tante Rini  telah tidur di atasku dengan penis buatan di vaginanya yang dimasukkan ke pantatku. Permainan ini berlanjut sampai tengah malam secara bergantian. Aku dengan tante Rini , aku dengan tante Siska, tante Rini dengan tante Siska, serta kami bertiga bercumbu bersama-sama. Kami bertiga sangat menikmati permainan ini terutama aku yang baru pertama kali melakukannya.
Read more

Jumat, 30 September 2016

Tante Rentenir Yang Nikmat

Cerita Nafsu Birahi - Namaku Dandi usiaku sekarang 25 tahun. aku ingin menceritakan pengalaman pertamaku saat pertama kali aku melepas keperjakaanku…tepatnya sebelas tahun yg lalu, tahun 1995.
waktu itu aku baru berumur 14th..

Siang itu aku sedang tidur2an didepan tv ketika seorang datang dan mengetuk pintu rumahku, ketika kubuka pintu..kulihat seorang wanita berusia 35 tahunan dan menanyakan “ibunya ada dik?”…
lalu ku jawab “maaf, tante siapa? ibu ada dikamar, sebentar saya panggilkan”
sambil tersenyum dia bilang “saya ratna, temannya ibu kamu dari cilandak..”

itulah awal perkenalanku dengan tante ratna, yg belakangan baru aku ketahui bahwa dia adalah “rentenir”, dan ibuku terlilit hutang yg lumayan banyak sama dia…terus terang kehidupan kami dikala itu sangatlah sulit… semenjak ayahku yg lebih memilih meninggalkan ibuku demi istri baru, aku bersama kakak dan adik2ku hanya tinggal dirumah petakkan, dan hidup dengan sangat kekurangan…



hari2 terus berlalu, semakin sering aku bertemu dengan tante ratna, karena hampir setiap hari dia selalu kerumah untuk menagih cicilan hutang…

Pagi itu hari minggu 12 april 1995 (masih ku ingat jelas)
aku baru saja bangun tidur, sambil menikmati secangkir teh manis hangat..
sampai kudengar langkah kaki menuju pintu depan rumahku, belum saja dia mengetuk, pintu sudah kubuka…
aku : “eh tante..cari ibu ya?”
tante ratna : “iya,masih dirumah nggak? tante kesiangan nih…tante bilang sih jam 9 mau kesini, sekarang udah jam 10 lebih”
aku : “iya, ibu lagi nganter adik2 tuh ke gereja kayaknya…saya aja baru bangun nih, mungkin sebentar lagi tan…tunggu saja kalo mau”
tante : “gitu ya? ya udah deh tante tunggu aja…”

setelah kupersilahkan duduk, aku pun ke dapur untuk membuatkan minuman untuknya…
Tante : “wah repot2 kamu Di…tante kan bisa ambil sendiri..”
aku : “gak apa2 tante…gak repot kok”
Tante : “kamu sendirian dirumah?”
aku : “iya nih tan, aku aja baru bangun..tau2 udah gak ada siapa2, kakak aku sih biasa dia kalo hari minggu ngajar karate di sekolahan..”
tante : “oh gitu…lha kamu sendiri gak kemana-mana? ”
aku : “nggak tan, kalo aku paling dirumah aja nonton tv atau kerumah temen di sebelah..”
tante : “gak pacaran?..eh ngomong2 udah punya pacar belum kamu?”
aku : “hehehehe…masih kecil tan, belum bisa cari uang sendiri, aku gak mau pacaran, nanti kalo udah kerja baru deh..”
tante : “masih kecil gimana? emang umur kamu berapa?”
aku : “aku khan baru 14th tan..baru kelas 3 smp”
tante : ” hah..14th kok bongsor ya? tante kira kamu sma..hehehe”
aku : “ah tante bisa aja…emang sih banyak yg bilang kalo aku bongsor, maaf tan..permisi sebentar aku tinggal mandi dulu gak apa2 ya..”
tante : “wah belom mandi ya? ih pantesan bau..hehehe, ganteng2 kok jorok belum mandi, ya udah mandi aja sana…apa mau tante yg mandiin?
(sambil tersenyum nakal)
aku : “ah tante bisa aja…sebentar ya tan..” tapi belum sempat aku berdiri dari tempat dudukku, tangan tante ratna langsung menarik tangan ku…
tante : “sebentar sini Di..tante gak bercanda kok, mau nggak tante mandiin..
enak loh..beneran deh gak bohong”…
seketika itu juga jantungku berdegup kencang, mukaku memerah ketika tante ratna meletakkan tangannya di pahaku..

tante : “beneran kok Di, tante janji deh gak cerita siapa2…kamu gak usah takut..tante khan gak galak hehehehehe…sini deh” tangan kanan tante menarik pinggangku, seraya menyuruhku untuk lebih rapat duduk didekatnya,
aku masih membisu tak dapat berkata apa2 ketika tangan kirinya sudah masuk kedalam celanaku dan meremas buah zakarku…
aku : “aah tante” (sambil merintih keenakkan ketika ia memainkan buah zakarku)
tante : ” tenang aja ya sayang…pokoknya tante jamin enak deh” bisik tante ratna sambil menjilat telingaku…kemudian leherku, akupun mengerang ketika dia menghisap pentil dadaku…
aku : “tante…akh…hmmmnnn…aaaak h…”
kemudian bibirnya terus menciumi perutku, dan aku makin tak kuasa ketika kepala penisku mulai dijilati dan dikulum-kulum olehnya…aku hanya bisa mengerang tanpa bisa menolak apalagi berontak…saat tante ratna melahap buah zakarku, dan memainkannya dengan lidahnya…ooohh…kemudian tante mulai membuka baju dan roknya…aku pun makin terpana dengan kemontokkan tubuhnya…payudaranya…ooh tante…

tante : “sini sayang…kamu jilatin ini ya” sambil mendorong kepalaku kearah vaginanya yg ditumbuhi bulu2 halus…aku pun langsung saja menjilati vagina tante ratna dengan rakus…
tante : “OOOhhh…dandi…terus sayang…ooohh…jangan berhenti sayang…ooooh…iya sayang disitu…iya terus…terus..terus…oaaaahh ….”
setelah beberapa menit kujilati vaginanya…
tante : ” kamu hebat Di…” tante ratna meregangkan kedua kakinya, sambil menarik penisku… “sini sayang, masukkan kesini…aaaaahhh…” ia pun mengerang, ketika penisku mulai masuk ke dalam vaginanya, sambil kedua tangannya mendorong dan menarik pantatku…tante ratna terus mengerang
” Ooooh Dandi…terus sayang…Oooh Tuhan…Aaaahhhkh..”

setelah beberapa menit, aku langsung merasakan ketegangan, seluruh tubuhku terasa kaku…dan akhirnya, Aaaaaaakkkhhhh….tapi tangan tante ratna terus menekan pantatku sehingga aku “keluar” di”dalam”nya…dan kemudian dia membiarkan aku terkapar lemas diatas tubuhnya,
tante: “hehehe…kamu jagoan Di..” sambil mencium keningku…” tante janji, gak akan bilang siapa2 sayang…kamu nggak usah takut..ini rahasia kita berdua ya sayang…”
aku : “tapi gimana kalo ibu aku tau? atau suami tante?..”
tante : “nggak, mereka nggak bakal tau…tenang aja ya sayang…pokoknya tante janji deh…terus terang tante sudah “kepingin” sama kamu dari dulu…akhirnya dapet juga..hehehehe…”

Setelah kejadian pagi itu, kami pun semakin sering melakukannya di setiap ada kesempatan, tante ratna mengajariku bermacam gaya…dari foreplay dan seterusnya…dan setiap kali aku orgasme, tante ratna selalu menyuruhku untuk orgasme di dalam vaginanya, dia bilang lebih nikmat rasanya… bahkan kadang dia menyuruhku untuk “keluar” di mulutnya…awalnya aku takut kalo nanti dia hamil, ternyata tante ratna jujur padaku bahwa sesungguhnya dia tidak akan pernah bisa mempunyai keturunan (mandul) dan kedua anaknya yg masih kecil2 adalah anak hasil adopsi…

Berhubungan dengannya perlahan kehidupan ekonomi keluargaku membaik…walaupun aku selalu berbohong pada ibuku, mengenai uang yg tante ratna sering berikan kepadaku…selain itu diapun memenuhi segala macam kebutuhan sekolahku dari keperluan membeli buku, sampai membiayai uang sekolah untuk masuk SMU, malahan sejak kami berhubungan dia tidak pernah lagi menagih hutang ke ibuku, padahal jumlahnya hampir 30jt.

Tiga tahun aku menjalin hubungan dengan tante ratna, sampai saat krisis moneter menimpa indonesia, tante ratna memutuskan pindah ke solo bersama suami dan kedua anak angkatnya…

sampai sekarang aku tak pernah lagi mendengar kabar beritanya…
karena semenjak krisis moneterpun rumahku pindah ke daerah yg lebih terpencil.
Read more

Rabu, 28 September 2016

Tante Polwan Cantik Yang Bergairah

Cerita Nafsu Birahi - Pada saat itu, aku sedang mengendarai motor di jalan Soekarno-Hatta. Aku tidak memakai helm karena aku terburu-buru pergi ke tempat pacarku. Apesnya, aku dicegat sama polisi. Polisi itu naik mobil, tiba-tiba memotong jalanku, aku kaget hampir saja kutabrak mobil polisi itu. Aku rem motorku, karena terjadi hentakkan, jadi tubuhku hilang keseimbangan lalu aku jatuh dari motorku.

Aku terguling-guling di jalan. Tapi syukurlah hanya lecet biasa. Pada saat aku masih dalam keadaan telungkup, aku lihat pintu mobil polisi itu terbuka. Tapi anehnya, aku sepertinya kok melihat kaki seorang wanita. Kakinya yang putih mulus dan indah itu kini berada tepat di wajahku, kutegakkan kepalaku. Betapa kagetnya aku, mataku seperti melihat “hutan belantara” di antara kedua kaki yang jenjang itu.

Setelah kuperhatikan baik-baik, ternyata dia seorang polisi wanita, pangkatnya Letnan Dua dan di dada kirinya tertulis namanya, LILIS. Dia sangat cantik dan ohh.., body-nya mirip gitar Spanyol. Aku jadi bengong, dan, “Plaaakkk..!” sebuah tamparan mendarat di pipiku. “Hei, apa yang Kamu lihat..? Ayo sekarang serahkan SIM dan STNK cepet..!” bentaknya. Aku jadi kaget dan segera kuambil dompetku, lalu kuambil SIM dan STNK, lalu kuserahkan padanya. Sementara dia melihat suratku, aku pandangi lagi dia ohh.., betapa cantik polisi cewek ini. Aku duga umurnya paling masih sekitar 25 tahun, seumur dengan kakakku.

Samar-samar di dalam mobil ada cewek satu lagi, dia seumur dengannya tetapi pangkatnya lebih rendah, kalau tidak salah sersan dua. Kakinya putih tetapi tidak semulus polwan yang tadi. Lalu tanpa kusadari, Letnan Lilis mengambil sesuatu dari dalam mobil, dia berjalan menuju hidung mobil, lalu dia membungkukkan badannya untuk menulis sesuatu. Pada posisi nungging, aku lihat lagi body-nya yang wuih selangit deh… Tanpa kusadari, “adik kecilku” membengkak perlahan. Setelah itu dia tegakkan badannya, terus berkata, “Eee.. saudara Sony, Anda Kami tilang karena Anda tidak memakai helm dan ngebut.



Sidang akan dilaksanakan besok lusa. Jangan lupa Anda harus hadir di persidangan besok. Oke..?” “Tapi Bu, besok lusa Saya tidak bisa hadir, soalnya pada hari itu Saya harus mengantar pacar yang akan diwisuda. Jadi Saya minta tolong sama Ibu, bagaimana dech baiknya agar persoalan ini selesai..?” Lalu dia bilang, “Do you have some money..?” “Aduh, maaf sekali Bu, Saya sama sekali tidak membawa uang sepeser pun.” jawabku. “Baiklah, kalau gitu SIM-mu Aku tahan untuk sementara, tapi nanti malam Kamu harus pergi ke rumah Saya. Dan ingat..! Kamu harus datang sendiri. Oke..? Ini alamatku. Jangan lupa lho, Aku tunggu jam 19:00.” Dia pergi sambil mengerdipkan matanya kepadaku. Aku kaget, tetapi happy banget, pokoknya senang dech. Aku sampai di rumahnya sekitar jam 19:00 dan langsung mengetuk pintu pagarnya yang sudah terkunci.

Tidak lama kemudian, Ibu Lilis muncul dari dalam dan sudah tahu aku akan datang malam itu. “Ayo Son.., masuk. Aku sudah lama nunggu lho, sampai basah dan bau keringat pantatku duduk terus dari tadi..” sapanya. “Akkhh.. Ibu bisa saja…” jawabku. “Sorry.., pintunya sudah digembok, soalnya Aku tinggal sendiri, jadi harus hati-hati.” sambutnya. “Oh.., jadi Ibu belum menikah too..? Sayang lho..! Wanita secantik Ibu ini belum menikah..” kataku merayu. “Aaaa.. Kamu merayu ya..?” tanyanya. “Enggak kok Bu, Saya berkata begitu karena memang kenyataannya begitu. Coba Ibu pikir, Ibu sudah mapan hidupnya, cantik luar-dalam, dan sebagainya dech…” jelasku. “Ehhkk.. Aku cantik luar-dalam, apa maksud Kamu, Aku cantik luar-dalam..?” tanyanya lagi. “Waduh.., gimana ya, malu Aku jadinya..?” jawabku.

“Kamu nggak perlu malu-malu mengatakannya, Kamu ingin SIM Kamu kembali nggak..?” ancamnya.”Eee.. sekarang gini aja, Kamu udah punya pacar khan..? Sekarang Saya tanya, kenapa Kamu memilih dia jadi pacar Kamu..?” tanyanya lagi. “Eee.. jujur aja Bu, dia itu orangnya cantik, baik, setia dan cinta sama Saya, that?s all..” “Kalau seumpama Kamu disuruh milih antara Saya dan pacar Kamu, Kamu pilih Saya atau pacar Kamu sekarang..? Bandingkan aja dari segi fisik, Oke.. Saya atau Dia..?” tanyanya memojokkanku. “Eeee… Anu.. anu… eee..,” aku dibuat bingung tidak karuan. “Ayo.. jawab aja..! Kalau Kamu tidak jawab, SIM Kamu tidak kukembalikan lho..!” ancamnya lagi. “Waduhhh.., gimana ya..? Ehmmm.., baiklah, Saya akan jawab sejujurnya. Saya tetap akan memilih pacar Saya sekarang.” jawabku.

“Wow.., kalau begitu dia lebih cantik dan semok dong dari Saya..?” jawabnya lirih. “Eeee.. bukan begitu Bu, Saya memilih pacar Saya walaupun Dia sebetulnya kalah cantik dari Ibu, dan segalanya dech..!” jawabku. “Akhh… yang benar, jadi Aku lebih cantik dan semok dari Dia..?” tanyanya lagi. “Jujur saja.., ya.. ya.. ya..” jawabku mantap. “Ohhh.., Aku jadi tersanjung dan terpikat dengan jawabanmu tadi..,” katanya girang, “Wah.. jadi lupa Aku, Kamu nonton TV aja dulu di ruang tengah, Aku mau ambil SIM Kamu di kamar.., Oke..?” pintanya. Lalu aku menuju ke ruang tengah, kuputar TV. Secara tidak sengaja, aku melihat tumpukan VCD. Aku tertarik, lalu kulihat tumpukan VCD itu, lalu, ohhh astaga, ternyata tumpukan VCD itu semuanya film “XXX”, aku terkejut sekali melihat tumpukan film “XXX” itu.

Sebelum aku melihat satu-persatu, terdengar bunyi pintu dibuka. Lalu, ohhh, aku terkejut lagi, Ibu Lilis keluar dari kamarnya hanya menggenakan daster pink transparan, di balik dasternya itu, bentuk payudaranya terlihat jelas, terlebih lagi putting susunya yang menyembul bak gunung Semeru. Begitu ia keluar, mataku nyaris copot karena melotot, melihat tubuh Ibu Lilis. Dia membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas. “Kenapa..? Ayo duduk dulu..! Ini SIM Kamu.. Aku kembalikan..” katanya. Wajahku merah karena malu, karena Ibu Lilis tersenyum saat pandanganku terarah ke buah dadanya. “SIM Kamu, Aku kembalikan, tapi Kamu harus menolong Saya..!” Ibu Lilis merapatkan duduknya di karpet ke tubuhku, aku jadi panas dingin dibuatnya. “Sonnn..?” tegurnya ditengah-tengah keheninganku. “Ada apa Bu..?” tubuhku bergetar ketika tangan Ibu Lilis merangkulku, sementara tangannya yang lain mengusap-usap daerah “XXX”-ku.

“Tolong Ibu Lilis ya..? Dan janji, Kamu harus janji untuk merahasiakan hal ini, kalau tidak aku DOR Kamu..!” pintanya manja. “Tapi… Saya.., anu.., eee..” “Kenapa..? Ooooo.. Kamu takut sama pacar Kamu ya..?” katanya manja. Wajahku langsung saja merah mendengar perkataan Ibu Lilis, “Iya Bu…” kataku lagi. “Sekarang Kamu pilih disidang atau pacar Kamu..?” ancamnya. Dia kemudian duduk di pangkuanku. Bibir kami berdua kemudian saling berpagutan. Ibu Lilis yang agresif karena haus akan kehangatan dan aku yang menurut saja, langsung bereaksi ketika tubuh hangat Ibu Lilis menekan ke dadaku. Aku bisa merasakan puting susu Ibu Lilis yang mengeras. Lidah Ibu Lilis menjelajahi mulutku, mencari lidahku untuk kemudian saling berpagutan bagai ular. Setelah puas, Ibu Lilis kemudian berdiri di depanku yang dari tadi masih melongo, karena tidak percaya pada apa yang sedang terjadi.

Satu demi satu pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yang polos tanpa sehelai bnenangpun seakan akan menantang untuk diberi kehangatan olehku. “Lepaskan pakaiannmu Sonnn..!” Ibu Lilis berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya. “Ayooo.. cepat dong..! Aku udah gatel nich.. ohhh..” Ibu Lilis mendesah tidak sabar. Aku kemudian berlutut di sampingnya. Aku bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena malu. “Sonnn.. letakkan tanganmu di dadaku, ayo ohhh..!” pintanya lagi. Dengan gemetar aku meletakkan tanganku di dada Ibu Lilis yang turun naik. Tanganku kemudian dibimbing untuk meremas-remas payudara Ibu Lilis yang super montok itu. “Oohhh… enakk.., ohhh… remas pelan- pelan, rasakan putingnya menegang..” desahnya. Dengan semangat aku melakukan apa yang dia katakan.

Lama- lama aku jadi tidak tahan, lalu, “Ibu.. boleh Saya hisap susu Ibu..?” Ibu Lilis tersenyum mendengar pertanyaanku, dia berkata sambil menunduk, “Boleh Sayang… lakukan apa yang Kamu suka..” Tubuh Lilis menegang ketika merasakan jilatan dan hisapan mulutku yang sekarang mulai garang itu di susunya. “Oohhh… jilat terus Sonnn..! Ohhh…” desah Ibu Lilis sambil tangannya mendekap erat kepalaku ke payudaranya. Aku lama-lama semakin buas menjilati puting susunya, mulutnya tanpa kusadari menimbulkan bunyi yang nyaring. Hisapanku semakin keras, bahkan tanpa kusadari, aku menggigit-gigit ringan putingnya yang ohhh. “Mmm… nakal Kamu…” Ibu Lilis tersenyum merasakan tingkahku yang semakin “Jozzz” itu. Lalu aku duduk di antara kedua kaki Ibu Lilis yang telah terbuka lebar, sepertinya sudah siap tempur. Ibu Lilis kemudian menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangya.

“Ayo, sekarang Kamu rasakan memekku..!” ia membimbing telunjukku memasuki liang senggamanya. “Hangat, lembab, sempit sekali Bu…” kataku sambil mengucek kedalaman liang kenikmatannya. “Sekarang jilat ‘kontol kecil’-ku..!” katanya. Pelan-pelan lidahku mulai menjilat klitoris yang mulai menyembul tinggi sekali itu. “Terus.. ooohhh.. ya.. jilat.. jilat. Terus.. ohhh…” Ibu Lilis menggerinjal-gerinjal keenakan ketika kelentitnya dijilat oleh mulutku yang mulai asyik dengan tugasnya. “Gimana.., enak ya Bu..?” aku tersenyum sambil terus menjilat. “Oohh.. Soonnn…” tubuh Ibu Lilis telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya merintih-rintih keenakan.

Lidahku semakin berani mempermainkan kelentit Ibu Lilis yang makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahanannya akan segera jebol. Dan aku akan unggul 1-0, ee… emangnya main bola. Lalu, “Oooaaahhh… Sooonnn..!” Tangan Ibu Lilis mencengkeram pundakku yang kokoh bagaikan tembok raksasa di China, sementara tubuhnya menegang dan otot- otot kewanitaannya mulai menegang, dan muncratlah ‘lahar’Ibu Lilis di mulutku. Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yang telah kuberikan. Hmmm… Kamu sungguh lihai Soonnn… Sekarang coba gantian Kamu yang berbaring…” katanya. Aku menurut saja.

Batang kejantananku segera menegang ketika merasakan tangan lembut Ibu Lilis yang mulai mempermainkan senjata keperkasaanku. “Wah.. wahh… besar sekali. Oh my god… Ohhh…” tangan Ibu Lilis segera mengusap-usap batang keperkasaanku yang telah mengeras tersebut. Segera saja benda besar dan panjang itu mulai berdenyut-denyut dan dimasukkan ke mulut Ibu Lilis. Dia segera menjilati batang kemaluanku itu dengan penuh semangat. Kepala kejantananku itu dihisapnya keras-keras hingga aku jadi merintih keenakan. “Ahhh… enakkeee.. rekkk..!” aku tanpa sadar menyodokkan pinggulku untuk semakin menekan senjata keperkasaanku agar makin ke dalam mulut Ibu Lilis yang telah penuh oleh batang kejantananku.

Gerakanku makin cepat seiring semakin kerasnya hisapan Ibu Lilis. “Ooohhh Bu.. oohhh.. mulut Ibu memang sakti.. ohhh.. I?m coming… ohhh…” Muncratlah laharku di dalam mulut Ibu Lilis yang segera menjilati cairan itu hingga tuntas.. tas.. tas.. plass. “Hmmmm… agak asin rasanya Son punyamu.., tapi enak kok…” Ibu Lilis masih tetap menjilati kemaluanku yang masih tegak bagaikan tugu Monas di Jakarta, menara Piza di Italy, menara Eiffel di Paris. “Sebentar ya.., Aku mau minum dulu..” katanya setelah selesai menjilati batang kejantananku. Ketika Ibu Lilis sedang membelakangiku sambil menenggak air putih dari kulkas. Aku melihat body yang wuih dan itu ohhh, pantat yang bulat. Aku memang suka pantat yang bulat dan menantang.

Aku tidak tahan cuma melihat dari jauh, lalu aku berdiri dan berjalan menghampirinya, lalu mendekapnya dari belakang. “Sonnn.. jangan nakal dong, biar Ibu minum dulu..!” katanya manja. “Aku tidak tahan melihat pantat ibu yang bulat dan menantang itu.” kataku tak sabaran. “Kamu suka pantatku, kalau gitu Kamu tentu mau kalau nanti pantatku mendapat giliran untuk Kamu obok-obok, bagaimana Son..? Mau ngobok- ngobok pantat Ibu..?” tanyanya. Aku terima tantangannya. “Ohhh.., memang benar- benar wuihhh…” aku berkata sambil mengelus-elus pantat Ibu Lilis. Lalu aku jongkok agar dapat jelas melihat, kusentuh lembut pantat itu dengan tanganku. Terus kucium, kuelus lagi, kucium lagi terus kujilat, lalu kubuka belahan pantat itu.

Ohhh.., terhampar pemandangan indah dengan bau yang khas, lubang yang sempit, lebih sempit dari yang di depan dan sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu yang lumayan lebat. Lalu kujulurkan jari telunjukku ke lubang yang sempit itu. Waktu aku coba memasukkan jariku ke lubang itu, terdengar jeritan kecil Ibu Lilis. “Son.., jangan keras-keras ya, nanti sakit.. lho…” Lalu aku mulai memasukkan step by step. Waktu jariku menembus lubang itu sepertinya tanganku mau disedot masuk ke dalam. “Lubang Ibu nakal juga ya, masa jariku mau dimakan juga..?” “Akhhh… Kamu nakal dech.., ohhh Son.. coba sekarang Kamu jilat ya..?” pintanya. Lalu kutarik jariku dari dalam lubang itu, lalu aku mulai menjilati lubang itu ehhmm.., lumayan juga rasanya, asin-asin gurih. Sementara itu, Ibu Lilis terdengar merintih keenakan.

Lama-lama aku tidak sabar, dan terus kuberdiri dan tanpa basa-basi, aku langsung membalikkan badannya. Terus kulahap gundukan-gundukan daging di dada Ibu Lilis dengan nikmat. Sementara itu, Ibu Lilis mulai mendesah-desah dan menggelinjang. Kepalanya mendongak ke atas dan matanya terpejam. Goyangan- goyangan lidahku yang terus menjilati puting susu Ibu Lilis yang tinggi dan lancip begitu bertubi-tubi tanpa henti. Ibu Lilis menggerinjal-gerinjal dengan keras. “Aaahh… uuuhhh… uuuhhh…” desahan- desahan kenikmatan semakin banyak bermunculan dari mulut Ibu Lilis.

Geliat- geliatan tubuhnya semakin menjadi-jadi karena merasa sensasi yang luar biasa akibat sentuhan-sentuhan mulut dan lidahku pada ujung syaraf sensitif di payudaranya. Urat-urat membiru pun mulai menghiasi dengan jelas seluruh permukaan payudara yang super montok itu. Masih dengan mulutku yang tetap berpetualang di dada Ibu Lilis yang juga masih menggelinjang, aku membopong Ibu Lilis ke kamar. Kujatuhkan tubuh Ibu Lilis di atas kasur spring bed yang sangat empuk. Saking keras jatuhnya, tubuhnya yang aduhai itu sempat terlontar-lontar sedikit sebelum akhirnya tergolek pasrah di atas ranjang itu.

Setelah itu, Ibu Lilis tetelentang di kasur dengan kaki-kakinya yang jenjang terjulur ke lantai. Tubuh bugilnya yang putih dan mulus beserta payudara yang montok dengan puting susu nan tinggi yang teronggok kokoh di dadanya, memang sebuah pemandangan yang amat menawan hati. Lalu aku berlutut di lantai menghadap selangkangan Ibu Lilis. Kurenggangkan kedua kakinya yang menjejak di lantai. Dengan begitu aku dapat memandang langsung ke arah selangkangannya itu. Bulu-bulu kemaluan yang tumbuh di padang rumput tipis yang menghiasi wilayah sensitif itu begitu menggelora nafsu birahiku. Aromanya yang segar dan harum membuat nafsuku itu kian meninggi. Kudekatkan mulutku ke bibir vaginanya dan kujulurkan lidahku untuk mencicipi lezatnya lubang itu.

Tubuh Ibu Lilis terlonjak keras ketika kucucukkan lidahku ke dalam liang senggamanya. Kukorek-korek seluruh permukaan lorong yang gelap itu. Begitu hebat rangsangan yang kubuat pada dinding lorong kenikmatan tersebut, membuat air bah segera datang membanjirinya. “Ooohhh… uuuhhh… aaahhh…” terdengar rintihan Ibu Lilis dari mulutnya yang megap-megap setengah membuka. Kemudian aku berdiri. Dengan tangan bertumpu ke atas kasur, kucoba mengarahkan ujung penisku ke lubang vagina yang lumayan sempit yang tampak licin dan basah milik Ibu Lilis. Berhasil. Perlahan-lahan kuhujamkan batang kemaluanku ke dalam liang senggama itu. Tubuh Ibu Lilis berkejat- kejat dibuatnya merasakan nikmat penetrasi yang sedang kulakukan saat ini. “Aaahhh… ooohhh…” tak ayal jeritan- jeritan mengalir dari mulutnya.

Akhirnya batang keperkasaanku amblas semua ke dalam liang gelap yang berdenyut-denyut milik Ibu Lilis diiringi dengan jeritannya. Kenikmatan ini kian bertambah menjadi- jadi setelah aku melakukan penetrasi lebih dalam dan intensif lagi. Gerakan memompa dari batang kejantananku di dalam kemaluan Ibu Lilis semakin kupercepat. Terdengar suara kecipak-kecipak dan lenguhan kami berdua karena terlalu asyiknya kami bersenggama. Seiring dengan tangan yang kembali meremas- remas perbukitan indah yang menjulang tinggi di dada Ibu Lilis, batang kejantananku terus melakukan serangan- serangan yang tanpa henti di dalam lubang senggamanya yang bertambah kencang denyutan-denyutannya.

Vagina memerah yang terus berdenyut-denyut dan amat licin akibat begitu membanjirnya cairan- cairan kenikmatan yang keluar dari dalamnya, terasa menjepit bnatang kejantananku. Demikian sempitnya ruang gerak penisku di dalam lorong gelap itu, menjadikan gesekan-gesekan yang terjadi begitu mengasyikkan. Ini merupakan sensasi sendiri bagiku yang merasakan batang keperkasaanku seperti merasa diurut-urut oleh seluruh permukaan dinding vaginanya. Mulutku pun tak henti-hentinya menyuarakan desahan-desahan kenikmatan tanpa bisa dihalangi lagi. “Oiiihhh… Sooonnn… ohhh…” Ibu Lilis menjerit-jerit tidak karuan, sementara tubuhnya juga melonjak-lonjak dengan keras. Sekuat tenaga kuhujam-hujam penisku dengan lebih ganas lagi ke dalam liang senggamanya.

Rasanya hampir habis tenaga dan nafasku dibuatnya. Tetapi nafsu birahi yang begitu menggelora tampaknya membuatku lupa pada kelelahanku itu. Ini dibuktikan dengan sodokan kejantananku yang berusaha menusuk sedalam-dalamnya. Bahkan berkali-kali ujung batang kejantananku sampai menyentuh pangkal liang tersebut, membuat Ibu Lilis menjerit keenakan. “Soonnn… Soonnn… Aku… mau… keluar…” Ibu Lilis melenguh kencang. Ia merasakan sudah tidak bisa menahan klimaksnya lagi. Akan tetapi, aku belum merasakan klimaks sedikit pun. Langsung kutambah kecepatan genjotan-genjotan batang kejantananku di dalam liang senggamanya. Begitu buasnya sodokan-sodokanku itu, membuat tubuh Ibu Lilis bergoyang-goyang hebat, dia merintih… merintih… dan merintih. Akhirnya saat yang diharapkan itu tercapai.

Aku melenguh panjang merasakan laharku muncrat, menyusul Ibu Lilis yang sudah terlebih dahulu memperoleh orgasmenya. Begitu nikmatnya orgasme yang kurasakan itu sehingga membuat laharku bagaikan air bah menerjang masuk ke dalam liang senggama Ibu Lilis. Kami berdua mengejang kencang saat titik-titik puncak itu tercapai. Tapi kenapa batang kejantananku tidak mau istirahat, dan masih terlihat perkasa. Dengan segera aku berlutut di atas ranjang. Kuminta Ibu Lilis untuk berlutut juga membelakangiku dengan tangan bertumpu di kasur, jadi dalam posisi doggy style. Kemudian Lilis kudorong sedikit ke depan, sehingga pantatnya agak naik ke atas, yang lebih memudahkan batang kejantananku untuk melakukan penetrasi ke dalam lubang senggamanya.

Setelah itu langsung kusodok kemaluan yang sekarang sudah terlihat agak merekah itu dengan batang keperkasaanku dari belakang. Tubuh Ibu Lilis terhenyak hingga hampir terjungkal ke depan akibat kerasnya sodokanku itu, sementara mulutnya menjerit keenakan. Dalam sekejap, senjata-ku itu seluruhnya ditelan oleh vagina itu dan langsung menjepitnya. Jepitan liang senggama Ibu Lilis yang berdenyut-denyut menambah gairah birahiku yang memang sudah menggelora. Dengan cepat, kutarik kejantananku sampai hampir keluar dari dalam liang senggamanya, lalu kutusukkan kembali dengan cepat. Kemudian kutarik dan kusodok lagi, seterusnya berulang- ulang tanpa henti. Doronganku yang keras ditambah dengan sensasi kenikmatan yang luar biasa membuat Ibu Lilis beberapa kali nyaris terjerembab.

Namun itu tidak menjadi masalah sama sekali. Bahkan sebaliknya, membuat permainan kami berdua menjadi kian panas. Lalu, “Aah… ah… ah… ah…” nafasku terengah-engah. Kurasakan sekujur tubuhku mulai kehabisan tenaga. Tenagaku sudah begitu terkuras, tetapi aku belum mau berputus asa. Kucoba mengeluarkan sisa-sisa tenaga yang masih ada semampuku. Dengan sedikit mengejang, kugenjot batang kejantananku kembali ke dalam luabng kenikmatannya sekuat-kuatnya. Ibu Lilis pun tidak mau kalah, dia maju-mundurkan tubuhnya dengan ganasnya. Akhirnya, Ibu Lilis melenguh panjang, muncratlah lahar-nya, disusul beberapa detik kemudian oleh kemaluanku. Lalu secepat kilat kukeluarkan penisku dari dalam lubang kenikmatan Ibu Lilis dan langsung jatuh terkapar di kasur.

Lalu, Ibu Lilis langsung meraih batang kejantananku itu dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Ibu Lilis mengocok penisku itu di dalam mulutnya yang memang agak kecil. Namun Ibu Lilis berhasil melumat batang keperkasaanku dengan nikmatnya. Gesekan-gesekan yang terjadi antara kulit kemaluanku yang sensitif dengan mulut Ibu Lilis yang basah dan licin ditambah dengan gigitan-gigitan kecil yang dilakukan oleh giginya yang putih karena pakai “Smile-Up Man”, membuat aku tidak dapat menahan diri lagi. Muncratan-muncratan lahar kenikmatan yang keluar begitu banyaknya dari batang keperkasaanku langsung ditelan seluruhnya, hampir tanpa sisa oleh Ibu Lilis. Sebagian meleleh keluar dari mulutnya dan jatuh membasahi kasur.

Belum puas sampai disitu, ia masih menjilati sekujur batang kejantananku sampai bersih total seperti sediakala. Bukan main! Lalu kami berdua tergolek di atas tempat tidur dengan tubuh telanjang yang dibasahi oleh keringat dan lahar kami. Kemudian aku tertidur. Tiba-tiba, “Aaauuuwww..,” kepalaku sakit sekali, terus aku terbangun tetapi samar-samar aku melihat 3 orang sudah berada di sekelilingku. Semuanya memakai seragam putih-putih. Satu cowok dan 2 cewek. Setelah itu penglihatanku mulai jelas, dan benar dugaanku, aku sekarang berada di rumah sakit. Tapi bagaimana bisa..? Terus apa yang kulakukan tadi ternyata hanya sebuah mimpi belaka!
Read more

Minggu, 25 September 2016

Cerita Dewasa Perselingkuhan Memuaskan Nafsu Seorang Ibu Dan Dua Anak Gadisnya

Cerita Nafsu Birahi - Aku adalah seorang profesional di bidang seni boleh dikata sebagai konsultan bidang seni dekorasi. Aku mempunyai rumah yang ku jadikan kantor sederhana tapi cukup baik untuk kerja sendiri. Di kantor ini aku mempunyai seorang penjaga yang merangkap sebagai tukang pada saat saya mempunyai proyek dekorasi, tukang ku ini memiliki keluarga yang aku tampung juga dikantor, yah itung-itung untuk ikut membersihkan kantor, memasak, atau apa saja. Tukangku ini bernama Parmin, istrinya Neneng asli Tasikmalaya, anaknya N'tien masih sekolah SMEA kelas 1 (ini pun aku juga yang suruh sekolah)



Setiap harinya aku kerja hanya ditemani Neneng di kantor karena Parmin selalu kusuruh mengawasi beberapa Proyek Renovasi, terus terang tubuh Neneng sangat indah meskipun anaknya sudah besar, kulitnya putih, dadanya tidak besar namun padat, wajahnya pun tidak terlalu cantik atau ayu, tapi sangat merangsang apalagi bibirnya yang selalu basah.

Suatu hari seperti biasa pagi hari Neneng buatkan kopi susu kesukaanku, sekilas aku iseng bertanya kepadanya
" Neng, kamu potong rambut ya?"
" ahh enggak pak, cuman digelung aja",
Aku berdiri menghampirinya sambil kuberanikan mengelus rambutnya,
"Kamu lebih bagus dilepas..",
Sambil tanganku mengelus rambut terus turun ke leher belakangnya, dia menggelinjang.
"..ahh pak..geli",

Aku mulai nekat kupegang pundaknya dari belakang, lalu kubalikkan badannya menghadap aku, dan langsung aku cium bibirnya, tiada pemberontakan, tidak ada penolakan, yang ada hanya desahannya ..
" Pak saya malu.., bapak nggak boleh pak, kan bapak sudah ada ibu, saya juga udah ada kang Parmin".
Tapi aku sudah nggak tahan, aku kecup lagi sambil meraih dadanya, kuangkat bajunya, kutarik BHnya, kemudian kutarik roknya kebawah (dia pakai rok yang pakai karet) sambil lidahku terus menjilat tubuhnya, putingnya yang merah sudah mengeras, aku sudah nggak sabar, aku tarik celana dalamnya, kurebahkan ia di lantai, lalu ku jilat permukaan vaginanya, sama sekali tidak berbau, dan rambutnyapun sangat lembut dan tipis.

Aku langsung jilat, dia mulai membuka lebar selangkangannya dan terus merintih..
"ahh..augh..pak, he eh..ach, au.."
Lalu aku berdiri dan melucuti pakaianku dengan tidak sabar, pada saat penis ku keluar dari celana dia terpekik
" Aach..besar ..pak..",
pelan-pelan kuhampiri wajahnya, ku kulum lembut bibirnya yang basah, kuarahkan kemaluanku ke mulutnya, sambil mendesah dia raih penisku, lalu dijilatnya ujung penisku,..
"uhh "
Rasanya nikmat sekali, dia genggam dengan lembut pangkal kemaluanku, karena mulutnya juga tidak muat semua untuk penisku masuk.

Aku mulai bergerilya kembali di vaginanya, bibir kemaluannya ku hisap dan sedot, lidahku menjulur kedalam, tiba-tiba lidahku dikejutkan oleh semburan lembut didalam vaginanya asin, gurih, dan hangat, tapi aku suka sekali.. "
"Aach..ach..aachh, Neng..dapet..pak, ..uhh ..ahh"
Lenguhnya panjang sekali seraya kepalaku dijepit kedua pahanya yang mulus..
"Neng, sekarang aku mau kamu nrima ini ya" sambil kuarahkan penisku keliang vaginanya yang basah berlendir,
"he..eh..pak",
aku hujamkan perlahan penisku..
"ugh.."
Hangat , sempit, licin, dan memijat yang aku rasakan dipenisku.

Aku mulai memompa keatas kebawah, keringatku menetes diatas dadanya yang membusung, kepalanya geleng-geleng kekiri kekanan, bibir bawahnya ia gigit, tangannya menggapai pundakku, ia terus mendesis,
"Aaah..aah..teerus..ahh",
Aku nafsu sekali melihat ekspresi wajahnya yang berkeringat, langsung puting dadanya kukulum, kujilat, dan kuhisap.. Sampai ketika dia menjepit pinggangku dengan kedua pahanya bersilang, dan mengangkat pantatnya seraya berteriak
"Aaach..aach..paak..aacchh"
Aku merasakan siraman hangat penisku disiram lendir klimaksnya yang kedua, lalu aku pun semakin keras mendorong dan mengangkat penisku, lalu
"Uuuh..ouugh..uuh..hehh"
Spermaku kusembur kedalam vaginanya, keringatku mengucur, lemas, kupeluk ia, kucium ia, lalu aku bisikkan,
"Kamu nikmat sekali..",
" Pak..Neng juga ngrasa puas banget ama Bapak.., punya Bapak kerasa banget didalem..maaf pak.. Neng suka sekali"
Lalu aku bangkit dari lantai berpakaian kembali, Neneng pun demikian, merapikan diri seolah tidak terjadi apa-apa.

Keesokan harinya anaknya libur sekolah, aku tidak tahu, kalau N'tien libur saat itu, aku cari ibunya dikamar belakang, pada saat kubuka pintu kamarnya ternyata N'tien sedang merogoh kemaluan dicelana dalamnya sambil memegang robekan gambar porno orang bersetubuh, tanpa menggunakan rok, yah ..gawat.. Untuk menutupi rasa maluku aku bertanya
"Kamu kok nggak sekolah?, lagi ngapain kamu kok punya sendiri dipegang-pegang?, ibumu mana?"
Dengan muka merah tangan menarik bantal menutupi pahanya dia menjawab tergagap
" Eee. Ibu ke pasar Pak ,..terus mau kekantor Pos,..eeN'tien ee lagi garuk aja.."
Aku hampiri dia
"N'tien nggak usah malu, N'tien kan sudah gede..N'tien juga perlu tau punya laki-laki yang asli dari pada liat gambar yang gak jelas gitu.."

Dia mulai nggak gugup "sini saya terangin"' sambil tanganku menarik lengannya mendekatiku, aku genggam pergelangan tangannya "nih, pegang" sambil kubuka celanaku penisku kukeluarkan, "gini caranya", kubiarkan tangannya meremas penisku, aku serasa melambung..
"ohh", lalu aku rebahkan dia di ranjang ku pelorotkan celana dalamnya, kubuka kaos dan BHnya, lalu aku juga telanjang didepannya
"Nti'en diem aja dulu ya, kamu rasain aja, yang penting kamu merem.."
Lalu aku menggapai putingnya yang ranum kecil , buah dadanya naik turun, terus kukulum dan kujilat, lalu aku naik ke wajahnya yang manis, kukecup bibirnya, kukulum lidahnya, dia pasrah saja, tangannya mulai meremas sprei, tanganku juga terus meraba dadanya dan vaginanya yang sudah banjir..lalu kukuak kakinya agar mengangkang lebar, mulai kujilati liang vaginanya yang banjir aku hisap sedot, aku nafsu sekali..dia terus bergetar tiada henti..
"Aach..aach..ach" desisnya ,
Terus berulang, hingga dia berkata lirih
" Pak N'tien cape , ngarasain enak terus..ach..ahh.."

Matanya mulai terpejam, aku tahu dia sudah berulang mendapatkan klimaks, tapi aku belum apa-apa, karena sudah kepalang basah aku angkat kedua kakinya lalu aku hujamkan secara perlahan penisku, tiba-tiba matanya mendelik menahan sakit, namun aku sudah tanggung, kuteruskan secara perlahan..
"Uuuh..ahh..ampun pak..sakit pak..perih..aah, "
aku tidak perduli " 'Ntien bentar kok,..ntar juga enak kayak tadi.."
Sambil terus kudorong, lama-lama dia tidak berdesis namun hanya menggigit bibir, ternyata lendirnya mulai muncul kembali, aku pompa lagi hingga aku berhasil memerawaninya. Setelah 20 menit aku mulai merasakan gesekanku tersambut didalam vaginanya aku rasakan betapa niknmatnya vagina seoarang perawan..

Aku tahu dia sudah 2 kali klimaks pada saat aku menyetubuhinya, aku merasakan klimaksku semakin mendekat.., dan
"arghh..aah..uuhh.."
Yah aku semprotkan spermaku dalam vaginanya, aku tidak sempat menariknya..tapi apa mau dikata kenikmatan tidak bisa ditahan.

Mulai saat itu tiap pagi aku setubuhi Neneng ibunya dan N'tien setiap ada kesempatan, seperti kuajak beli buku (padahal ke motel) ..dan aku tetap dianggap Bapak angkat oleh Bapaknya yang semakin sering kusuruh mengerjakan proyek luar kota agar aku bebas menikmati isteri dan anaknya.

Bagai Mana Dengan Cerita Nafsu Birahi nya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Nafsu Birahi Ini Dan Baca Juga Cerita Nafsu Birahi Lainnya Di Bawah Ini:
Read more

Senin, 19 September 2016

Berselingkuh Dengan Mbak Ratna Kakak Ipar Ku Sendiri.

Cerita Nafsu Birahi - Aku sungguh tak percaya perselingkuhan ini bisa terjadi antara aku, sebut saja Toni (24 tahun) dengan kakak iparku yang bernama mbak Ratna (30 tahun). Kisah ini terjadi dua tahun yang lalu ketika Mas Iwan (40 tahun) mengalami kecelakaan kerja dan koma selama 3 bulan di rumah sakit. Dia memang bekerja sebagai pengawas bangunan di sebuah proyek pembangunan gedung bertingkat. Untuk membantu Mbak Ratna akhirnya aku selaku adiknya langsung ke Surabaya, karena memang mereka sudah menetap disana. Kedatanganku cukup membantu karena di Surabaya mereka tidak memiliki saudara, semua saudaranya termasuk aku tinggal di Kota Malang. Mbak Ratna sendiri hanya Ibu rumah tangga biasa dengan 1 orang anak yang masih kelas 3 SD.



Awalnya aku sempat canggung tinggal bersama kakak iparku itu, namun setelah sebulan bersama kami mulai akrab, aku sering mengajaknya bercanda dengan maksud agar dia bisa bahagia dan tersenyum dalam menghadpi cobaan ini. Usahaku berhasil, dia tidak lagi murung dan perlahan-lahan mulai pulih psikologisnya. Sejak saat itu dia mulai bisa terbuka dan kami tak canggung lagi untuk saling ngobrol. Saat ngobrol santai itulah Mbak Ratna menceritakan hubungan dengan suaminya selama ini setelah itu akupun menceritakan hubunganku dengan pacarku. Dia sempat terkejut saat aku bercerita bahwa aku sering ngentoti pacarku di kamar kos, namun aku santai saja bercerita sehingga dia semakin penasaran. Dia tampak memperhatikan ceritaku dengan serius, sesekali dia bertanya bagaimana ekspresi wajah pacarku saat di entoti maupun saat mencapai orgasme.

Karena cerita itulah awal perselingkuhanku dengan Dia terjadi. Setelah aku selesai menceritakan adegan demi adegan aksiku saat ngentoti pacarku dengan berbagai posisi dan gaya kulihat wajah Mbak Ratna tampak memerah, desahan napasnya juga tak teratur, aku tahu dia mulai birahi. Semula aku hanya sekedar iseng aja mengatakan Waahhh... ko diam aja dengar ceritaku..... mbak Ratna terangsang yaa? Dia tampak gugup menjawab pertanyaanku yang mendadak dan jadi salah tingkah. Akupun semakin menggodanya, Sudahlah mbak... kalo terangsang juga ga apa-apa ko, itu alami dan sebaiknya hasrat itu di salurkan.... he...he.... sambil tersenyum aku mengatakan itu. Dasar kamu Ton ada-ada aja, memangnya kamu tau dari mana aku lagi horni, jangan mengarang ah.... jawab mbak Ratna sambil berdiri dan melangkah menuju dapur. Aku segera mengejarnya dan meraih tangannya. Mbak kalau aku bisa membuktikan bahwa mbak Ratna lagi horni mbak mau kasih hadiah aku apa....? Dia tersipu malu dan menjawab...terserah kamu mau minta apa aja boleh.... sambil melepaskan tanganku dia kembali menuju dapur dan mengambil segelas air, tampaknya dia kehausan karena terangsang.
Aku segera mendekatinya dari belakang dan langsung saja kusingkap roknya ke atas dan kuusapkan jari tangan kananku di celana dalamnya, gerakanku sangat cepat sehingga dia tidak sempat menghindar. Setelah itu akupun segera berucap, Maaf mbak, sepertinya aku menemukan bukti yang kuat kalau mbak lagi horni, celana dalam mbak terasa sangat basah. Dia sangat terkejut dan berkata, Ton kamu ko bisa begitu si.... ? Mbak sekarang terbuktikan tebakanku. Sekarang hadiahnya aku mau minta... Dia tampak bingaung dengan pernyataanku, Ya sudah deh Toni, karena kamu sudah tau, sekarang kamu minta apa.?
Inilah kesempatanku untuk bisa ngentoti mbak Ratna, aku segera memeluk dan mencumbuinya. Dia berusaha menolak, Ton kamu mau apa...? Mbak aku ingin ngentot sama kamu sebagai hadiahnya. Gila kamu Ton... aku kan Istri kakak kamu. Sudahlah mbak santai aja... sama saja kok. Saya janji akan buat kamu puas dengan permainaku yang hot. Mbak Ratna diam saja, tampaknya dia semakin terangsang karena sejak dari tadi Memeknya terus ku obok-obok dengan jariku. Diapun hanya pasrah saja ketika aku melucuti semua pakaiannya sehingga dalam sesaat kami sudah sama-sama bugil. Setelah itu aku langsung mengambil posisi jongkok di belakang pantatnya, dia yang kuminta menungging sambil berpegangan pada meja dapur. Dengan penuh semanat aku langsung memainkan lidahku di mulut memeknya. Itil miliknya yang tegang dan basah terus kujilati dengan sesekali kusedot bagian lubang memeknya.
Permainanku ini membuat Dia sangat terangsang sehingga dia mencapai orgasme Cret... Cretzzz cairan putih dan hangat keluar dari memeknya dan mengalir membasahi jembutnya yang hitam dan lebat. Setelah itu giliran dia yang kuminta jongkok di depanku lalu kuminta mengulum kontolku yang tegak berdiri. Dengan penuh semangat Mbak Ratna mengulum senjataku Slep...slep.... rasanya sungguh nikmat dan aku semakin tidak tahan untuk segera ngentiti dia. Segera kuminta dia kembali berdiri, namun saat akan kumasukkan kontolku ke memeknya dia menahanku. Jangan disini Ton, nggak nyaman... kita ke kamar aja yuk. Akhirnya kami melangkah kekamar sambil tanganku terus meremas pantatnya yang bahenol itu.
Di atas kasur dia langsung melentangkan tubuhnya yang putih itu. Mbak Ratna tergolong wanita ToGe alias Toket Gede, karena ukuran nya memang suoer jumbu bahkan lima jariku saja tak cukup untuk meremasnya secara penuh. Mungkin ukurannya sekitar 36 C bahkan mungkin lebih. Setelah puas memandanginya aku segera menindihnya dari samping, kemudian sedikit kucumbui agar kami jadi hot, sesaat kemudian langsung kuentoti dia dengan posisi nungging. Tanpa kesulitan kontolku melesat masuk ke memeknya, Blezzzz...... Slep.... dan langsung kugoyang dengan tempo cepat. Clup......Slep.....Slepppp....Cluppp... Ahhh...ah.... Ohhh rasanya sungguh nikmat. Dari kaca besar yang ada di meja rias kulihat Toket mbak Ratna berayn-ayun seperti balon yang di isi air dan di goyang-goyang selain iti kulihat dia juga mendesah dan merintih. Saat itu memang aku sengaja mengarahkan wajahnya menghadap ke cermin rias.
Dalam posisi nungging itu mbak Ratna kembali orgasme, dia meminta berhenti untuk istirahat, namun aku menolaknya, aku hanya membalikkan badanya dengan posisi terlentang. Setelah itu aku langsung kembali mengentotnya sambil kedua kakinya kutekuk kearah perutnya sehinga menempel di puting susunya yang besaer dan berwarna coklat. Dengan posisi itu aku sangat bersemangat karena aku bisa menyaksikan kontolku yang perkasa menerjang dengan semangat memek mbak Ratna yang empuk iti. Clep.... Clepp.... Plakk.... Plakkk ....clepp......clepp, suara tabrakan antara pankal pahaku dengan pantatnya dan cuara yang keluar dari memek saling bersahutan sehingga sangat asik terdengar, mbak Ratna kembali terangsang dengan rintihan dan desahan yang semakin keras Akkkh....ahhh....ohhh Ton Kontolmu enak sekali...... akupun semakin bersemangat mendengar rintihan itu dan akhirnya kami sama-sama mengalami orgasme...Oh..... sayang...... Ahhh...ahhh.... memek kamu benar-benar mantap.... Crotttt.....crot... air maniku mengalir deras membanjiri memek mbak Ratna.
Permainan birahi yang dahsyat itu membuat tubuh kami sangat lemas dah lelah sehingga kami tertidur sampai sore hari. Dan sejak saat itu aku sering ngentoti mbak Ratna dengan berbagai macam variasi gaya. dia sangat bersemangat aku entoti dengan gaya yang baru dan belum pernah dia coba sehingga hubunganku dengan dia semakin hot. Hubunganku terus berlanjut sampai akhirnya mas Iwan sadar dari koma dan di ijinkan pulang dari rumah sakit. Walaupun mas Iwan sudah di rumah tapi kami masih tetap ngentot bila ada kesempatan dan mbak ratna tidak pernah menolak. Namun setelah mas Iwan pulih dan dapat kembali bekerja aku kembali pulang le kota Malang dan meninggalkan kenangan indah itu.
Untuk mengobati rasa rinduku pada permainan mbak Ratna, sebulan sekali aku berkunjung ke Surabaya untuk menyalurkan hasratku. Hingga sekarang hubungan ini terus berlanjut. Mas Iwan maafkan atas perbuatan adikmu yang kurang ajar ini....

Bagai Mana Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Ini Dan Baca Juga Cerita Lainnya Di Bawah Ini:
Read more

Kamis, 15 September 2016

Bibik Sexy Sang Perenggur Keperjakaan

Cerita Nafsu Birahi - Ini adalah kisahku pada waktu aku masih SMP kelas tiga di kota kembang, waktu itu aku ada liburan di rumah kakekku di daerah lembang, disana tinggal kakek dan keluarga bibi ku. Bibiku adalah kasir sebuah bank karena menikah dengan pamanku yang satu kantor dia mengundurkan diri dan hanya sebagai ibu rumah tangga, orangnya ayu, putih berlesung pipit dengan usia sekitar 27 tahunan. Dia tinggal dirumah kakekku karena rumahnya sedang dibangun di daerah bogor sedang suaminya (adik ayahku) tinggal di kost dan pulang seminggu sekali.



Aku dan bibiku sangat akrab karena dia memang sering main kerumahku sewaktu belum berkeluarga dan waktu kecil sering tidur di kamarku bahkan waktu kuliah dia lebih banyak tidur dirumahku dari pada ditempat kostnya. Anaknya masih kecil berumur sekitar 1 tahun.
Suatu pagi aku kaget ketika seseorang membangunkanku dengan membawa segelas teh hangat, “Bangun…. Males amat kamu disini biasanya kan sudah nyiramin taneman sama nyuci mobil”
“Males ah, liburan masak suruh kerja juga….”
“Lha masak kakekmu yang sudah tua itu suruh nyiramin bunga sendiri dan mobilku siapa yang nyuci…”
“Kan ada bi ijah “
“Bi ijah lagi sakit dia gak sempet…, bangun bangun ah males ya” dicubitnya pinggangku
“Udah udah geli ampun….” Kataku bangun sambil mendorong mukanya.
Kakekku pulang dari jalan paginya dan asik berbincang dengan temannya diruang tamu. Aku kemudian beranjak ke kamar mandi baru membuka baju bibiku mengetuk pintu ”Rik mandinya di sungai sekalian temenin aku nyuci, lagi mati lampu nih….. andi biar di jaga kakek”
“Ya siap boss…” ku buka pintu dan membawa cucian seember besar ke belakang rumah, bibiku mengikutiku sambil membawa handuk, pakaian ganti dan sabun cuci. Di belakang rumah ada jalan kecil yang tembus ke sungai di pinggir kampung sungai itu dulu sangat ramai oleh penduduk yang mandi atau mencuci tapi sekarang sudah jarang yang memakai, hanya sesekali mereka mandi disungai.
“Sana di belakang batu itu aja, tempatnya adem enak…” dibelakang batu itu terdapat aliran kecil dan batu batu pipih disekelilingnya tumbuh-tumbuhan lebat itu kami bermaksud mencuci..ternyata sudah ada seorang wanita muda yang sedang mandi mengenakan kain batik ternyata wulan tetangga sebelah rumahku
“eh rik tumben mau ke sungai….” Katanya ramah
“Ya nih di paksa bos… “
“Wah kalah duluan nih, nyuci juga kamu wul “
“Aku dah dari tadi.. kalo listrik mati gini baru pada ke kali, kalo gak pakaian bayiku siapa kapan keringnya”
katanya sambil keluar dari sungai dan mengambil handuk di tepi sungai.
Selendang batik itu membentuk lekuk tubuhnya dibagian depan terlihat dengan jelas sembulan dua buah dada yang sangat besar, sedang ditengah leher putihya terdapat sebuah kalung tipis yang membuat dirinya terlihat ramping, ia kemudian membelakangi kami dan melepas selendang itu kemudian mengusapkan handuk ke sekujur tubuhnya.
Kontan saja aku kaget melihat pemandangan itu, walaupun membelakangiku tapi aku dengan jelas dapat melihat seluruh tubuh putihnya itu tanpa sehelai benangpun, bokongnya yang berisi telihat jelas setelah dia mengusap tubuhnya kini ia mulai membasuh rambutnya yang panjang sehingga seluruh tubunya bisa kulihat, ketika aku membasahi cucian kemudian duduk
”Kapan kamu kesini rik..”sambil memiringkan tubuhnya karuan saja tetek gedhenya terlihat, aku kaget dengan pertanyaannya.
“Apa wul aku lagi gak konsen..” ia memalingkan badan kearahku
“Ati-ati disungai jangan ngelamun, kamu kapan datang..”
“Oh aku baru kemarin..” kataku sambil mencelupkan baju-baju ke air sedang mataku tentu saja mengarah ke kedua teteknya yang tanpa sengaja diperlihatkan,.
Bibiku bergerak menjauhi kami, mencari tempat untuk buang air karena dari tadi dia kebelet beol.
“Anakmu umur berapa teh.. kok gak diajak “ kataku
“Masih 1 tahun setengah, tadi sama adikku jadi aku tinggal nyuci” setelah rambutnya agak kering ia kemudian memasang
handuknya dipinggangnya dan membalikkan tubuhnya tangan kanannya menutupi mencoba menutupi teteknya yang berukuran wah itu walaupun akhirnya yang tertutupi cuma kedua putingnya sedang tangan kirinya mencari celana dalam di atas batu itu setelah menemukannya, dia kemudian membalikkan badannya dan menaikkan handuknya, celana dalam
berwarna putih itu terlihat cukup tipis dan seksi di pinggir-pinggirnya ada bordir kecil bermotif bunga.
“Anakmu siapa namanya…?”
“Intan.. cantikkan “ ia berbalik, pakaian dalam tipis sudah menutupi memek dan pinggangnya itu sejenak dia melihatku dan kemudian melepaskan tangan kanannya dari teteknya sepertinya dia nyaman memperlihatkan teteknya padaku karena dari tadi aku pura-pura cuek dan pura-pura membasuhi baju kotor padahal adikku sedari tadi gelisah.
Ia kemudian duduk dan membilas selendang batiknya
“Cantik sih namanya.. tapi belum lihat wajahnya secantik emaknya gak ya..”
“Ya pasti.. emaknya aja cantik anaknya ikut donk “katanya sombong, kusiramkan air ke arahnya segera ia berdiri dan
membalas siramanku
“Maaf salah cetak harusnya, maknya aja jelek apalagi anaknya…” kami pun akhirnya saling menyiramkan air setelah beberapa saat dia kewalahan menahan seranganku.
“Ampun ampun…” katanya sambil ketawa cengengesan, akupun menghentikan seranganku tapi kemudian dia malah berdiri mengambil ember dan menghampiriku menyiramku sehingga seluruh bajuku basah kuyup, aku kaget dan reflek mengambil ember ditangannya dia kemudian membalikkan badan untuk menjauhkan darinya, tanpa sadar tubuhku memeluknya dan satu tanganku ada pada dadanya yang terbuka. Akhirnya aku bisa meraih ember itu, ia berusaha melepaskan dari dekapanku tapi sia sia aku sudah siap, ku ambil air dan meletakkanya diatas kepalanyaa
” Ampun ri,, aku dah mandi.. awas lo ntar tak bilangin kakekmu “ aku tetap saja memegang badannya dan mengancam, akhirnya ia berbalik dan dengan leluasa aku menyiram ke sekujur tubuhnya kemudian tanganku mengelus elus tubuhnya
”nih aku mandiin lagi hehehhe,……” sekujur tubuhnya basah termasuk celana dalamnya sehingga isi didalamnya samar
samar terlihat, kami tertawa geli dicubitnya pinggangku hingga agak lama ”aduh ampun sakit “kataku sambil menarik
tangannya, untuk beberapa saat kami saling memandang sambil tertawa geli, kami kemudian ke tepi sungai untuk
mengambil handuk, ia kemudian kembali menyeka air ditubuhnya sementara aku sambil duduk disampingnya sembari
menyeka air di kepalaku.
Wajahnya tampak cemberut di usapkannya handuk ke muka dan rambutnya kemudian mulai turun ke dua buah dadanya kemudian turun ke perutnya yang kecil kemudian turun ke selangkangannya kemudian dia merunduk dan menyeka kakinya, kemudian melemparkan handuknya yang basah ke mukaku, aku kemudian menggunakan handuknya itu untuk mengusap muka (lumayan aroma tubuhnya masih nempel nih) aku kemudian mengembalikan padanya. Di ikatkannya handuk itu di pinggang kemudian duduk tepat di depanku dan di turunkannya celana dalamnya, karena ikatannya kurang kuat setelah celana dalamnya berhasil melewati kaki indahnya handuk itupun ikut terbuka sehingga isi selangkanganya terpampang di depanku.
“Eit…” katanya sambil tangan kanannya menutupi memeknya, aku tersenyum
“Kelihatan nih ye…” kataku sambil memalingkan muka, kakinya menendang tubuhku, kemudian di usapkannya handuk
itu ke tengah selakangannya yang masih lumayan basah karena mengenakan celana dalam basah. Aku kemudian memandang kembali kearahnya nampaknya dia merasa nyaman saja mengetahui memeknya dilihat aku, diusapkannya ke arah rambut-rambut pubis tipisnya kemudian ia mengusap bibir-bibir coklatnya bawahnya yang masih kencang sambil
tersenyum sendiri
“Awas bisa gila lho tersenyum sendiri…” ia menghentikan usapannya sambil membetulkan posisinya
“Ia kalo lama-lama deket sama kamu bisa gila …” katanya sambil berdiri
“Eh, bau …” sambil kututup hidungku yang tepat berada didepan memeknya
“Seger lagi coba cium, katanya sambil menarik mukaku dan menempelkannya pada memeknya yang telah ditutupi salah
satu tangannya. Tanganku mengambil tangan yang menutupinya
“Rambutnya kok gak rapi gak pernah dicukur ya,,,,” kubelai rambut bawahnya kemudian bergerak membuka kedua
bibir bawahnya ”Dah punya anak masih kenceng aja nih kulit..” kataku sambil megelus elus memeknya dengan handuk
sementara dia membalut tubuhnya dengan handuk sehingga kepalaku berada didalamnya.
Aku kaget dan membuka handuk sambil mencari bibiku takut ketahuan, kepala bibiku tampak masih ada dibelakang batu
besar disamping sungai itu lagi asik membuang hajat..
“Berani cium gak 5 Ribu deh… “ dibukanya kembali handuknya sambil tersenyum menantang, memeknya tampak begitu
menggairkan
“Gak ah bau tuh.. tambah deh 10 “ kataku cengengesan
“Deal…” Katanya sambil duduk jongok Mukaku kumajukan untuk dapat mencium memeknya, pelan-pelan kubuka bibirnya dan ku elus elus seluruh memeknya sambil pura-pura menutup hidung seperti mau minum jamu. Kemudian ku buka mulut dan mulai mengeluarkan lidah, wulan nampak melihat kesekeliling kemudian aku mulai menjilat dengan pelan ke paha kanan kemudian kiri dan akhirnya menjilati memeknya ia tampak mengerang geli,
“Ih…” katanya pelan, lidahku yang masih menempel kemudian kumasukkan kedalam memeknya dan menggerak gerakkan memutar sehingga ia tambah geli. Setelah kurang lebih 5 detik ku tarik mukaku
“Memek lo bau juga ya… mana 10 ribunya..?” ia menutupi kembali memeknya dengan handuk dan berdiri
“Ntar ya dirumah, mang aku bawa dompet apa? daa…” sumpret belum puas ngotak-atik mesin bmw (bulu memek wanita) ia sudah pergi, yah akhirnya aku hanya bisa kembali swalayan sambil melihat ia berlalu,

bibiku akhirnya menyelesaikan BAB nya aku masih berendam bermain main di sungai sambil mengembalikan tenaga setelah swalayan. Kami kemudian asyik mencuci sambil ngobrol seru-seruan, bibi mencuci sedang aku membilasnya, sesekali kami saling menyiramkan air sehingga baju kami basah semua akhirnya baju yang kami selesai semua aku mulai membuka semua bajuku sehingga hanya menyisakan celana kolorku saja, sementara bibiku yang dari tadi berhadapan denganku menggeser duduknya menyamping, kemudian menaikkan dasternya kemudian celana dalam putih pelan pelan turun dari pahanya mulus bibiku kemudian dia menghadap kembali padaku dengan posisi kaki lebih rapat, tidak seperti tadi dimana kadang aku bisa melihat celana dalamnya.
“Ih celana dalamnya dah pada bolong nih…” kuangkat celana dalamnya, bibiku segera menyambarnya
“Mana? Masih baru nih..” katanya sambil melemparkannya kepadaku. Dia kemudian menurunkan dasternya dan mencopot kutang dari tempatnya dan kemudian menaikkan kembali dasternya, tanpa segaja dia membuka kakinya sehingga bulu bulu tipis samar-samar terlihat diantara pahanya terlihat jelas didepanku, dia menunduk mencuci bhnya sehingga teteknya menyembul diantara belahan dasternya,
“Sini kolormu dicuci sekalian…” aku bengong mendengarnya,
“Copot sekalian gih kolormu.. “
“Wah gak bawa celana dalam bi….” Bibiku tidak menjawab dan memegang kolorku, akhirnya aku berdiri dan membuka
pelan-pelan kolorku sehingga adikku menampakkan diri.
“Lho dah sunat to kamu ?” dilihatnya burungku yang masih imut-imut plus rambut yang baru pada keluar, ku pegang
burungku sambil melirik kaki bibi yang sedikit terbuka.
“Dah lama ya kita gak mandi bareng…” ia tersenyum
“Ia dulu waktu masih SD kamu hanya mau mandi bareng aku mang kenapa sih ?”
“Ya milih yang cantik donk, masak sama mak ijah kan dah pada keriput semua,…” ia kemudian membuka dasternya
sehingga seluruh tubuhnya terbuka dan menggeser duduknya menyamping.
“Sana taruh di pinggir “
aku kemudian meletakkan cucian kemudian kembali ke tempatnya. Teteknya yang bersih dan putih walaupun tak sebesar punya wulan terlihat masih sama seperti dulu, tubuhnya yang putih sintal dan rambut yang tergerai membuat semua orang pasti mengakui dia wanita ayu.
“Ssst lihat memeknya donk bi…” ia melengos dan menutupi pangkal pahanya dengan tangan, aku menarik tangannya terlihat rambut-rambut tipis berada di tengah
“Hiii… bulunya habis dicukur ya…” ia tersenyum geli, ia kemudian menggeser duduknya sehinga tepat didepanku
“Kok tahu…. bagus kan” dibelai nya rambut pubis itu bangga
“Ya tahu lah… dulu kan lebih tebal dari ini….mang napa dicukur”
“Nggak lagi pingin aja … kalo mau dateng bulan aku biasa potong, kalo gak tak cabut pake lilin, kalo rapi kan sehat….”
Kakinya yang rapat membuat aku hanya kebagian melihat rambutnya saja.
“Lihatin donk….” Kataku sambil mengelus elus pahanya tangannya menghela tanganku dari pahanya tapi kemudian aku kembali mengelusnya setelah itu dia melihat tajam kepadaku, pelan-pelan tanganku berhasil menggeser satu kakinya sehingga memeknya sedikit terlihat.
“Wah masih sama kaya dulu ya.. walaupun dah punya anak masih terlihat kenceng punyamu” ia tersenyum mendengar
bualanku dan membiarkan aku melihat seluruh isi memeknya, tanganku mulai membelai memeknya pelan kemudian
mengusap-usapnya
“Jangan nakal ah.. geli..” aku tetap saja mengelus elusnya
“Mandi sana.” Tangannya mendorong mukaku sehingga aku terjatuh, dia kemudian berjalan kearah air yang lebih dalam kemudian berenang renang kecil
“Ri ambilin sabun donk…” aku duduk mendekatinya dan mengacungkan sabun, ditariknya tanganku sehingga aku jatuh
dia tersenyum aku kemudian membalas dengan menyiramkan air kemukanya setelah beberapa saat bercanda di dalam air ia kemudian naik ke sebuah batu untuk membersihkan diri dengan sabun. Dengan menghadap kepadaku ia mulai
meletakkan sabunnya dileher jenjangnya, pelan pelan turun ke teteknya, kemudian ke tangan dan kakinya dan berahir
pada memeknya setelah itu dia kemudian menggosok badannya untuk memperbanyak busa. Aku keluar dari air dan duduk di sampingnya dia langsung menggosokkan sabun keseluruh tubuhku dari muka sampai ke kaki, dengan santai ia
menggosokkan sabun pada penisku.
“Dah gede kamu ri, burungmu dah ada rambutnya..”
“Ya donk masak mau kecil terus…” ia kemudian membalikkan badannya dan berdiri sambil memintaku menggosok punggung dan bokongnya yang belum kena sabun, waktu mengosok bokongnya pelan-pelan tanganku ku senggolkan ke memeknya nampaknya dia cuek saja dengan terus asik menggosok tubuhnya dengan sabun, aku mulai memberanikan diri
mengelus dari belakang kedua payudaranya. Ia membalikkan badan, membiarkan aku mengelus elus payudaranya dan
seluruh tubuhnya sementara dia mengelus kakiku dan sesekali mengelus penisku.
Ia kemudian terduduk, seperti biasanya kalo mandi dia selalu terdiam beberapa saat membiarkan sabun meresap ditubuhnya. Aku yang masih berdiri didepannya dengan penis tepat di mukanya, ia kemudian memain-mainkan penis itu,
”Di bersihin donk ri burungnya, nih masih ada kotorannya” katanya sambil mengelus penisku mesra aku hanya diam keenakan. Kemudian dia berbaring di atas batu, aku duduk disamping kakinya sambil mengelus memeknya dan menyiramkan air sehingga seluruh memeknya kelihatan.
“Dah jangan main itu terus ah geli …” ia tersenyum menutupkan kakinya aku kemudian menarik kakinya sehingga kini tubuhku berada diantara kakinya. tanganku mulai menggosok-gosok lagi kali ini jariku mulai masuk ke memeknya, dia bangun
“Geli ah li.. “tanganku kali ini berhasil diusirnya, tanpa sadar dia mulai melihat burungku yang mulai berkembang dan
menggantung
“Burungmu dah mulai bisa berdiri ri…” dielusnya burungku pelan mesra, semakin lama burungku makin besar karena tak tahan akan elusannya.
“Kamu dah pernah ngimpi basah ya.. “ aku mengangguk kemudian
“ Bi.. kamu gak lagi mens kan?” ia tersenyum kemudian membimbing tanganku pada dadanya
“Sini bibi ajarin ngelonin cewek…” aku mengikuti saja bimbingan tangannya mengelus pelan teteknya kemudian melintir
putingnya
“yang mesra donk ri anggep aja aku cewekmu “ dia kemudian mencium pipiku dan mendorong mukaku ke teteknya,
aku ciumi semua bagian teteknya kemudian menghisap pelan putingnya, ada air keluar dari susunya aku makin keras
menyedotnya sementara bibi mengusap kepalaku sambil merem menikmatinya. Kemudian aku menjilati perut dan turun ke rambut memeknya, ke paha kemudian menengelamkan mukaku ke memeknya, namun tangan bibiku mencegahnya
“Kamu gak papa ri?” katanya pelan “Gak papa bi, sekalian buat pengalaman“
ia kemudian menyiramkan air ke memeknya setelah itu kucium dan kujilati memeknya beberapa saat, sementara tanganku dibimbing untuk tetap mengelus dadanya. dia rupanya terangsang dengan jilatanku, erangan-erangan kecil
dan tekanan tangannya pada rambutku mengisyaratkan dia sudah mulai terangsang. Merasa cukup ku hentikan jilatanku
kemudian duduk di depannya dia kemudian melek sambil mengelus dan memutar mutan burungku
“Enak kan…?” ucapnya manja, aku kemudian berdiri, penisku tepat berada di mukanya, beberapa saat dia diam kemudian ia menutup mata dan mencium penisku
“Kalo jijik gak usah di emut …” ia melepaskan mukanya dan kembali mengocok dengan tangannya.
Ia kemudian duduk diatas batu sambil mengangkan meminta aku memasukkan penis ke memeknya
“ Di gesek aja ya, jangan dimasukkan.. punya pamanmu nih..” aku kemudian menggesekkan penis ke memeknya sementara tanganku menggoda teteknya.
“Bi sekalian masukkin ya.. biar ngajarinnya komplit..” ku masukkan tanganku ke memeknya,
“Jangan sama pacarmu saja, kasihan perjakamu…” aku kemudian mencoba memasukkannya pada memeknya dua kali mencoba ternyata penisku belum bisa tembus juga, bibiku tersenyum geli
“Tuh kan gak bisa, sini…” ditariknya penisku, di elus kemudian dimasukkan dalam memeknya, rasanya sempit sekali memeknya, baru setengah penis masuk bibiku mengeluarkan kembali
“Susah kan… makanya pelan pelan” ia kembali memasukkan, kali ini lebih dalam, ia kembali menarik tubuhnya sehingga
penisku lepas. Tanganya lepas dari penisku, tanganku yang mau mengarahkan penisku di tariknya menandakan dia pingin aku memasukkan tanpa bantuan.
Dua kali mencoba tidak berhasil lagi akhirnya bibiku yang memajukan memeknya, sekali maju langsung masuk,
“uh…. Enak bi …” ia kemudian menggoyang pinggulnya memberikan tekanan keluar masuk pada penisku, aku merem melek menahan enak sambil membantunya mengelus tubuhnya,
“Ayo bagianmu…” ia kemudian pasif membiarkan aku melakukan keinginanku ku. Aku masukkan sampai semua penisku masuk kemudian bergerak pelan semakin lama semakin cepat menggoyang maju mundur.
“Bagus ri.. ayo.. ah…. ah… terus sayang….” aku menurutinya beberapa saat dia meminta aku mengganti posisi kini dia menungging di depanku dengan sigap kumasukkan penisku berulang ulang
‘oh yes … enak bi… enak….” Lima menit kemudian ia memintaku duduk dia berdiri dihadapanku memeknya kuciumi
sebentar kemudian dia menduduki kakiku,
“ayo aku dah mau nyampe… kamu mau nemenin kan…” dia kemudian memasukkan memeknya dan bergerak turun naik sementara muka dan tanganku memegang teteknya
“bii…. Jangan cepet-cepet aku gak kuat nanti…”
“Ayo sayang … bibi juga gak lama lagi ..” aku melepas tangan dari susunya dan berkonsentrasi menahan goyangan maut memek bibiku..
“uh.. ah… “ bergantian kami mengucapkannya
“Stop bi… aku mau keluar …” aliran-aliran listrik seakan menjalar ditubuhku.. bibi melepaskan memeknya, kemudian mengocok penisku dalam hitungan ke lima air maniku benar benar keluar “crot,,,,” mengarah pada tubuhnya.. Aku lemas sambil menyedot tetek bibiku aku mengatur nafas setelah berhasil mencapai puncak
“Wiih enak banget bi…. Yes……” kataku pelan, ia tersenyum dan mencium pipiku sambil mengelus-elus teteknya, setelah beberapa istirahat bibiku menuangkan air ke mukaku
“udah mandi yuk…” aku menarik tangannya
“Makasih ya bi… maaf kebablasan” ia tersenyum
“Ayo tak bantu nyampe puncak..” kataku sambil mengelus memeknya, aku kemudian mencium tetek kemudian memeknya, aku kemudian memasukkan jariku pada memeknya ia merem melek kemudian aku memasukkan berkali-kali dan menggelitik memeknya, ia benar-benar terangsang. Tangannya memegang penisku yang sudah tidak kencang lagi kemudian mengarahkan mukanya pada penisku, semakin lama goyangan tangan ku makin kencang, sampai akhirnya bibiku mengerang ngerang kemudian memasukkan penis pada mulutnya.. ia menggelinjang dan ahirnya dia berteriah “uhhhhhhh,,,,,,” dilepaskannya penisku dan berguling di batu itu, ku belai rambutnya menemani menuruni puncak kenikmatan.
Kemudian kami berdua masuk kembali ke air membersihkan sisa sabun
“ Jangan diulang ya… sekali aja “ katanya sambil mencubit paha depanku
“Ya deh bi,, kalo kuat ya.. tapi kalo lihat tubuh bahenol ini kayaknya aku gak tahan” kucium tengkuk bibi sambil mengelusnya, dia membalas
“Janji ya, jangan goda aku lagi…” aku diam sambil memeluknya..

Bagai Mana Ceritanya?
Bagus Kan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Ini Dan Baca Juga Cerita Lainnya Di Bawah Ini:
Read more

Kamis, 08 September 2016

Cerita Dewasa Sama-sama Selingkuh

Cerita Nafsu Birahi - kali ini menghadirkan cerita sex nyata dari pengalaman seorang Wanita bernama Della. Della ini adalah istri dari seorang dokter yang sedang menjalani spesialisasi. Akibat kekecewaan pada suaminya yang berselingkuh, akhirnya Dellapun ikut berselingkuh juga dengan teman kuliahnya. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.
Butuhsex.com | Cerita Dewasa Sama-sama Selingkuh, Cerita Sex Suster 2016, Cerita Dewasa ABG, Cerita Sex Bispak Terbaru, Cerita Sex Skandal 2016, Foto Cewek Bugil 2016, Foto Cewek Hot Terbaru, Cerita Sex Terbaru 2016,
Namaku Della, usiaku saat ini 34 tahun, statusku sudah menikah. Aku adalah anak sulung yang berasal dari keluarga yang berkecukupan, ayahku berprofesi sebagai pengusaha di bidang perbankan yang sudah cukup berpengaruh di daerahku. Aku menikah dengan suamiku karena perjodohan dari keluargaku. Pembaca sekalian pasti bisa membayangkanlah, sungguh tidak nyaman sekali, bila rumah tangga tidak didasari rasa cinta. Walaupun aku tidak mencintai suamiku, namun rumah tangga kami sudah bertahan selama 10 tahun. Suamiku bernama Rehan, profesinya adalah seorang dokter, dan sekarang dia sedang mengambil spesialisasi dokter bedah di Rumah Sakit Negri di kota kami. Nampak gagah sih profesi suamiku, tapi sayang sekali suamiku mempunyai sakit gila turunan dari keluarganya. Karena suamiku memiliki penyakit gila turunan, maka kamipun memilih untuk megadopsi anak daripada memiliki keturunan sendiri.
Suamiku adalah menantu kesayangan ayahku, hal yang membuat ayahku menyayangi suamiku adalah karena suamiku seorang dokter dan satu hal lagi, kata ayahku suamiku adalah keturunan orang terhormat. Terhormat apanya, dia menjaga nama baiknya saja tidak bisa, apalagi menjaga nama baik rumah tangga kami. Sebenarnya dari pribadiku sendiri walaupun aku tidak mencintai suami tetapi aku selalu setia. Dalam kesetiaanku ini akhirnya aku menyadari bahwa ada pihak ke 3 yang mengganggu rumah tangga kami. Sebagai suami sikapnya sama sekali tidak mencerminkan bahwa dia seorang suami. Rupanya dibelakangku suamiku bermain gila dengan seorang mahasiswi kedokteran umum yang bernama Gita. Sebenarnya sama sekali tidak ada yang menarik dari mahasiswi itu, kalau boleh aku menyombongkan diri, perbedaan aku dan dirinya ibarat langit dan bumi. Tapi entah mengapa suamiku bisa selingkuh dengan mahasiswi itu.
Karena perselingkuhan suamiku, nama baik rumah tangga kami-pun tercoreng, bahkan nama baik orang tuaku-pun ikut tercoreng. Dia sering membawa simpanannya menggunakan mobil pribadi ayahku, karena memang dia belum bisa untuk membeli sebuah mobil. Jangankan untuk membeli mobil untuk membeli bautnya-pun mungkin dia belum mampu. Akhirnya di tengah kejenuhanku, aku mencari kesibukan untuk mendaftar program Magister Manajemen, kebetulan ajaran barunya baru saja dibuka di sebuah Universitas Negri di kotaku. Di sini aku banyak bertemu teman baru, kejenuhan ku mulai sedikit terobati dengan aktivitas belajar baik di kampus maupun di luar kampus.
Pada suatu ketika tiba-tiba aku mendengar bahwa ada salah seorang teman kuliahku yang tinggal di dekat perumahan Gita. Mendengar kabar itu timbulah kembali rasa penasaranku terhadap simpanan suamiku itu. Mulai hari itu juga aku-pun mulai menyelidiki simpanan suamiku melalui bantuan Tomas ( teman kuliahku yang perumahanya sama dengan simpanan suamiku). Pada saat pertama aku mencari informasi tentang lokasi perumahan pada Tomas, dia sempat menaruh curiga terhadap pertanyaanku. Namun aku bergelit untuk berusaha menutupi aib rumah tanggaku agar tidak terbongkar. Tapi karena rasa penasarannya yang begitu besar, pada akhirnya aku tidak bisa menutupi aib rumah tanggaku lagi. Terlebih dia begitu jelas memberi informasi mengenai dimana lokasi tepatnya Gita tinggal dan keadaan sekeliling rumahnya. Pada akhirnya aku-pun meminta tolong kepada Tomas untuk sesekali mengawasi suamiku apakah dia pernah berkunjung ke sana dan misalnya pernah apakah dia sering berkunjung.
Untuk mendapatkan informasi lebih dari Tomas Maka dari itu aku sering berhubungan dengannya. Dari sekedar menerima informasi dan meminta tolong lagi, akhirnya aku tidak dapat menahan lagi penderitaan yang aku alami. Aku akhirnya sering berkeluh kesah mengenai keadaan rumah tanggaku yang sebenarnya. Entah kenapa aku lakukan ini. Tomas adalah totally stranger, yang seharusnya sama sekali tidak mengetahui kondisi intern rumah tangga kami. Tapi bagaimana lagi ? Aku sudah sering berkeluh kesah dengan orang tua mengenai Suamiku. Mereka hanya menyuruh aku untuk bersabar. Dengan adik aku, mereka memang merasa kasihan kepada aku, namun mereka juga tidak bisa berbuat banyak karena kesibukan bisnisnya. Aku juga pernah berkeluh kesah dengan bibi (tante) aku yang belum menikah, namun dengan cepat dia menjawab,
“ Waduh, janganlah bicara itu kepada aku, aku tidak sama sekali tidak tahu masalah seperti itu! ”
Kemana lagi aku harus berkeluh. Pada awal Cerita aku kepada Tomas, dia memang menganjurkan agar aku berbicara kepada orang tuaku. Namun itu merupakan anjuran basi bagi aku. Tomas tidak putus asa. Dia terus memberi dukungan secara moral. Yang membuat diri aku seolah semakin tenang berada di sisinya untuk mendengarkan dan menerima dukungannya.
Kemudian dia pun membuka rahasia mengenai dirinya. Mengenai siapa dirinya sebenarnya dan bagaimana kondisi orang tuanya. Dari situ aku melihat beberapa kemiripan diantara kami berdua. Aku pun mulai comfortable apabila sudah berada di sisinya. Dan pertemuan pun sering kami atur. Entah itu berkedok kelompok belajar atau lainnya.
Hingga akhirnya, entah kenapa tumbuh rasa suka aku kepada dirinya, dan di suatu saat Tomas memberanikan diri untuk menyentuh tangan aku dan memegangnya. Aku merasakan getaran yang ia jalarkan ke diri aku. Akhirnya tanpa aku sangka, ia mengutarakan perasaannya. Perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan terhadap dirinya. Singkat Cerita, kami mulai sepakat saling mengasihi. Dan kami pun mulai secara rutin bertemu untuk berbagi kasih. Walau pun hanya sebatas di dalam mobil aku. Dikejutkanlah aku sewaktu Tomas tiba-tiba mencium bibir aku. Lucu rasanya aku mengenang kejadian tersebut. Seolah aku adalah seorang gadis yang baru pertama kali dicium oleh laki-laki. Aku tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi, aku memang mencintainya. Di sisi lain, aku sudah menikah dan bersuami. Kembali dia melayangkan kecupan dibarengi dengan sedikit lumatan pada bibir aku. Aku tetap tidak berkutik. Hingga akhirnya dia bertanya,
”Kenapa tidak dibalas ? ”
Setelah kami saling tatap untuk beberapa saat. Akhirnya, aku-pun membalas lumatan bibirnya. Kisah kasih kami terus berjalan dengan sedikit bumbu saling cemburu apabila aku terkesan mulai dendengan Suamiku, atau aku mendengar isu bahwa Tomas berkenalan dengan seorang gadis. Tapi itu semua tetap tidak mempengaruhi cinta kami. Percumbuan kami semakin hangat. Dia pun mulai berani menggerayangi bagian-bagian tubuh aku. Baik dengan menggunakan tangannya atau dengan mulutnya. Payudaraku yang berukuran 34B ini sudah sering kali menjadi sasaran empuk mulutnya. Dan aku sangat menikmatinya. Aku pun sering mencumbu dadanya yang lapang, dan sesekali mempermainkan mulut dan lidah aku di pentilnya.
Dia pun sangat menikmatinya. Hingga akhirnya permainan kami mengalami peningkatan. Jemarinya mulai terampil menyusup kepada celana dalamnya dan mempermainkan klitoris aku.
Aku mulai merasakan geli dan nikmat bercampur menjadi satu, terlebih apabila ia kombinasikan dengan mencumbu tubuh aku. Kami saling bergantian mencumbu hingga akhirnya pun aku hanyut dalam kebiasaan melakukan oral sex terhadapnya. Dia begitu surprise saat aku melakukan oral. Tomas tidak menyangka, seperti halnya aku. Aku bahkan sempat terheran pada diri aku sendiri. Banarkah aku melakukan ini? Pertama kali aku melakukan oral sex terhadapnya, memang aku kikuk sekali. Tomas hanya membuka sedikit celana dalamnya hingga kepala kejantanannya tersembul.
Entah kenapa, saat aku sedang mencumbu tubuhnya, aku sangat terdorong untuk mencumbu kejantanannya dan memasukkannya ke dalam mulut aku. Dan sejak saat itu, percumbuan kami belumlah lengkap apabila aku belum melakukan oral sex terhadapnya. Bagi aku, aku merasa memiliki hobby baru. Membuatnya nikmat melalui oral sex. Hingga suatu saat di tengah percumbuan hebat kami dimana pakaian kami sudah hampir terbuka semua. Di jok belakang mobilku di pelataran parkir department store A yang terletak di jalan yang menggunakan nama seorang pangeran. Dia mengangkat rok aku dan menyingkap sedikit celana dalam aku, lalu kemudian dengan cepat dan lembutnya, Tomas mencumbu dan menyapu kemaluanku dengan lidahnya. Sungguh aku dibuatnya kaget dan bingung yang bukan kepalang. Suamiku sama sekali tidak pernah melakukan hal ini terhadap aku.
Di tengah kebingungan itu, aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Aku mencintainya, tapi aku sama sekali tidak menyangka hingga sejauh ini kisah asmara kami. Begitu lembutnya dia mempermainkan klitoris aku dengan sapuan lidahnya, Hingga akhirnya rasa bingung itu lenyap di telan rasa geli dan nikmat yang sudah menjalar di sekujur tubuh aku. Aku hanya bisa meremas rambut kepalanya, menekan kepalanya lebih dekat di kemaluanku yang kian membasah. Kenikmatan itu juga yang akhirnya membuat aku mengangkat kedua paha dengan lebih membuka kangkangan keduanya. Setelah kurang lebih lima belas menit dia menjilati klitoris aku dengan berbagai cara, aku disuruhnya rebah di jok belakang dan segera dia menindih aku. Rupanya Tomas telah menurunkan celananya tanpa sepengetahuan aku sewaktu aku masih melayang-layang.
Dengan cepat Tomas menyodorkan kejantanannya menuju bibir kemaluanku. Dan mempermainkan kepala kejantanannya di bibir kemaluanku. Aku kembali menggelinjang. Sama sekali tidak terbesit di benak aku, bahwa kami masih bermain di area parkir sebuah pusat belanja yang terletak di jalan “ D ”. Yang suatu saat dapat dipergoki satpam. Kembali aku tersentak hebat saat kepala kejantanannya menggesek-gesek klitoris aku dengan agak kuat. Tubuh aku mulai bergetar hebat. Apa ini yang dinamakan luapan birahi? Karena kemaluanku yang sudah basah sejak tadi, Tomas tidak mendapat kesulitan untuk akhirnya dengan cepat dan lembut menyelipkan kejantanannya di liang kemaluanku.
Aku kembali tersentak dalam sejuta kenikmatan. Sebuah benda yang besar dan panjang menyelinap masuk secara perlahan, sehingga menimbulkan gesekan halus pada klitoris aku. Tubuh aku mengejang sesaat. Tiba-tiba muncul rasa heran yang amat sangat dalam diri aku.
Selama ini aku tidak pernah merasakan nikmatnya sex dengan Suamiku. Yang aku tahu selama ini, sex adalah menyakitkan. Aku hanya menjadi mesin pemuas nafsu sex Suamiku tanpa peduli apakah aku menikmatinya atau tidak. Nikmat sex seolah-olah hanya dongeng belaka di telinga aku. Tapi, Tomas seolah-olah dia kini memberikan bukti bahwa nikmat sex itu ada. Dan nyata.
Kini aku sadar sepenuhnya. Aku semakin mencintainya. Aku pun kembali larut dalam kebahagiaan nikmatnya sex. Aku pun menyambut cintanya, juga menyambut goyangannya tidak kalah hebat.
Seolah aku ingin menumpahkan dan mencapai kenikmatan sex yang baru aku rasakan dan ingin memberitahunya untuk bersama menikmati sex ini sepuas-puasnya. Entah berapa lama kami bercinta dan saling berpacu dalam nafsu birahi di dalam mobil Genio berwarna gelap. Akhirnya dia membiarkan aku selesai terlebih dahulu. Sungguh aku tidak menyangka bahwa kenikmatan sex itu begitu nyata, menyenangkan dan memuaskan. Aku pun dibuatnya lemas dan tidak bertenaga, terkapar di jok mobil. Telentang tidak berdaya, dengan rasa sejuta bahagia dan kepuasan yang tidak ternilai. Sementara Tomas akhirnya mempercepat ritme ayunan pinggulnya dan aku merasakan adanya semburan hangat di dalam kemaluanku. Semburan sperma Tomas.
Aku sempat khawatir akan kehamilan akibat hubungan kami. Tapi Tomas segera berbisik bahwa dia ingin aku hamil dan membesarkan anak tersebut. Berangsur-angsur kekhawatiran aku menghilang. Di satu sisi, keinginan aku untuk hamil bisa saja terkabul. Dan ini yang aku tunggu.
Akhirnya siasat pun diatur, apalagi golongan darah Tomas sama persis dengan Suamiku. Sejak saat itu, kami pun rutin melakukan hubungan sex untuk saling meluapkan cinta dan memuaskan nafsu birahi kami, dimana pun kami sempat. Bahkan pernah di ruangan kantor aku pada saat sepi, Tomas meminta aku untuk berdiri membungkuk di tepi meja kerja, kemudian aku dan dia bersetubuh dengan gaya doggy style terlebih dahulu mengangkat rok dan menurunkan celana aku dan kemudian mempermainkan kemaluanku dengan lidahnya yang kasat. Kini bukan saja Suamiku yang berselingkuh.
Aku pun turut terjerumus dalam dunia perselingkuhan. Perselingkuhan yang aku rasa adalah abadi. Apakah ini semua karena cinta sejati aku dengan Tomas. Apakah karena awalnya kawin paksa oleh ayahku, hingga tidak pernah ada cinta antara aku dan Suamiku Hingga kini hubungan aku dan Tomas telah berusia dua tahun, baik hubungan komunikasi maupun secara sexual. Kami tetap saling memperhatikan, mengasihi, menjaga dan juga saling mengisi kekurangan satu sama lain. Seperti layaknya suami istri sejati. Kini aku sudah tidak peduli lagi terhadap apa yang dilakukan Suamiku. Anak kandung aku dari hasil hubungan intim aku dengan Tomas dan anak angkat aku pun lebih dekat dengan Tomas ketimbang Suamiku. Entah kenapa, aku sangat berbahagia menjalani semua ini. Aku sudah menemukan cinta sejati aku. Untuk Tomas, apabila Anda membaca Cerita ini, aku ingin mengatakan kepada Anda bahwa kami bertiga sangat mencintai dan merindukanmu.
Read more

Sabtu, 20 Agustus 2016

Cerita Perselingkuhan Balas Dendam Istriku

Cerita Nafsu Birahi - Kekuatan cinta memanglah sulit untuk dipahami. Cuma lantaran cinta, manusia dapat lakukan semuanya. Serta begitu juga denganku. Namaku Surya, seseorang suami yang sekian kali lakukan kekeliruan pada istriku dalam soal cinta. Saya sudah selingkuh dengan sebagian orang wanita. Serta semuanya kulakukan cuma berdasar pada emosi sebentar.

Tetapi, sejak aku sadar bakal begitu utamanya sosok yang sudah mendampingiku sampai kini, selanjutnya aku sadar bila aku begitu ketakutan untuk kehilangan istriku. Dia wanita pertama yang sudah terima cintaku, dia wanita pertama yang senantiasa mendukung diriku, penyemangat dalam hidupku, serta dia wanita pertama yang sudah mengenalkanku pada seks, satu kesenangan dunia.

Serta sejak perselingkuhan itu, aku baru sadar bila aku tidak dapat hidup tanpa ada cintanya. Sampai selanjutnya, Sarah, wanitaku hanya satu, membalas semuanya tingkah laku kotorku.



Sekitaran satu bulan lantas, Markus, selingkuhan Sarah, istriku, geser tinggal dirumah kami. Dia barusan kehilangan pekerjaannya serta sekalipun tidak mempunyai duit sedikitpun.

Awal mulanya, aku mengetahui Markus hanya hanya rekan. Rekan yang senantiasa ada saat istriku aku tinggalkan untuk selingkuh. Rekan yang senantiasa siap menolong istriku saat jauh dariku. Rekan yang selanjutnya menukar posisiku saat istriku memerlukan kehangatan seseorang lelaki.

Aku tidak dapat geram, aku juga tidak bisa dendam. Aku cuma dapat berusaha untuk tahu istriku saat sampai kini, dia aku selingkuhi. Tetapi bedanya, sejak Markus geser kedalam rumahku, dengan terang-terangan, istriku menyebutkan padaku mengenai ‘perselingkuhan satu-satunya’ dengan Markus.

Termasuk juga mengenai persetubuhannya yang kerap mereka kerjakan sejak aku selingkuh dengan adanya banyak wanita lain.

“Jadi sekarang kita impas donk mas… mas selingkuh dengan beberapa wanita, sedangkan adek hanya selingkuh dengan mas Markus…” kata istriku ketika kami berdebat tentang perselingkuhan dirinya.

“Iya sih… tapi khan bukan berarti, kamu yang hanya berselingkuh dengan Markus bisa dengan seenaknya bersetubuh di depan mataku…” balasku dengan nada yang tak mau kalah.

“Ya itu resikomu mas… Adek udah minta mas buat ninggalin adek, tapi mas sendiri yang bersikukuh untuk tetap bersama…” Entah apa yang bisa aku lakukan untuk mengembalikan keutuhan rumah tangga kami, yang walau sebenarnya, rumah tangga kami masih utuh.

Kami masih bersama, istriku juga masih melayani semua kebutuhanku, masih mencintai dan menyayangiku seperti sedia kala. Bedanya, di bawah atap tempat tinggal kami sekarang, ketambahan sosok lelaki lain yang siap kapan saja memenuhi kebutuhan biologis istriku.

Tentu saja, ketika mereka melakukan adegan percintaan itu, aku, untuk sementara waktu dipindahkan ke kamar tidur tamu. Entah apa yang membuat Sarah tergila-gila pada selingkuhannya itu.

Bagiku, Markus sama sekali tak menarik, tak cakep, tak gagah, tak berpenghasilan, dan tak bermasa depan. Bukannya mau menyombongkan diri, tapi semua aspek positif dari seorang pria tak satupun ada dari diri Markus.

Satu-satunya yang membuatku iri akan diri Markus adalah, ia memiliki ukuran penis yang lebih besar dari milikku. Bahkan jauh lebih besar. Jika bibandingkan, pentungan nikmat milik Markus, hampir dua kali lipatnya dari milikku.

Dan karena daging lebih itu, istriku mampu terpuaskan olehnya bahkan amat sangat terpuaskan. Markus mampu membuat istriku berubah. Istri yang dulu berucap sopan, sekarang menjadi sering melenguh dan mengembik bak pelacur murahan.

Istri yang dulu berkelakuan santun, sekarang mirip pelacur dengan vagina yang meronta-ronta kegatelan. Istri yang dulu tak mau melakukan hal aneh, sekarang menjadi pelacur haus sodokan kasar yang siap bercinta dengannya kapan saja dan dimana saja.

Minggu kemaren, kedua orang tua Sarah meminta kami berkunjung ke kediamannya. Mereka kangen akan putri kesayangannya yang sudah lama tak berkunjung. Mungkin kunjungan terakhir kami adalah ketika lebaran beberapa tahun kemaren.

“Sarah mau banget mah, cuman saat ini di rumah Sarah ada seorang teman special yang sedang berkunjung…” ujar Sarah menjelaskan tentang keadaan yang sedang terjadi di rumah kami

“Serius mah?” tanya Sarah dengan nada girang.
“Okelah kalo begitu, Sarah bakal datang weekend besok…” Dari percakapnnya, aku bisa mengetahui, jika acara berkunjung ke rumah orang tua Sarah besok, bakal ada kejutan buatku.

“Sayang… Besok kita kerumah Mama ya… Sarah kangen banget… Udah lama banget khan kita nggak maen kesana…” pinta istriku sambil tersenyum bahagia.
“Lalu, si Markus gimana? Ditinggalin di sini aja ya….?” Tanyaku
“Nggak donk… Sarah mau kenalin mas Markus ke Mama Papa…”
“Apa…?”

“Kenapa…? Kamu ga mau…? Kamu ga suka…?” Tanya Sarah dengan nada yang mulai sedikit sewot.
“Kalo kamu nggak mau juga gapapa… Sarah masih bisa kesana kok bareng mas Markus…”
“Enggak… Gapapa kok sayang…” pasrahku.
“Makasih ganteng….” ujar istriku manja sambil mengecup keningku.

Rumah orang tua Sarah berjarak sekitar 6 jam perjalanan, sehingga guna menghindari kemacetan, kami berangkat dari semenjak subuh. Seperti biasa, semenjak keberadaan Markus di kehidupan kami, akulah yang selalu menjadi supir. Duduk sendirian di kursi depan, dibelakang roda kemudi. Sementara Sarah dan Markus, selingkuhannya, selalu memilih untuk duduk di kursi tengah.

Selama perjalanan ke rumah orang tua Sarah, aku hanyalah seperti patung yang tak mereka gubris sama sekali. Hanya menyetir dan konsentrasi ke jalan, sementara istriku dan Markus saling memainkan nafsu birahi mereka dengan leluasa.

Sarah, dengan atasan tanktop tanpa bra dan rok mini tanpa celana dalam, selalu dapat diakses oleh Markus dengan segala cara. Entah kenapa, Markus selalu duduk di sebelah kiri istriku.

Mungkin dengan tangan kanannya, dia dapat dengan mudah mengobel vagina Sarah, menghisap putting Sarah, dan memuaskan birahi Sarah dengan lebih leluasa. Sedangkan Sarah yang ada di samping kanannya, selalu dengan mudah melakukan segala permintaan Markus untuk juga mengoral dirinya.

“Uuughh …sedot terus Mas!” kudengar desis birahi istriku di belakang dan aku berusaha melihat kaca spion Kulihat pria jahanam itu dengan liarnya mencumbui payudara istriku yang sudah terbuka resleting gaunnya.

Dilumatnya habis-habisan payudara montok Sarah sementara tangannya sibuk mengobok-obok vagina Sarah yang telah duduk mekangkang dan melepaskan celana dalamnya.

“Eeemmhhh…enak banget sih!” kudengar rintihan Sarah memanaskan telingaku
“Enaknya minum susu…eeemmm” kudengar Markus mendesah dan sreep sreep…mulutnya mengisap dan mengempot payudara Sarah.

Kocokan jari Markus pada vagina Sarah juga makin ganas, terdengar dari suara kecipak yang menandakan Sarah sudah sangat basah karena terangsang berat. Mereka bahkan meneruskan aktifitas mesum mereka ketika berhenti di palang kereta api menunggu kereta yang lewat.

Padahal saat itu ada truk besar di sebelah mobil kami dan si sopir melihat dengan jelas ke jok belakang, ia bahkan memanggil kernetnya ikutan melihat. Aku hanya diam saja pura-pura tidak tahu membiarkan istriku menjadi tontonan mereka seperti orang bego. Begitu portal terbuka, aku segera tancap gas secepat mungkin menghindari truk itu.

“Dek, ada yang liatin tuh!” aku memperingatkan mereka tanpa menoleh ke belakang.
“So what gitu loh?” jawab Sarah asal sambil terus menggeliatkan tubuhnya.

Okelah, mungkin saat ini, aku bisa membiarkan mereka berpuas-puas diri untuk saling menyetubuhi di dalam mobil, karena ketika kami sudah tiba di rumah orang tua Sarah, keadaan bakal kembali normal seperti biasanya. Namun ternyata, aku salah.

“Mamaaaa….” teriak Sarah sambil berlari menghambur keluar mobil.
“Tumben kamu lama sekali nyampenya sayang…?” Tanya Mama Sarah sambil menciumi pipi putri kesayangannya

“Biasanya, siang udah sampe… “
“Iya, tadi kami sekalian jalan-jalan, terlebih di jalan macet banget mah, maklumlah weekend…” bohong Sarah.

Padahal cerita sebenarnya, kami sama sekali tak jalan-jalan ataupun terkena kemacetan, kami lama hanya karena Sarah beberapa kali memintaku untuk menghentikan mobil guna membiarkan mereka bercinta di dalam mobil.

Dan satu hal aneh yang selalu Markus minta pada Sarah dan aku. Dia selalu menyuruhku untuk segera menyetubuhi istriku setiap kali ia selesai membuang seluruh sperma panasnya di dalam vagina Sarah.

“Mas Surya… sekarang giliran mas buat ngentotin bini mas… “ ujarnya tenang
“Biar kita sama-sama senang mas…” ujarnya dengan nada kemenangan.
“…..” aku yang tak mampu berkata apa-apa, hanya bisa mengangguk pelan .

“Tapi ingat mas… jangan sekali-kali mas make lubang bo’ol istri mas…. Karena lubang itu hanya buatku saja… hehe hehe…” tambah lelaki bajingan itu lagi sambil tertawa ngejek. Mendengar permintaan Markus itu, aku yang sudah terlanjur horny berat, mau tak mau pun pada akhirnya menyetubuhi istriku tercinta.

Walau di tiap persetubuhan itu, aku tahu jika Sarah sama sekali tak menikmati sodokan batang penis kecilku.

“Bagaimana Sarah bisa merasakan enak… jika setiap kali aku menyetubuhi lubang kenikmatannya, lubang itu terasa begitu los… sangat longgar…“ batinku

“aku hampir sama sekali tak merasakan gesekan nikmat pada dinding vaginanya sama sekali…” Jelas saja vagina istriku itu menjadi longgar, jika pada percintaan sebelumnya, vagina itu telah disesaki oleh batang lelaki yang sebesar air mineral kemasan.

“Jangan pernah nyoba buat masukin kontol kecilmu dalam bo’olku mas… bo’ol itu cuman buat mas Markus…” ucap Sarah mengingatkanku setiap kali aku mencoba untuk menyentuh lubang anusnya.

Sekilas, aku sebenarnya ingin membunuh mereka berdua, membelah vagina istriku dan memotong penis panjang Markus dengan pisau dapur. Tapi aku sama sekali tak ada keberanian untuk melakukan hal itu.

Yang bisa kulakukan hanyalah menerima segala perlakuan mereka padaku. Padahal, aku ingin sekali untuk dapat mencoba merasakan kenikmatan lubang anus istriku. Tapi sudahlah, rasa untuk ingin merasakan ANAL SEKS dengan istriku sendiri hanyalah mimpi, toh diberi vagina istriku yang sudah longgar ini saja aku sudah bahagia.

Dan, walau sama sekali tak merasakan kenikmatan lagi pada vagina Sarah, setelah beberapa menit menggoyang-goyangkan pinggulku, pada akhirnya aku juga ikut membuang sperma panasku pada vaginanya.

“Yaudah kalo gitu… yuk Mama udah siapin menu kegemaranmu sayang…. Spageti saos tiram…” ajak Mama Sarah pada kami bertiga.
“Ini pasti nak Markus, teman yang sering diceritakan oleh Sarah…”
“Iya mah… ini teman dekat Sarah yang paling Sarah sayangi…. “ Begitu kami masuk ke ruang makan, makanan telah tersaji dengan meriah.

Meja persegi panjang super besar dengan taplak yang menjuntai hingga lantai. Mama Papa Sarah duduk bersampingan di sisi paling ujung dari meja makan. Sarah dan Markus duduk di sisi sebelah kanan mereka, sedangkan aku, duduk menyendiri di sisi sebelah kiri, tepat di seberang tempat duduk Sarah.

Sepanjang waktu makan malam, Sarah hanya membicarakan tentang kehebatan Markus. Dan seolah memiliki mantra super ajaib, kedua orang tua Sarah pun sepertinya ikut-ikutan terlena akan segala cerita Sarah tentang Markus.

Mereka menanyakan segala hal tentang Markus, dan sama sekali melupakan akan kehadiranku. Markus, yang sedang berada di atas angin, hanya bisa tersenyum-senyum sambil beberapa kali melirik ke arah Sarah yang ada di sampingnya. Dari pandangan mata mereka berdua, aku tahu jika saat ini, mereka sedang melakukan sesuatu hal mesum.

Dan benar saja, tangan kanan Markus tak berada di atas meja. Seperti di film-film komedi, aku lalu berpura-pura secara tak sengaja, menjatuhkan lap makan ke lantai, dengan tujuan untuk mengetahui apa yang sedang Markus lakukan dengan tangan kanannya.

Anjrit. Walau sedang ngobrol dengan kedua orang tua mertuaku, sempat-sempatnya Markus mengobel vagina istriku tengan jari tangannya. Dan dari pandangan mataku sendiri, aku dapat melihat jika istriku juga menikmatinya. Karena, vagina kesayanganku itu terlihat begitu basah akan lendir-lendir kenikmatannya.

Lalu, tak kalah serunya, tangan kiri Sarah pun melakukan hal yang serupa. Ia mengocok batang panjang Markus yang telah menjulang keluar dari resleting celana pendeknya. Penis itu terlihat begitu mudah untuk dikocok karena saking panjangnya.

Mereka terlihat begitu tenang, seolah di sekitar mereka tak ada orang yang melihat. Terlebih ketika kedua orang tua Sarah sedang mengambil makanan atau ketika sedang lengah, tangan kiri Sarah terlihat begitu aktif mengocok batang panjang Markus dengan brutal.

Pantas saja dari tadi, muka Sarah bersemu merah dan beberapa kali ia menggigit bibir bawahnya. Ternyata mereka sedang memacu birahi. Aku tak dapat mempercayai mata kepalaku sendiri, Sarah dan Markus saling mendaki kepuasan di hadapan kami bertiga.

Dan hebatnya lagi, akting istriku dan selingkuhannya itu sama sekali tak menunjukkan sesuatu hal yang mecurigakan. Hingga untuk yang kesekian kalinya, ketika orang tua Sarah mengambil hidangan penutup di dapur. Sarah secepat kilat menundukkan kepalanya ke arah selangkangan Markus dan memberinya seks oral dengan ganas.

Tak perlu waktu lama bagi Sarah untuk dapat membuat batang panjang Markus memuncratkan sperma didalam mulutnya. Karena begitu seks oral itu selesai, Sarah langsung menghisap semua sperma Markus, menegakkan tubuhnya kembali seolah tak terjadi hal apa-apa.

Bahkan ketika orang tua sarah sudah kembali duduk di kursi meja makan, beberapa kali Sarah (dengan sengaja) meneteskan sperma Markus yang ada di dalam mulut ke arah dagunya dan memperlihatkan padaku ketika ia menelan habis cairan kental berwarna putih itu.

“Ini gila, mereka benar-benar sudah gila!” batinku.
“Mah… Sarah ngantuk… Sarah tinggal bubu duluan ya…” ujar Sarah mengakhiri acara makan malam kami.
“Iya… Mama juga udah ngantuk… tinggalin aja piring kotornya disini… ntar biarin si mbok yang ngebersihin ini semua… kalian langsung tidur aja…” balas Mama Sarah menutup acara makan malam itu.

Kami segera masuk ke kamar masing-masing. Seperti biasa, aku dan Sarah, tidur di kamar lama milik Sarah. Dan Markus tidur di kamar tamu. Malam ini, Sarah menggunakan baju tidur super transparan berwarna biru muda yang memperlihatkan segala lekuk tubuhnya. Berulang kali ia berkaca di depan kaca meja rias, dan menyisir rambut hitam panjangnya.

“Kamu cantik dek…” pujiku sambil ku kecup punggung tubuhnya.
“Makasih ya mas …” balas Sarah sambil tersenyum ke arahku.
“Tubuhmu bener-bener membuatku horny sayang… betapa beruntungnya aku bisa menikahimu… “
“Ahh.. kamu bisa aja mas… pasti kamu mau minta jatah ya…?”
“Hehe.. hehe…”
“Ntar ya… abis adek maen ama kontol gedhe punya mas Markus dulu…” jawabnya genit.
“Tapi khan kamu baru aja nyepongin dia dek…”

“Ya gapapa khan?” “Beri aku sedikit aja kesempatan buat ngerasain jepitan memek kamu duluan dek…” ibaku pada Sarah “Biarin aja Markus sebentar buat mengistirahatkan tititnya dulu…”

“Hahaha….” mendadak istriku tertawa geli.
“Kontol Markus ga seperti kontolmu mas…” “……”
“Walau kontolnya baru aja ngeluarin pejuh di mulut adeh… Kontol itu masih bisa bangun, nyodok, dan muasin adek, tak peduli berapa kalipun kontol itu ngeluarin pejuhnya …” “…..” Mendengar perkataan vulgarnya, aku tak mampu menjawab sepatah katapun.

Aku hanya bisa duduk di tepi tempat tidur dan melihat istri tercintaku berias cantik mungkin guna memuaskan selingkuhannya ketika mereka bersetubuh beberapa saat lagi.
“Mas… bisa tolongin adek?” pinta istriku dengan manja, setelah ia selesai berias diri.
“Minta tolong apa dek?” tanyaku dengan nada datar.

“Minta panggilin mas Markus kesini… adek udah siap untuk ngentot dengannya” balas istriku dengan senyum manjanya. “memek adek udah gatal… pengen disiram pejuh panasnya…” tambahnya lagi Dengan perasaan dongkol, dendam dan marah, akhirnya, aku keluar dari kamar Sarah dan menuju ke kamar tamu.

Kupanggil nama selingkuhan istriku dan kuketuk pintu kamarnya perlahan.
“Ada apa mas…?” tanya Markus sambil membuka pintu.

Lagi-lagi, ketika Markus membuka pintu kamar tidurnya, aku melihat hal yang paling membuatku iri padanya. Markus dan batang panjangnya. Seolah dengan sengaja, ia membuka pintu kamar tidurnya dengan tak mengenakan selembar pakaianpun. Sehingga siapapun yang berada di hadapannya, bakal melihat ketelanjangan dan batang panjang yang menggelantung di antara selangkangannya.

“Dipanggil istriku tuh…” jawabku ketus.

Dengan langkah santai, dan nekad, Markus yang masih dalam kondisi bugil, langsung bergegas ke kamar tidur Sarah. Dan aku? Menggantikan posisi Markus, tidur di kamar tamu yang ada di sebelah kamar tidur Sarah. Di Samping kamar tidur seharusnya aku dan istriku gunakan untuk bersetubuh.

Aku pikir, karena sekarang istriku dan selingkuhannya berada di rumah orang tuanya, mereka bakal melakukan persetubuhan dengan tenang. Namun sekali lagi, aku salah. Mereka tanpa malu-malu mendesah, melenguh, dan berteriak dengan lantang.

Mereka seolah tak ada rasa sungkan jika suara nafsu mereka terdengar hingga keluar kamar. Suara tepukan pantat dan paha yang bertumbukan, suara kecipakan lendir kenikmatan mereka, suara ringkikan spring bed tempat bersetubuh mereka, hingga suara jeritan mereka ketika sama-sama orgasme.

Tak henti-hentinya mereka berteriak, berteriak, dan berteriak sepanjang malam. Untungnya, Sarah sama sekali tak menyebut nama Markus ketika ia mendapatkan semua orgasme-orgasmenya.

Pagi harinya, kedua orang tua Sarah merasa sangat kesal padaku. Sepertinya mereka malam itu tak mendapatkan tidurnya dengan nyenyak. Karena hal itu terlihat dari lingkaran hitam yang muncul pada kedua mata mereka.

“Surya, kamu sama sekali tak menghargai keberadaan kami disini….” Ucap Papa Sarah padaku.
“Iya nak… Mama merasa seperti di hutan rimba mendengar Sarah berteriak-teriak kesetanan seperti itu…” tambah ibu Sarah lagi.
“Walau kalian sudah menikah, bukan berarti kalian bisa melakukan percintaan itu secara brutal seperti semalam…”
“Iya pak…maaf…” jawabku sambil mengangguk-angguk pasrah.

Aku tak mungkin memberitahukan ke mereka jika semalam bukan aku yang menyetubuhi putri kesayangan mereka, melainkan selingkuhannya, Markus. Jadi aku hanya bisa berkata “maaf… maaf dan maaf…” “Mah… sepertinya kamu juga harus menasehati Sarah deh… engga sepatutnya dia berisik seperti itu…” ucap Papa Sarah mengakhiri perbincangan kami. Liburan ini tak seperti yang aku bayangkan.

Walau untuk sejenak aku bisa melepaskan penat akan pekerjaan di kantor, tapi stress karena mendengar suara dan teriakan brutal istriku semalam, masih sangat terngiang-ngiang di telinga. Teriakan pendakian ke puncak kenikmatan yang bakal sulit aku lupakan.

Sampai setelah aku pikir semua telah normal seperti sediakalanya. Mama Sarah memanggilku secara pribadi.

“Nak… Mama mau ngobrol penting ama kamu…. Ikut Mama sebentar….”
“Ada apa lagi ini…?” tanyaku dalam hati.

Mama Sarah mengajakku kekamar tidur Sarah yang mana saat itu, kamar tidur tersebut telah kosong dan rapi kembali.

“Nak… Mama tahu… apa yang telah terjadi dengan rumah tangga kalian selama ini…” kata Mama Sarah, membuka percakapan. “Dan Mama juga tahu… siapa yang semalam membuat Sarah berteriak menggelijang seperti itu… Mama tahu siapa yang menyetubuhi putri kesayangan Mama… “
“Ja… Jadi… ma…”

“Sekarang…. Buka celanamu… Mama pengen tahu… apa yang menyebabkan putri Mama lebih memilih titit orang lain untuk bisa memuaskan memeknya….”

“Tapi mah… saya tid”

“Cepet lakukan… atau Mama harus panggil Papanya Sarah dan memberitahukan dia jika yang menyetubuhi putrinya semalam adalah Markus?” Merasa begitu terdesak, akhirnya kuturunkan celana pendekku dan membiarkan ibu mertuaku melihat batang penisku yang menggelantung lemas.

“Boleh Mama sentuh?”
“Maksud Mama…?” Tanpa menunggu jawabanku, Mama Sarah langsung mendekat ke arah posisiku berdiri.

Berjongkok di depan selangkanganku, lalu menatapku tajam. Aku yang masih sedikit bingung dengan maksud ibu mertuaku ini, hanya bisa mengangguk lemah. Disentuhnya ujung penisku dengan jemari lentik Mama Sarah. Diangkatnya kepala penisku dan diamatinya dengan seksama. Perlahan jemari itu berpindah, dari kepala ke batang penisku, lalu mulai mengurutnya perlahan.

“Mah… Aaa…. Aapa yang ibu lakukan…?” tanyaku dengan nada bingung.
“Enak….?” Tak menjawab pertanyaanku, Mama Sarah malah semakin mempercepat gerakan jemari tangannya.

Karena mendapat perlakuan yang tak pernah aku bayangkan selama ini dari ibu mertuaku, mau tak mau batang penisku yang semula menggelantung lemas, perlahan mulai mengeras dan mengacung ke atas.

Dan seolah ingin segera membuat batang penisku untuk ereksi sepenuhnya, Mama Sarah tiba-tiba mendekatkan kepalanya ke arah selangkanganku dan mulai mengecup ujung kepala penisku.

“Maaa…. “ Dijulurkanya lidah berwarna merah dengan air liur yang sudah membasah itu ke arah kepala penisku.

Dengan tanpa malu-malu, Mama Sarah segera menjilat, mengulum dan menghisap penis kecilku. Sedotan mulut Mama Sarah benar-benar hebat, tak heran jika putrinya, Sarah pun memiliki keahlian sepertinya.

“Aku keluar maahh….” Ujarku pasrah sambil memegang kepala ibu mertuaku itu. Empat semburan sperma panasku langsung muncrat ke dalam mulut Mama Sarah, dan dengan sigap, mulut Mama Sarah itupun langsung menelan semua sperma yang ada di dalam mulutnya. Mendadak, lututku terasa begitu lemas.

Kepalaku menjadi berat, dan mataku berkunang-kunang. Lalu, entah kenapa. Tiba-tiba aku jatuh terduduk di depan ibu mertuaku itu. “Hahaha….” Mama Sarah tertawa terbahak-bahak.

“Payah sekali dirimu Surya …” Aku yang sepertinya kehabisan tenaga, tak mampu menjawab kalimat Mama Sarah itu.
Hanya bisa diam sambil mengatur nafas.
“Ga heran kalo putri Mama memilih orang lain guna memuaskan nafsunya…” ujar Mama Sarah pelan.

“Kok titit kamu bisa sekecil itu sih Surya…? Titit Papa Sarah ketika lemas aja tak sekecil tititmu ketika ereksi…” tambah Mama Sarah sambil menggoyang-goyangkan batang penisku yang sudah mengecil lemas.

“….” Lagi-lagi, mendengar ucapan Mama Sarah, aku hanya bisa terdiam. Mama Sarah mendekat ke arahku duduk.
“Dan yang lebih parah, ejakulasimu cepat sekali…” kata Mama Surya sambil menatap wajahku dengan pandangan iba.

“Jadi bukanlah salah Sarah khan mah? Jika selanjutnya Sarah senantiasa pilih mas Markus buat muasin nafsu birahi Sarah…? ” Satu nada yang benar-benar aku kenal mendadak terdengar dari arah pintu.

Istriku dengan piyama tidurnya, mendadak nampak di dalam perbincangan kami.
“Sarah sih sesungguhnya tidak permasalahan dengan ukuran kontol mas Surya yang kecil itu… “jelas istriku.

“Yang Sarah permasalahkan adalah… dengan ukuran kontol seperti itu… mas Surya kok ya masihlah sempat-sempatnya kepikiran untuk selingkuh berbarengan wanita lain… terutama, wanita yang mas Surya ajak tidur, kian lebih satu orang…”

“Udah enak, dapet istri yang pengertian… eeeehhh… kok ya dia masihlah saja selingkuh…. Jadi bukanlah salah Sarah khan mah kalo……. Sini sayang…” Pinta Sarah sembari mangajak masuk, seorang yang sejak dari tadi ada diluar kamar tidurnya

“Bukan salah Sarah khan mah… jika kontol besar serta panjang ini yang perlu memuaskan nafsu birahi Sarah…” Tutur istriku tenang sembari menggandeng serta sesekali mengoocok-kocok benda yang menggelantung panjang diantara selangkangan Markus bak tangan yang dapat di ajak kemana saja.

“Bukan Sarah… sekalipun bukanlah salahmu… malah semestinya anda mujur memperoleh lelaki dengan batang titit seperti dia“ tutur Ibu Sarah tenang sembari tersenyum ke arah Markus. Dalam waktu relatif cepat pandanganku jadi gelap mendengar hal semacam itu.
Read more
 
Blogger Templates