Ads Header

Pages

Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Janda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Janda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2016

Memberikan Kenikmatan Kepada Kakak Ipar

Cerita Nafsu Birahi– Suatu hari rumahku kedatangan tamu dari Padang. Uni Tati kakak tertua istriku. Dia datang ke Jakarta karena tugas kantor ikut seminar di kantor pusat sebuah bank pemerintah. Uni adalah kepala cabang di Padang, Uni menginap dirumah kami. Dari pada menginap di hotel, mendingan juga uang hotel disimpan buat beli oleh-oleh.

Selama seminggu dia tinggal dirumahku. Dari istriku kutau kalau Uni Tati berusia 40 tahun. Suaminya sudah meningal 2 tahun lalu karena kecelakaan. Orangnya cantik, putih, tinggi semampai. Lebih tepatnya kubilang anggun karena orangnya cenderung diam dan sangat religius.



Selama di Jakarta, setiap ada kesempatan aku dan istriku mengajak Uni jalan-jalan, maklum ini kunjungan pertamanya ke Jakarta, biasanya ke mal karena waktunya sempit. Kami sudah berencana pas hari Sabtu akan jalan-jalan ke Taman Safari

Tiba hari Sabtu, istriku ternyata punya tugas mendadak dari kantor yaitu harus mengawasi pameran di Mangga Dua. Gagal deh rencana jalan-jalan ke Taman Safari. Istriku mengusulkan agar aku tetap mengantar Uni jalan-jalan misalkan ke Ancol saja dan pulangnya bisa jemput istriku di Mangga Dua. Sebetulnya aku agak males kalo nggak ada istriku. Aku merasa risih harus jalan berdua Uni karena orangnya pendiam. Akupun menduga Uni pasti nggak mau. Tapi tanpa dinyata ternyata Uni menyetujui usul istriku. cerita janda.

Pagi-pagi banget istriku sudah berangkat naik KRL dari stasiun Pondok Ranji. Rumahku yang didaerah Bintaro cukup jauh dari Mangga Dua dan Ancol. Sementara menunggu Uni yang lagi jalan-jalan pagi aku sendirian dirumah menyeruput kopi dan merokok. Kami berencana jalan jam 10 pagi.

Sehabis ngopi dan merokok, aku kembali tidur-tiduran di kamarku menunggu jam. Pikiranku melayang membayangkan kakak istriku ini. Uni Tati sangat menarik perhatianku secara sexual. Jeleknya aku, mulia keluar. Aku tertantang menaklukkan wanita baik-baik, aku tertantang menaklukkan Uni. Mumpung ada kesempatan. Dasar setan selalu mencari kesempatan menggoda.

Kuatur jebakan untuk memancing Uni. Aku buru-buru mandi membasuh badan dan keramas. Dengan berlilit handuk aku menunggu kepulangan Uni dari olahraga paginya. Sekitar 10 menit aku menunggu dibalik horden dan kulihat Uni memasuki pagar depan dengan pintu besi yang agak berderit.

Sengaja pintu rumah aku tutup tapi dibiarkan tak terkunci. Aku berlalu menuju kamarku dan segera memasang jebakan untuk mengejutkan Uni. Aku masuk kamarku dan segera bertelanjang bulat. Pintu kamar kubuka lebar-lebar, jendela kamar juga kubuka biar isi kamar mendapat penerangan jelas. cerita janda.

Kudengar pintu depan berbunyi seperti ditutup. Akupun mulai beraksi. Dengan bertelanjang bulat aku menunggu Uni melewati kamarku dengan harapan dia melihat tubuh dan juniorku yang sedari tadi berdiri tegak membayangkan petualangan ini.

Handuk kututupkan ke kepala seolah-olah sedang mengeringkan rambut yang basah sehabis keramas. Aku berpura-pura tidak melihat dan tidak menyadari kehadiran Uni. Dari bakik handuk yang kusibak sedikit, kulihat sepasang sepatu kets melintas kamarku. Aku yakin Uni pasti melihat tubuhku yang polos dengan junior yang tegak berdiri.

Nafsuku semakin menggeliat ketika kuamati dari balik handuk sepasang sepatu yang tadinya hampir melewati kamarku kini seperti terpaku berhenti didepan kamar tanpa beranjak. Aku semakin aktif menggosok-gosok rambutku dan berpura-pura tak tau kalo ada orang. Beberapa detik aku berbuat begitu dan aku merencanakan sensasi berikut. cerita janda.

Dengan tiba-tiba kuturunkan handuk dan menengok ke arah pintu kamar. Aku pura-pura kaget menyadari ada orang. “E..eee…maaf Uni, aku kira nggak ada orang,” kataku seraya mendekati pintu seolah-olah ingin menutup pintu. Aku tidak berusaha menutup kemaluanku yang menantang. Malah kubiarkan Uni terdiam memandangi tubuhku yang polos mendekat kearahnya.

Dengan tenagnya seolah aku berpakaian lengkap kudekati Uni dan sekali lagi memohon maaf.

“Maaf ya Uni, aku terbiasa seperti ini. Aku nggak sadar kalau ada tamu dirumah ini,” kataku sambil berdiri didepan pintu mau menutup daun pintu.

Tiba-tiba seperti tersadar Uni bergegas meninggalkanku sambil berkata “i…i…iya , tidak apa-apa…..”. Dia langsung masuk ke kamar belakang yang diperuntukkan kepadanya selama tingal dirumahku. Aku kemudian memakai celana pendek tanpa CD dan mengenakan kaos oblong lantas mengetok pintu kamar Uni.

“Ada apa Andy,” ujar Uni setelah membuka pintu. Kulihat dia tidak berani menatapku. Mungkin malu. Membaca situasi seperti itu, aku tidak menyiakan kesempatan. “Uni, maafkan Andy ya…aku lupa kalau ada tamu dirumah ini,” kataku merangkai obrolan biar nyambung. cerita janda.

“Nggap apa-apa, cuma Uni malu hati, sungguh Uni malu melihat kamu telanjang tadi,” balasnya tanpa mau menatap aku. “Kenapa musti malu? Kan nggak sengaja, apa lagi Uni kan sudah pernah menikah jadi sudah biasa melihat yang tegak-tegak seperti itu,” kataku memancing reaksinya.

“Sejujurnya Uni tadi kaget setengah mati melihat kamu begitu. Yang Uni malu, tanpa sadar Uni terpaku didepan kamarmu. Jujur aja Uni sudah lama tidak melihat seperti itu jadi Uni seperti terpana,” katanya sambil berlari ketempat tidurnya dan mulai sesenggukan. Aku jadi nggak tega. Kudekati Uni dan kuberanikan memegang pundaknya seraya menenangkannya.

“Sudalah nggak usah malu, kan cuma kita berdua yang tau.” Melihat reaksinya yang diam saja, aku mulai berani duduk disampingnya dan merangkul pundaknya. Kuusap-usap rambutnya agak lama tanpa berkata apa-apa. Ketika kurasa sudah agak tenang kusarankan untuk mandi aja.

Kutuntun tangannya dan sekonyong-konyong setan mendorongku untuk memeluk saat Uni sudah berdiri didepanku. Lama kupeluk erat, Uni diam saja. Mukanya diselusupkan didadaku. Payudaranya yang masih kencang serasa menempel didadaku. Sangat terasa debar jantungnya. Perlahan tangaku kuselusupkan ke balik kaos bagian belakang berbarengan dengan ciumanku yang mendarat dibibirnya. cerita janda.

“Jangan Ndy…dosa,” katanya sambil melepaskan diri dari pelukanku. Namun pelukanku tidak mau melepaskan tubuh sintal yang sedang didekapnya. Dan usaha kedua Uni sudah menyerah. Bibirnya dibiarkan kulumat walau masih tanpa perlawanan. Kucoba lagi menyelusupkan tangan dibalik kaosnya, kali ini bagian depan. Tangan kanan yang menggerayang langsung pada sasaran…putting susu sebelah kiri. Uni menggeliat.

Pilinan jariku di payudaranya membuat nafsunya naik. Aku tau dari desiran nafasnya yang mulai memburu. Aku heran juga dengan wanita ini, tetap diam tanpa perlawanan. Mungkin ini style wanita baik-baik. Bagusnya, semua apa yang kulakukan tidak ada penolakan. Seperti dicocok hidungnya Uni menurut saja dengan apa yang kulakukan terhadapnya.

Perlahan kubuka kaosnya, kubukan celana panjang trainings pack-nya, kubuka Bh nya, kubuka CD-nya , Uni diam saja. Kubopong tubuhnya ketempat tidur. Kubuka kaosku, kubuka celana pendekku……..Uni masih diam. cerita janda.

Lidahku mulai bermain disekujur tubuhnya. Dari ujung kepala, turun ke telinga, ke bibir, ke leher…perlahan kusapu dadanya, payudaranya kulumat dengan gigitan kecil…turun lagi kebawah, pusarnya kukorek dengan lidahku….turun lagi ke sekumpulan rambut dan kedua pahanya hujilat-jilat terus sampai keujung jempol kaki. Aku tidak merasa jijik karena tubuh Uni yang putih bersih sangat membangkitkan gairah.

Kukangkangkan kakinya, uni masih diam saja. Tapi kuamati matanya terpejam menikmati sentuhan tiap jengkal ditubuhnya. Baru ketika kudaratkan sapuan lidahku di bibuir vagina dan klitorisnya Uni tiba-tiba berteriak ,” Ahhhhhhhh……..”

“Kenapa Uni….Sakit?,” tanyaku. Uni hanya menggeleng. Dan aktifitas jilat menjilat vagina itu kulanjutkan. Uni menggelinjang dahsyat dan tiba-tiba dia meraung..”Andyyyyyyy… ayo Andy….jangan siksa aku dengan nikmat…ayo Andy tuntaskan….Uni udah nggak tahan,” katanya. cerita janda.

Aku tidak mau berlama-lama. Tanpa banyak variasi lagi langsung kunaiki kedua pahanya dan kutusukkan juniorku kelobah surganya yang sudah basah kuyup. Dengan sekali sentak semua batangku yang panjang melesak kedalam. Agak seret kurasakan, mungkin karena sudah dua tahun nganggur dari aktifitas. Kugenjot pantatku dengan irama tetap, keluar dan masuk. Uni semakin menggelinjang.

Aku pikir nggak usah lama-lama bersensasi, tuntaskan saja. Lain waktu baru lama. Melihat reaksinya pertanda mau orgasme , gerakan pantatku semakin cepat dan kencang. Uni meronta-ronta , menarik segala apa yang bisa ditariknya, bantal, sepre. Tubuhku tak luput dari tarikannya. Semua itu dilakukan dengan lebih banyak diam.

Dan tiba-tiba tubuhnya mengejang, “Ahhhhhhhhhhhhhhhh…….,” lolongan panjangnya menandakan dia mencapai puncak. Aku mempercepat kocokanku diatas tubuhnya. Tiba-tiba aku didikejutkan dengan hentakan tubuhnya dibarengi tanganya yang mendorong tubuhku. “Jangan keluarin didalam ….aku lagi subur,” suaranya tresengal-sengal ditengah gelombang kenikmatan yang belum mereda. cerita janda.

Kekagetanku hilang setelah tau reaksinya. “Baik Uni cantik, Andy keluarin diluar ya,” balasku sambil kembali memasukkan Junior ku yang sempat terlepas dari vaginanya karena dorongan yang cukup keras. Kembali kupompa pinggulku. Aku rasa kali ini Uni agak rileks. Tapi tetap dengan diam tanpa banyak reaksi Uni menerima enjotanku. Hanya wajahnya yang kadang-kadang meringis keenakan.

Dan sampailah saatnya, ketika punyaku terasa mulai berkedut-kedut, cepat-cepat kucabut dari vagina Uni dan kugencet batang juniorku sambil menyemprotkan sperma. Kuhitung ada lima kali juniorku meludah. Sekujur tubuh Uni yang mulus ketumpahan spermaku. Bahkan wajahnyapun belepotan cairan putih kental. Dan aku terkulai lemas penuh kenikmatan. Kulihat Uni bagkit mengambil tisu dan menyeka badan serta mukanya. cerita janda.

“Andy…kamu sudah memberikan apa yang belum pernah Uni rasakan,” kata wanita cantik itu sambil rebahan disampingku.

Dengan persetujuan Uni, kami menelpon istriku mengabarkan kalau batal ke Ancol karena Uni nggak enak badan. Padahal kami melanjutkan skenario cinta yang menyesatkan. Kami masih tiga kali lagi melakukan persetubuhan. Dalam dua sessi berikut sangat kelihatan perkembangan yang terjadi sama Uni.

Kalo permainan pertama dia banyak diam, permainan kedua mulai melawan, permainan ketiga menjadi dominan, permainan keempat menjadi buas….buas…sangat buas. Aku sempat memakai kondom biar bisa dengan leluasa menumpahkan sperma saat punyaku ada didalam vaginanya. cerita janda.

“Aku sadar ini dosa, tapi aku juga menikmati apa yang belum pernah aku rasakan selama bersuami. Suamiku itu adalah pilihan orang tua dan selisih 20 tahun dengan Uni. Sampai Uda meninggal, Uni tidak pernah merasakan kenikmatan sexual seperti ini. Sebetulnya Uni masih kepengen nikah lagi tapi tidak pernah ketemu orang yang tepat. Mungkin posisi Uni sebagai kepala bagian membuat banyak pria menjauh.”

Uni mencium keningku lalu tertidur dengan pulas.

Bagai Mana Dengan Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Ini Dan Baca Juga Cerita Nafsu Birahi Lainnya Dibawah Ini:
Read more

Selasa, 09 Agustus 2016

Nikmatnya Janda Tionghoa

Cerita Nafsu Birahi - Hi, perkenalkan namaku Tedi, keturunan Tionghoa yang berumur 27 tahun dengan tampang biasa-biasa saja. Dua cerita sebelumnya berjudul Pengalamanku Beronani dan Kenikmatan Oral Sex. Ini adalah ceritaku yang ketiga dan dalam cerita di sini, akan kuceritakan pengalamanku bersenggama dengan janda muda Tionghoa.

Peristiwa itu bermula ketika aku berkeinginan untuk mencari tempat kos-kosan di Surabaya. Pada saat itu, pencarian tempat kost-kostan ternyata membuahkan hasil. Setelah aku menetap di tempat kost-kostan yang baru, aku berkenalan dengan seorang wanita, sebut saja namanya Varia. Usia Varia saat itu baru menginjak 30 tahun dengan status janda Tionghoa beranak satu.



Perkenalanku semakin berlanjut. Pada saat itu, aku baru saja habis mandi sore. Aku melihat Varia sedang duduk-duduk di kamarnya sambil nonton TV. Kebetulan, kamarku dan kamarnya bersebelahan. Sehingga memudahkanku untuk mengetahui apa yang diperbuatnya di kamarnya.

Dengan hanya mengenakan handuk, aku mencoba menggoda Varia. Dengan terkejut ia lalu meladeni olok-olokanku. Aku semakin berani mengolok-oloknya. Akhirnya ia mengejarku. Aku pura-pura berusaha mengelak dan mencoba masuk ke kamarku. Eh.. ternyata dia tidak menghentikan niatnya untuk memukulku dan ikut masuk ke kamarku.

"Awas kau.. entar kuperkosa baru tahu.." gertaknya.
"Coba kalau berani.." tantangku penuh harap.

Aku menatap matanya, kulihat, ada kerinduan yang selama ini terpendam, oleh jamahan lelaki. Kemudian, tanpa dikomando ia menutup kamarku. Aku yang sebenarnya juga menahan gairah tidak membuang-buang kesempatan itu.

Aku meraih tangannya, Varia tidak menolak. Kemudian kami sama-sama berpagutan bibir. Ternyata, wanita cantik ini sangat agresif. Belum lagi aku mampu berbuat lebih banyak, ternyata ia menyambar handuk yang kukenakan. Ia terkejut ketika melihat kejantananku sudah setengah berdiri. Tanpa basa-basi, ia menyambar kejantananku serta meremas-remasnya.

"Oh.. ennaakk.. terussh.." desisanku ternyata mengundang gairahnya untuk berbuat lebih jauh. Tiba-tiba ia berjongkok, serta melumat kepala kontolku.

"Uf.. Sshh.. Auhh.. Nikmmaat.." Ia sangat mahir seperti tidak memberikan kesempatan kepada untuk berbuat tanya.

Dengan semangat, ia terus mengulum dan mengocok kontolku. Aku terus dibuai dengan sejuta kenikmatan. Sambil terus mengocok, mulutnya terus melumat dan memaju-mundurkan kepalanya.

"Oh.. aduhh.." teriakku kenikmatan.

Akhirnya hampir 10 menit aku merasakan ada sesuatu yang mendesak hendak keluar dari kontolku.

"Oh.. tahann.. sshh. Uh.. aku mau kkeluaar.. Oh.."

Dengan seketika muncratlah air maniku ke dalam mulutnya. Sambil terus mencok dan mengulum kepala kontolku, Varia berusaha membersihkan segala mani yang masih tersisa.

Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Varia tersenyum. Lalu aku mencium bibirnya. Kami berciuman kembali. Lidahnya terus dimasukkan ke dalam mulutku. Aku sambut dengan mengulum dan menghisap lidahnya.

Perlahan-lahan kejantananku bangkit kembali. Kemudian, tanpa kuminta, Varia melepaskan seluruh pakaiannya termasuk bra dan CDnya. Mataku tak berkedip. Buah dadanya yang montok berwarna putih mulus dengan puting yang kemerahan terasa menantang untuk kulumat. Kuremas-remas lembut payudaranya yang semakin bengkak.

"Ohh.. Teruss Ted.. Teruss.." desahnya.

Kuhisap-hisap pentilnya yang mengeras, semnetara tangan kiriku menelusuri pangkal pahanya. Akhirnya aku berhasil meraih belahan yang berada di celah-celah pahanya. Tanganku mengesek-geseknya. Desahan kenikmatan semakin melenguh dari mulutnya. Kemudian ciumanku beralih ke perut dan terus ke bawah pusar. Aku membaringkan tubuhnya ke kasur. Tanpa dikomando, kusibakkan pahanya. Aku melihat vaginanya berwarna merah muda dengan rumput-hitam yang tidak begitu tebal.

Dengan penuh nafsu, aku menciumi memeknya dan kujilati seluruh bibir kemaluannya.

"Oh.. teruss.. Ted.. Aduhh.. Nikmat.."

Aku terus mempermainkan klitorisnya yang lumayan besar. Seperti orang yang sedang mengecup bibir, bibirku merapat dibelahan vaginanya dan kumainkan lidahku yang terus berputar-putar di kelentitnya seperti ular cobra.

"Ted.. oh.. teruss sayangg.. Oh.. Hhh."

Desis kenikmatan yang keluar dari mulutnya, semakin membuatku bersemangat. Kusibakkan bibir kemaluannya tanpa menghentikkan lidah dan sedotanku beraksi.

"Srucuup-srucuup.. oh.. Nikmat.. Teruss.. Teruss.." teriakannya semakin merintih.

Tiba-tiba ia menekankan kepalaku ke memeknya, kuhisap kuat lubang memeknya. Ia mengangkat pinggul, cairan lendir yang keluar dari memeknya semakin banyak.

"Aduhh.. Akku.. keluuaarr.. Oh.. Oh.. Croot.. Croot."

Ternyata Varia mengalami orgasme yang dahsyat. Sebagaimana yang ia lakukan kepadaku, aku juga tidak menghentikan hisapan serta jilatan lidahku dari memeknya. Aku menelan semua cairan yang kelyuar dari memeknya. Terasa sedikit asin tapi nikmat.

Varia masih menikmati orgasmenya, dengan spontan, aku memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang basah. Bless..

"Oh.. enakk.."

Tanpa mengalami hambatan, kontolku terus menerjang ke dalam lembutnya vagina Varia.

"Oh.. Variaa.. sayang.. enakk."

Batang kontolku sepeti dipilin-pilin. Varia yang mulai bergairah kembali terus menggoyangkan pinggulnya.

"Oh.. Ted.. Terus.. Sayang.. Mmhhss.."

Kontolku kuhujamkan lagi lebih dalam. Sekitar 15 menit aku menindih Varia.. Lalu ia meminta agar aku berada di bawah.

"Kamu di bawah ya, sayang.." bisiknya penuh nikmat.

Aku hanya pasra. Tanpa melepaskan hujaman kontolku dari memeknya, kami merobah posisi. Dengan semangat menggelora, kontolku terus digoyangnya. Varia dengan hentakan pinggulnya yang maju-mundur semakin menenggelamkan kontolku ke liang memeknya.

"Oh.. Remas dadaku.. Sayaangg. Terus.. Oh.. Au.. Sayang enakk.." erangan kenikmatan terus memancar dari mulutnya.
"Oh.. Varia.. terus goyang sayang.." teriakku memancing nafsunya.

Benar saja. Kira-kira 15 menit kemudian goyang pinggulnya semakin dipercepat. Sembari pinggulnya bergoyang, tangannya menekan kuat ke arah dadaku. Aku mengimbanginya dengan menaikkan pinggulku agar kontolku menghujam lebih dalam.

"Tedii.. Ah.. aku.. Keluuaarr, sayang.. Oh.."

Ternyata Varia telah mencapai orgasme yang kedua. Aku semakin mencoba mengayuh kembali lebih cepat. Karena sepertinya otot kemaluanku sudah dijalari rasa nikmat ingin menyemburkan sperma.

Kemudian aku membalikkan tubuh Varia, sehingga posisinya di bawah. Aku menganjal pinggulnya dengan bantal. Aku memutar-mutarkan pinggulku seperti irama goyang dangdut.

"Oh.. Varia.. Nikmatnya.. Aku keluuarr.."

Crott.. Crott.. Tttcrott.

Aku tidak kuat lagi mempertahankan sepermaku.. Dan langsung saja memenuhi liang vagina Varia.

"Oh.. Ted.. kau begitu perkasa."

Telah lama aku menantikan hal ini. Ujarnya sembari tangannya terus mengelus punggungku yang masih merasakan kenikmatan karena, Varia memainkan otot kemaluannya untuk meremas-remas kontolku.

Kemudian, tanpa kukomando, Varia berusaha mencabut kontolku yang tampak mengkilat karena cairan spermaku dan cairan memeknya. Dengan posisi 69, kemudian ia meneduhi aku dan langsung mulutnya bergerak ke kepala kontolku yang sudah mulai layu. Aku memandangi lobang memeknya. Varia terus mengulum dan memainkan lidahnya di leher dan kepala kontolku. Tangan kanannya terus mengocok-ngocok batang kontolku. Sesekali ia menghisap dengan keras lobang kontolku. Aku merasa nikmat dan geli.

"Ohh.. Varia.. Geli.." desahku lirih.

Namun Varia tidak peduli. Ia terus mengecup, mengulum dan mengocok-ngocok kontolku. Aku tidak tinggal diam, cairan rangsangan yang keluar dari vagina varia membuatku bergairah kembali. Aku kemudian mengecup dan menjilati lobang memeknya. Kelentitnya yang berada di sebelah atas tidak pernah aku lepaskan dari jilatan lidahku. Aku menempelkan bibirku dikelentit itu.

"Oh.. Ted.. nikmat.. ya.. Oh.." desisnya.

Varia menghentikan sejenak aksinya karena tidak kuat menahan kenikmatan yang kuberikan.

"Oh.. Terus.. Sss." desahnya sembari kepalanya berdiri tegak.

Kini mememeknya memenuhi mulutku. Ia menggerak-gerakkan pinggulnya.

"Ohh.. Yaahh. Teruss.. Oh.. Ooohh" aku menyedot kuat lobang vaginanya.
"Ted.. Akukk ohh.. Keluuaarra.. Ssshhss.."

Ia menghentikan gerakannya, tapi aku terus menyedot-nyedot lobang memeknya dan hampir senmua cairan yang keuar masuk kemulutku. Kemudian dengan sisa-sisa tenaganya, kontolku kembali menjadi sasaran mulutnya. Aku sangat suka sekali dan menikmatinya. Kuakui, Varia merupakan wanita yang sangat pintar membahagiakan pasangannya.

Varia terus menghisap dan menyedoti kontolku sembari mengocok-ngocoknya. Aku merasakan nikmat yang tiada tara.

"Oh.. Varia.. Teruss.. Teruss.." rintihku menahan sejuta kenikmatan. Varia terus mempercepat gerakan kepalanya.
"Au.. Varia.. Aku.. Keluuarr.. Oh.."

Croott.. Croott.. Croot..

Maniku tumpah ke dalam mulutnya. Sementara varia seakan tidak merelakan setetespun air maniku meleleh keluar.

"Terimakasih sayang.." ucapku..

Aku merasa puas.. Ia mengecup bibirku.

"Ted.. mungkinkah selamanya kita bisa seperti ini. Aku sangat puas dengan pelayananmu. Aku tidak ingin perbuatan ini kau lakukan dengan wanita lain. Aku sangat puas. Biarlah aku saja yang menerima kepuasan ini." Aku hanya terdiam.

Sejak saat itu, aku sering meniduri di kamarnya, selalu dalam keadaan telanjang bulat, terkadang dia juga tidur di dalam kamar kostku, tentu saja dengan mengendap-endap. Terkadang, kami tidur saling tumpang tindih, membentuk posisi 69, aku tertidur dengan menghirup aroma segar kemaluannya, sedangkan Varia mengulum penisku. Di kala pagi, penisku selalu ereksi, diemut-emutnya penisku yang ereksi itu, sementara aku dengan cueknya tetap tidur sambil menikmati oralnya, terkadang aku jilat kemaluannya karena gemas.

Bagai Mana Ceritanya?
Bagus Kan!
Jangan Lupa Baca Juga Cerita Nafsu Birahi Lainnya Dan Klik Bagikan Juga :
Read more

Selasa, 02 Agustus 2016

Cerita Sex Mertuaku Selingkuhan Ku

Cerita Nafsu Birahi - Mertuaku adalah seorang janda dengan kulit yang putih, cantik, lembut, dan berwajah keibu ibuan, dia selalu mengenakan kebaya jika keluar rumah. Dan mengenakan daster panjang bila didalam rumah, dan rambutnya dikonde keatas sehingga menampakkan kulit lehernya yang putih jenjang.



Sebenarnya semenjak aku masih pacaran dengan anaknya, aku sudah jatuh cinta padanya Aku sering bercengkerama dengannya walaupun aku tahu hari itu pacarku kuliah. Diapun sangat baik padaku, dan aku diperlakukan sama dengan anak anaknya yang lain. Bahkan tidak jarang bila aku kecapaian, dia memijat punggungku.

Setelah aku kawin dengan anaknya dan memboyong istriku kerumah kontrakanku, mertuaku rajin menengokku dan tidak jarang pula menginap satu atau dua malam. Karena rumahku hanya mempunyai satu kamar tidur, maka jika mertuaku menginap, kami terpaksa tidur bertiga dalam satu ranjang. Biasanya Ibu mertua tidur dekat tembok, kemudian istri ditengah dan aku dipinggir. Sambil tiduran kami biasanya ngobrol sampai tengah malam, dan tidak jarang pula ketika ngobrol tanganku bergerilya ketubuh istriku dari bawah selimut, dan istriku selalu mendiamkannya.

Bahkan pernah suatu kali ketika kuperkirakan mertuaku sudah tidur, kami diam diam melakukan persetubuhan dengan istriku membelakangiku dengan posisi agak miring, kami melakukankannya dengan sangat hati hati dan suasana tegang. Beberapa kali aku tepaksa menghentikan kocokanku karena takut membangunkan mertuaku. Tapi akhirnya kami dapat mengakhirinya dengan baik aku dan istriku terpuaskan walaupun tanpa rintihan dan desahan istriku.

Suatu malam meruaku kembali menginap dirumahku, seperti biasa jam 21.00 kami sudah dikamar tidur bertiga, sambil menonton TV yang kami taruh didepan tempat tidur. Yang tidak biasa adalah istriku minta ia diposisi pinggir, dengan alasan dia masih mondar mandir kedapur. Sehingga terpaksa aku menggeser ke ditengah walaupun sebenarnya aku risih, tetapi karena mungkin telalu capai, aku segera tidur terlebih dahulu.

Aku terjaga pukul 2.00 malam, layar TV sudah mati. ditengah samar samar lampu tidur kulihat istriku tidur dengan pulasnya membelakangiku, sedangkan disebelah kiri mertuaku mendengkur halus membelakangiku pula. Hatiku berdesir ketika kulihat leher putih mulus mertuaku hanya beberapa senti didepan bibirku, makin lama tatapan mataku mejelajahi tubuhnya, birahiku merayap melihat wanita berumur yang lembut tergolek tanpa daya disebelahku..

Dengan berdebar debar kugeser tubuhku kearahnya sehingga lenganku menempel pada punggungnya sedangkan telapak tanganku menempel di bokong, kudiamkan sejenak sambil menunggu reaksinya. Tidak ada reaksi, dengkur halusnya masih teratur, keberanikan diriku bertindak lebih jauh, kuelus bokong yang masih tertutup daster, perlahan sekali, kurasakan birahiku meningkat cepat. Penisku mulai berdiri dan hati hati kumiringkan tubuhku menghadap mertuaku.

Kutarik daster dengan perlahan lahan keatas sehingga pahanya yang putih mulus dapat kusentuh langsung dengan telapak tanganku. Tanganku mengelus perlahan kulit yang mulus dan licin, pahanya keatas lagi pinggulnya, kemudian kembali kepahanya lagi, kunikmati sentuhan jariku inci demi inci, bahkan aku sudah berani meremas bokongnya yang sudah agak kendor dan masih terbungkus CD.

Tiba tiba aku dikejutkan oleh gerakan mengedut pada bokongnya sekali, dan pada saat yang sama dengkurnya berhenti.
Aku ketakutan, kutarik tanganku, dan aku pura pura tidur, kulirik mertuaku tidak merubah posisi tidurnya dan kelihatannya dia masih tidur. Kulirik istriku, dia masih membelakangiku, Penisku sudah sangat tegang dan nafsu birahiku sudah tinggi sekali, dan itu mengurangi akal sehatku dan pada saat yang sama meningkatkan keberanianku.

Setelah satu menit berlalu situasi kembali normal, kuangkat sarungku sehingga burungku yang berdiri tegak dan mengkilat menjadi bebas, kurapatkan tubuh bagian bawahku kebokong mertuaku sehingga ujung penisku menempel pada pangkal pahanya yang tertutup CD. Kenikmatan mulai menjalar dalam penisku, aku makin berani, kuselipkan ujung penisku di jepitan pangkal pahanya sambil kudorong sedikit sedikit, sehingga kepala penisku kini terjepit penuh dipangkal pahanya, rasa penisku enak sekali, apalagi ketika mertuaku mengeser kakinya sedikit, entah disengaja entah tidak.

Tanpa meninggalkan kewaspadaan mengamati gerak gerik istri, kurangkul tubuh mertuaku dan kuselipkan tanganku untuk meremas buah dadanya dari luar daster tanpa BH. Cukup lama aku melakukan remasan remasan lembut dan menggesekan gesekkan penisku dijepitan paha belakangnya. Aku tidak tahu pasti apakah mertuaku masih terlelap tidur atau tidak tapi yang pasti kurasakan puting dibalik dasternya terasa mengeras. Dan kini kusadari bahwa dengkur halus dari mertuaku sudah hilang.., kalau begitu..pasti ibuku mertuaku sudah terjaga..? Kenapa diam saja? kenapa dia tidak memukul atau menendangku, atau dia kasihan kepadaku? atau dia menikmati..? Oh.. aku makin terangsang.

Tak puas dengan buah dadanya, tanganku mulai pindah keperutnya dan turun keselangkangannya, tetapi posisinya yang menyebabkan tangan kananku tak bisa menjangkau daerah sensitifnya. Tiba tiba ia bergerak, tangannya memegang tanganku, kembali aku pura pura tidur tanpa merrubah posisiku sambil berdebar debar menanti reaksinya. Dari sudut mataku kulihat dia menoleh kepadaku, diangkatnya tanganku dengan lembut dan disingkirkannya dari tubuhnya, dan ketika itupun dia sudah mengetahui bahwa dasternya sudah tersingkap sementara ujung penisku yang sudah mengeras terjepit diantara pahanya.
Jantungku rasanya berhenti menunggu reaksinya lebih jauh. Dia melihatku sekali lagi, terlihat samar samar tidak tampak kemarahan dalam wajahnya, dan ini sangat melegakanku .

Dan yang lebih mengejutkanku adalah dia tidak menggeser bokongnya menjauhi tubuhku, tidak menyingkirkan penisku dari jepitan pahanya dan apalagi membetulkan dasternya. Dia kembali memunggungiku meneruskan tidurnya, aku makin yakin bahwa sebelumnya mertuaku menikmati remasanku di payudaranya, hal ini menyebabkan aku berani untuk mengulang perbuatanku untuk memeluk dan meremas buah dadanya. Tidak ada penolakan ketika tanganku menyelusup dan memutar mutar secara lembut langsung keputing teteknya melalui kancing depan dasternya yang telah kulepas. Walaupun mertuaku berpura pura tidur dan bersikap pasif, tapi aku dengar nafasnya sudah memburu.

Cukup lama kumainkan susunya sambil kusodokkan kemaluanku diantara jepitan pahanya pelan pelan, namun karena pahanya kering, aku tidak mendapat kenikmatan yang memadai, Kuangkat pelan pelan pahanya dengan tanganku, agar aku penisku terjepit dalam pahanya dengan lebih sempurna, namun dia justru membalikkan badannya menjadi terlentang, sehingga tangannya yang berada disebelah tangannya hampir menyetuh penisku, bersamaan dengan itu tangan kirinya mencari selimutnya menutupi tubuhnya. Kutengok istri yang berada dibelakangku, dia terlihat masih nyenyak tidurnya dan tidak menyadari bahwa sesuatu sedang terjadi diranjangnya.

Kusingkap dasternya yang berada dibawah selimut, dan tanganku merayap kebawah CDnya. Dan kurasakan vaginanya yang hangat dan berbulu halus itu sudah basah. Jari tanganku mulai mengelus, mengocok dan meremas kemaluan mertuaku. Nafasnya makin memburu sementara dia terlihat berusaha untuk menahan gerakan pinggulnya, yang kadang kadang terangkat, kadang mengeser kekiri kanan sedikit. Kunikmati wajahnya yang tegang sambil sekali kali menggigit bibirnya. Hampir saja aku tak bisa menahan nafsu untuk mencium bibirnya, tapi aku segera sadar bahwa itu akan menimbulkan gerakan yang dapat membangunkan istriku.

Setelah beberapa saat tangan kanannya masih pasif, maka kubimbing tangannya untuk mengelus elus penisku, walaupun agak alot akhirnya dia mau mengelus penisku, meremas bahkan mengocoknya. Agak lama kami saling meremas, mengelus, mengocok dan makin lama cepat, sampai kurasakan dia sudah mendekati puncaknya, mertuakan membuka matanya, dipandanginya wajahku erat erat, kerut dahinya menegang dan beberapa detik kemudian dia menghentakkan kepalanya menengadah kebelakang. Tangan kirinya mencengkeram dan menekan tanganku yang sedang mengocok lobang kemaluannya. Kurasakan semprotan cairan di pangkal telapak tanganku. Mertuaku mencapai puncak kenikmatan, dia telah orgasme. Dan pada waktu hampir yang bersamaan air maniku menyemprot kepahanya dan membasahi telapak tangannya. Kenikmatan yang luar biasa kudapatkan malam ini, kejadianya begitu saja terjadi tanpa rencana bahkan sebelumnya membayangkanpun aku tidak berani.

Sejak kejadian itu, sudah sebulan lebih mertuaku tidak pernah menginap dirumahku, walaupun komunikasi dengan istriku masih lancar melalui telpon. Istriku tidak curiga apa apa tetapi aku sendiri merasa rindu, aku terobsesi untuk melakukannya lebih jauh lagi. Kucoba beberapa kali kutelepon, tetapi selalu tidak mau menerima. Akhirnya setelah kupertimbangkan maka kuputuskan aku harus menemuinya.

Hari itu aku sengaja masuk kantor separo hari, dan aku berniat menemuinya dirumahnya, sesampai dirumahnya kulihat tokonya sepi pengunjung, hanya dua orang penjaga tokonya terlihar asik sedang ngobrol. Tokonya terletak beberapa meter dari rumah induk yang cukup besar dan luas. Aku langsung masuk kerumah mertuaku setelah basa basi dengan penjaga tokonya yang kukenal dengan baik. Aku disambut dengan ramah oleh mertuaku, seolah olah tidak pernah terjadi sesuatu apa apa, antara kami berdua, padahal sikapku sangat kikuk dan salah tingkah.

"Tumben tumbenan mampir kesini pada jam kantor?"
"Ya Bu, soalnya Ibu nggak pernah kesana lagi sih"
Mertuaku hanya tertawa mendengarkan jawabanku
"Ton. Ibu takut ah.. wong kamu kalau tidur tangannya kemana mana.., Untung istrimu nggak lihat, kalau dia lihat.. wah.. bisa berabe semua nantinya.."
"Kalau nggak ada Sri gimana Bu..?" tanyaku lebih berani.
"Ah kamu ada ada saja, Memangnya Sri masih kurang ngasinya, koq masih minta nambah sama ibunya."
"Soalnya ibunya sama cantiknya dengan anaknya" gombalku.
"Sudahlah, kamu makan saja dulu nanti kalau mau istirahat, kamar depan bisa dipakai, kebetulan tadi masak pepes" selesai berkata ibuku masuk ke kamarnya.

Aku bimbang, makan dulu atau menyusul mertua kekamar. Ternyata nafsuku mengalahkan rasa lapar, aku langsung menyusul masuk kekamar, tetapi bukan dikamar depan seperti perintahnya melainkan kekamar tidur mertuaku. Pelan pelan kubuka pintu kamarnya yang tidak terkunci, kulihat dia baru saja merebahkan badannya dikasur, dan matanya menatapku, tidak mengundangku tapi juga tidak ada penolakan dari tatapannya. Aku segera naik keranjang dan perlahan lahan kupeluk tubuhnya yang gemulai, dan kutempelkan bibirku penuh kelembutan. Mertuaku menatapku sejenak sebelum akhirnya memejamkan matanya menikmati ciuman lembutku. Kami berciuman cukup lama, dan saling meraba dan dalam sekejap kami sudah tidak berpakaian, dan nafas kami saling memburu. Sejauh ini mertuaku hanya mengelus punggung dan kepalaku saja, sementara tanganku sudah mengelus paha bagian dalam. Ketika jariku mulai menyentuh vaginanya yang tipis dan berbulu halus, dia sengaja membuka pahanya lebar lebar, hanya sebentar jariku meraba kemaluanya yang sudah sangat basah itu, segera kulepas ciumanku dan kuarahkan mulutku ke vagina merona basah itu.

Pada awalnya dia menolak dan menutup pahanya erat erat.
"Emoh.. Ah nganggo tangan wae, saru ah.. risih.." namun aku tak menghiraukan kata katanya dan aku setengah memaksa, akhirnya dia mengalah dan membiarkan aku menikmati sajian yang sangat mempesona itu, kadang kadang kujilati klitorisnya, kadang kusedot sedot, bahkan kujepit itil mertuaku dengan bibirku lalu kutarik tarik keluar.
"Terus nak Ton.., Enak banget.. oh.. Ibu wis suwe ora ngrasakke penak koyo ngene sstt"
Mertuaku sudah merintih rintih dengan suara halus, sementara sambil membuka lebar pahanya, pinggulnya sering diangkat dan diputar putar halus. Tangan kiriku yang meremas remas buah dadanya, kini jariku sudah masuk kedalam mulutnya untuk disedot sedot.

Ketika kulihat mertuaku sudah mendekati klimax, maka kuhentikan jilatanku dimemeknya, kusodorkan kontolku kemulutnya, tapi dia membuang muka kekiri dan kekanan, mati matian tidak mau mengisap penisku. Dan akupun tidak mau memaksakan kehendak, kembali kucium bibirnya, kutindih tubuhnya dan kudekap erat erat, kubuka leber lebar pahanya dan kuarahkan ujung penisku yang mengkilat dibibr vaginanya.

Mertuaku sudah tanpa daya dalam pelukanku, kumainkan penisku dibibir kemaluannya yang sudah basah, kumasukkan kepala penis, kukocok kocok sedikt, kemudian kutarik lagi beberapa kali kulakukan.
"Enak Bu?"
"He eh, dikocok koyo ngono tempikku keri, wis cukup Ton, manukmu blesekno sin jero.."
"Sekedap malih Bu, taksih eco ngaten, keri sekedik sekedik"
"Wis wis, aku wis ora tahan meneh, blesekno sih jero meneh Ton oohh.. ssttss.. Ibu wis ora tahan meneh, aduh enak banget tempikku" sambil berkata begitu diangkatnya tinggi tinggi bokongnya, bersamaan dengan itu kumasukkan kontolku makin kedalam memeknya sampai kepangkalnya, kutekan kontolku dalam dalam, sementara Ibu mertuaku berusaha memutar mutar pinggulnya, kukocokkan penisku dengan irama yang tetap, sementara tubuhnya rapat kudekap, bibirku menempel dipipinya, kadang kujilat lehernya, ekspresi wajahnya berganti ganti. Rupanya Ibu anak sama saja, jika sedang menikmati sex mulutnya tidak bisa diam, dari kata jorok sampai rintihan bahkan mendekati tangisan.

Ketika rintihannya mulai mengeras dan wajahnya sudah diangkat keatas aku segera tahu bahwa mertua akan segera orgasme, kukocok kontolku makin cepat.
"Ton..aduh aduh.. Tempikku senut senut, ssttss.. Heeh kontolmu gede, enak banget.. Ton aku meh metu.. oohh.. Aku wis metu..oohh."

Mertuaku menjerit cukup keras dan bersamaan dengan itu aku merasakan semprotan cairan dalam vaginanya. Tubuhnya lemas dalam dekapanku, kubiarkan beberapa menit untuk menikmati sisa sisa orgasmenya sementara aku sendiri dalam posisi nanggung.
Kucabut penisku yang basah kuyup oleh lendirnya memekknya, dan kusodorkan ke mulutnya, tapi dia tetap menolak namun dia menggegam penisku untuk dikocok didepan wajahnya. Ketika kocokkannya makin cepat, aku tidak tahan lagi dan muncratlah lahar maniku kewajahnya.

Siang itu aku sangat puas demikian juga mertuaku, bahkan sebelum pulang aku sempat melakukannya lagi, ronde kedua ini mertuaku bisa mengimbangi permainanku, dan kami bermain cukup lama dan kami bisa sampai mencapai orgasme pada saat yang sama.

Bagai Mana Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Ini Dan Baca Juga Cerita Nafsu Birahi Lainnya Di Bawah Ini:
Read more

Senin, 01 Agustus 2016

Cerita Sex Nafsu Tante Kepadaku

Cerita Nafsu Birahi - Setelah lulus SMA, saya ingin merantau kuliah di Jawa. Oleh karena itu Surabaya yang menjadi tujuan, karena saya masih punya keluarga dari ibu di sana. Paling tidak mbah saya dari ibu masih lengkap dan tante-tante (bulik) dari ibu juga banyak di sana.

Mungkin saya cucu kesayangan, sehingga kedatangan saya disambut gembira oleh kedua mbah dan tante-tante. Rumahnya tidak terlalu besar, tetapi memiliki halaman lumayan. Kalau tidak salah yang ukurannya sekitar 500 m2. Selama mencari perguruan tinggi yang cocok, saya menginap di rumah mbah. Kelak jika sudah diterima di Perguruan Tinggi, saya berencana kost.

Saya tidur sekamar dengan mbah. Berhubung kamarnya hanya cukup dimuat oleh sebuah tempat tidur ukuran besar, saya diajak oleh tante saya tidur di kolong tempat tidur mbah. Rupanya dia memang biasa tidur di situ dengan gelaran kasur tipis. Bagi saya malah enak tidur di kolong begitu, selain rada sensansi karena gelap, juga leluasa karena ternyata tempatnya cukup luas.

Satu, dua, tiga malam saya tidur biasa-biasa saja. Meskipun di sebelah saya tidur tante saya yang belum kawin dan beda usia kami sekitar 7 tahun. Dia adalah adik ibu saya yang terkecil. Dia memang anak bungsu. Saya tidak berminat sama tente saya ini, karena selain segan tentunya dia bukan tipe saya. Orangnya agak hitam, susunya tidak terlalu besar. Meski dia sudah bekerja, tetapi cara berpakaiannya sederhana dan jauh dari sebutan sexy.



Jadinya saya walau tidur berdua dan bergelap-gelapan, tidak ada perasaan apa-apa. Sampai satu malam saya terbangun karena rasanya gerah. Pelan-pelan saya buka mata saya untuk mengenali situasi. Ternyata saya dijadikan guling oleh tante saya. Meski gerah, berat, dikeloni oleh wanita dewasa begini, tentunya pelan-pelan ya saya tidak dapat netral lagi.

Sedapat mungkin saya menetralkan emosi. Namun, semampu-mampunya mengontrol emosi, ada juga yang tidak mau dikontrol. Tapi, saya tetap bersikap diam. Untungnya adik kecil ini tidak tertindih kaki tante saya, sehingga saya masih dapat berdiam. Waktu itu saya berpikir berkali-kali, menimbang berulang-ulang. Apakah ini kesengajaan atau tidak sengaja. Jika salah mengantisipasi, saya bisa berabe. Oleh karena itu lebih baik dianggap kurang mampu menanggapi peluang dari pada dianggap kurang ajar (gengsi kali ya).

Malam itu saya akhirnya tertidur sambil menahan beban, dan seingat saya paginya dia tidak lagi merangkul saya. Kami tidak berubah, dan dia bersikap seperti sebelumnya, meskipun pada mulanya saya rada rikuh juga menghadapi tante saya ini. Malam kedua saya agak lama tertidur, tante di sebelah nampaknya sudah lebih dulu lelap. Kini dia ulangi lagi memeluk saya. Celakanya adik kecil saya tertindih pahanya. Saraf motoriknya langsung bekerja untuk memuai, saya tidak kuasa mencegahnya. Kali ini pun saya tidak berani bereaksi. Saya nikmati saja seolah-olah saya keponakan tersayang tidurnya dikeloni. Ya apa boleh buat, sama sekali saya tidak berani membayangkan mencumbui tante saya ini, jadi ya saya pasrah jadi orang bego.

Setelah kejadian dua malam itu, saya jadi merindukan segera tidur lagi. Malam ketiga kami masuk ke bawah kolong bersama-sama setelah keadaan kamar mbah gelap. Dia senyum yang saya tidak tahu artinya, dan terpaksa saya balas juga senyumnya sekedar menghormati. Seperti biasa, saya memang lebih sering tidur telentang, dan biasanya sampai pagi tetap begitu. Tante langsung memeluk saya, padahal dia belum tidur. Komputer di kepala langsung menganalisa, oo.., ternyata selama ini ada unsur kesengajaan. Tapi kesengajaan dalam rangka apa, susah pula ditebak.

Kalau dalam keadaan sadar begini saya tetap diam, saya khawatir dianggap tidak normal, atau paling tidak demi penghormatan saya harus merespon. Jadilah saya membalas ikut merangkulnya. Ada celakanya, karena tangan saya sebelah kiri tertindih badannya, dan posisinya kira-kira menyentuh bagian selangkangan tante saya. Wah posisi susah ini, mau digeser jalannya buntu, tidak digeser, nyaris menyentuh vaginanya.

Kesemutan deh tangan ini akhirnya, karena saya tidak berani menggerakkan tangan itu. Kami saling berhadapan, dan ternyata mulut saya tidur lebih rendah, sehingga kening saya tepat di depan mulutnya. Saya merangkul tanpa mengeluarkan kata-kata, dan tanpa gerakan apa pun. Eh lha kok dia nyium kening saya, dan makin mengeratkan rangkulan. Saya jadi terjebak harus mencium lehernya. Untung tadi sebelum tidur saya sempat berbalur baby cologne, jadi bau badan saya mungkin seperti bayi. Saya pun mengendus bau bedak yang segar dari tubuh tante.

Ciuman tante kok kayaknya bukan ciuman seperti dari ibu ke anaknya, tapi ada rasa lain. Sebabnya dia bertubi-tubi menciumi saya di sekitar kening, lalu pelan-pelan ke mata, ke hidung, ke pipi. Saya berkesimpulan tante saya ini mulai bernafsu, dan keputusan saya hanya menikmati serangannya dan berusaha tetap pasif namun kooperatif.

Pelan-pelan saya dongakkan kepala, sehingga ia berhasil mencapai bibir saya. Kini dia tidak lagi sekedar merangkul tetapi mulai agak menindih dan dengan ganasnya menyedot mulut saya, dan memainkan lidahnya ke dalam mulut saya. Saya merespon seadanya, sebagai tanda saya menghormati inisiatifnya. Untungnya kamar mbah saya ini di bagian depan rumah, jadi dekat dengan jalan, sehingga suara-suara lalu lintas di jalan membuat kamar ini tidak hening. Jadi jika pun ada suara-suara yang keluar dari cumbuan kami, hampir pasti tidak terdengar ke atas.

Saya baru sadar jika payudara yang menempel di dada saya ini tidak dilapis BH. Dan untungnya dia mengenakan daster dengan kancing di depan dan belahan dadanya agar rendah. Tante saya ini aktif sekali, dia buka pelan-pelan kancing piyama saya dan dia ciumi dada dan puting susu saya. Aduh gelinya dan rangsangannya sulit saya pendam lagi.

Tiba-tiba ditariknya kepala saya ke bagian dadanya, dan sepertinya dia menyuruh saya menciumi bagian dadanya. Dia pun membuka satu persatu kancing di dadanya. Ya ampun, payudaranya kenyal sekali. Putingnya yang masih kecil saya jilati dan sedot bergantian kiri dan kanan. Dia seperti kepedasan, tapi mendesisnya berbeda.

Tangannya perlahan-lahan merambat ke selangkangan saya. Dia meraba adik saya dari bagian luar celana yang rasanya sudah mau meledak. Dikucel-kucelnya celana saya dengan gerakan hiperaktif. Saya jadi pecah konsentrasi menciumi payudaranya, sehingga akhirnya saya posisikan diri telentang. Dengan demikian tanggannya lebih leluasa meraba anu saya dari luar. Dia tidak puas pelan-pelan mencari celah untuk memasukkan tanggannya ke dalam celana saya. Digenggamnya rudal saya, dan dikocok-kocok. Saya menjadi sangat terangsang. Tetapi saya berhasil mengendalikan diri agar tidak cepat muncrat.

Dilucutinya celana saya sehingga rudal tegak bebas siap diluncurkan. Sementara itu tangannya membimbing tangan saya mengarahkan ke vaginanya. Saya turuti tanpa perlawanan, dan segera mencari segitiga emasnya. Saya raba dari bagian luar dasternya, dan pelan-pelan saya tarik dasternya ke atas sehingga tangan saya dapat menyentuh CD-nya. Celananya terasa agak lembab terutama di bagian bawah. Tangan saya berusaha mencari jalan ke dalam celana dalamnya dan mendapati gundukan dengan bulu tipis dan belahan yang basah.

Segera saya cari klitorisnya. Dia lalu tidur telentang sambil berusaha melepas CD-nya sendiri. Setelah tanpa CD dia memberi keleluasaan tangan saya mengucek-ucek klitroisnya. Dalam hal mengucek, saya telah memiliki ketrampilan, sehingga gerakan saya sangat diresponnya dengan rangsangan yang semakin hebat dirasakannya. Dia kini tidak lagi mengocok-kocok rudal saya, sudah lupa kali.

Tidak lama kemudian tangan saya dijepitnya dengan kedua paha dan tangannya menekan tangan saya ke kemaluannya. Saya berhenti mengucek-ucek. Vaginanya terasa berdenyut-denyut seperti denyutan kalau rudal saya memuntahkan pelurunya. Dalam keadaan orgasme itu saya segera menyergap mulutnya, dan saya sedot kuat-kuat. Dia sampai terengah-engah, dan saya kembali telentang sambil rudal tetap siaga di tempatnya. Saya pasrah saja tidak lagi mengambil inisiatif apa-apa.

Sekitar 5 menit kemudian dimiringkan badannya menghadap saya. Dan saya pun ditariknya agar juga miring menghadap dirinya. Ditepatkan vaginanya ke rudal saya, dan kakinya sebelah naik ke badan saya. Rudal saya digesek-gesekkan ke vaginanya, dan sesekali dia usahakan dimasukkan ke dalam liang vaginanya. Tapi usaha memasukkan itu selalu gagal, karena sempitnya liang senggama itu. Saya pasrah saja. Habis kolong tempat tidur itu begitu rendah, sehingga tidak mungkin saya mengambil posisi menindihnya.

Linu juga rasanya kepala rudal ini digosok-gosokkan ke arah klitorisnya, tetapi dia sangat menikmati sampai akhirnya dia kelojotan sendiri karena orgasme. Saya tetap pada posisi nanggung, sementara dia sudah 2 kali Orgasme. Apa boleh buat lah, tidak ada kesempatan dalam kesempitan. Tiba-tiba dia keluar dari kolong menuju kamar mandi. Barangkali mencuci kemaluannya karena sudah belepotan dengan cairannya sendiri.

Tidak lama kemudian dia masuk kembali, dan segera menyusup ke bawah kolong. Tapi dia tidak langsung di sisi saya, posisinya nanggung, dan mulutnya dekat sekali ke rudal saya yang sudah kembali berada di balik celana, meski voltase-nya belum turun. Ditariknya celana saya pelan-pelan, dan segera disergap peluru kendali itu dengan sedotan yang sangat kuat. Rasanya seluruh saluran mani dan kencing bagai ditarik keluar, linu geli dan enaknya bukan main.

Perlahan-lahan dan hati-hati dia memposisikan liang senggamanya menghadap ke mulut saya, dan dia tarik badan saya sampai pada posisi miring. Saya tahu maksudnya, agar saya menciumi kemaluannya. Dan astaga.., ketika saya buka dasternya ke atas, dia tidak lagi mengenakan CD dan vaginanya bau wangi sabun. Pelan-pelan saya julurkan lidah saya ke arah belahan kemaluannya, dan mencari klit-nya. Kepala saya dijepit diantara kedua pahanya, sehingga saya susah bergerak. Sementara rudal masih terus dilomoti dan disedot.

Saya temukan klit-nya, dan perlahan-lahan saya jilati terus menerus dengan gerakan yang sedapat mungkin konstan. Dia semakin semangat menghisap rudal saya, saya pun makin tinggi, mungkin dia juga karena gerakannya makin tidak terkontrol. Saya menikmati gerakannya yang sedang terangsang, saya jadi makin terangsang dan siap meledak. Tidak lama berselang, saya pun meledak tetapi saya berusaha terus menjilati. Mendapati ledakan saya rupanya dia pun terpicu pada orgasme karena tiba-tiba kepala saya dijepit sekuat-kuatnya.

Saya tidak tahu apakah mani saya ditelan atau tidak, karena saat mau meledak tadi saya tidak beri aba-aba, tetapi ketika meledak pun dia tidak melepaskan rudal saya. Sesaat tembakan terakhir saya, kepala rudal ini rasanya ngilu luar biasa sehingga saya menahan kepalanya agar tidak bergerak. Lemas rasanya badan saya seperti habis lari marathon 10 km. Saya tidur telentang dan rasanya dia mengelap mani saya yang tercecer dengan kain, yang mungkin sudah disiapkan.

Hampir setiap malam kami melakukan seperti itu. Dan polanya selalu serupa. Sampai suatu malam kami menikmati yang lebih leluasa. Pasalnya mbah berdua menginap di salah satu rumah anaknya. Jadilah kami yang harus tidur berdua di tempat tidur mbah.

Kami masuk ke kamar tidur seperti biasanya sekitar jam 10 malam. Pintu langsung dikunci dan kamar gelap gulita. Kami memulainya dengan cumbuan berat sampai akhirnya telanjang bulat berdua. Dia mengarahkan badan saya agar menindihnya dan kakinya dilebarkan dan ditekuk sehinga lubang vaginanya terbuka lebar. Pelan-pelan dituntunnya rudal saya ke arah lubang vaginanya yang telah siaga.

Saya terus terang tidak tahu apakah dia perawan atau tidak, tetapi nyatanya memperjuangkan kepala rudal masuk ke lubang vaginanya susahnya bukan main. Setelah kepala rudal terbenam, pelan-pelan saya dorong tetapi masih sulit, meskipun dia sudah membuka selebar-lebarnya. Sambil saya tekan pelan, saya lebih tegangkan rudal saya sampai menjadi sangat kaku. Cara ini ternyata mampu menembus ke dalam gua lebih dalam. Tetapi tetap saja ada halangan. Dia agak merintih sambil berbisik, sakiitt. Saya tahan setengah jalan, mungkin baru sepertiga perjalanan. Lalu saya tekan sedikit sambil kembali menegangkan rudal, masuk lagi sedikit. Rasanya sudah setengah batang saya terbenam. Dia tahan lagi badan saya karena katanya sakit. Saya pun menahan, lalu menarik sedikit dan mendorong sedikit. Jadi untuk beberapa saat kami main setengah tiang. Dia mulai merasa nikmat dengan permainan setengah tiang itu, sementara saya merasakan nikmat yang tanggung.

Sambil menarik dan mendorong, saya mencuri dorongan lebih banyak dan seperti gerakan piston, ternyata batang saya mulai lebih jauh terbenam. Meskipun begitu, masih ada seperempat bagian yang tersisa masih belum dapat masuk karena terhalang sakit. Saya kembali bermain tigaperempat tiang, dan pada satu kesempatan setelah gerakan itu licin, saya hunjam sampai seluruh batang saya tertanam. Merdeka, saya berhasil, meski dia mendesis rada kesakitan. Saya berhenti untuk memberi kesempatan agar rasa sakitnya berkurang. Pelan-pelan saya gerakkan maju mundur lagi. Kini dia tidak lagi merasakan sakit seperti semula. Tapi mungkin masih ada sakit meski sedikit. Saya lakukan gerakan pelan sambil mencari posisi yang tepat.

Sampai pada posisi dimana dia memberi respon saya bertahan di posisi itu. Tidak lama kemudian dia mengunci badan saya dan saya rasakan vaginanya berdenyut, padahal saya juga sudah hampir dan sudah lari pada persneling 5. Kini terpaksa kembali ke posisi netral dan maju lagi perlahan-lahan dengan persneling satu, dua sampai lima saya pusatkan perhatian karena saya sudah hampir meledak. Saya tidak lagi dapat memikirkan apa-apa ketika rudal saya hampir meledak, dia malah kelojotan dan berdenyut-denyut vaginanya membuat ledakan saya bagaikan bom atom. Mungkin kami mencapai orgasme yang sama.

Saya tidak lagi dapat menimbang harus ditembak di dalam atau di luar, pokoknya pada saat itu rasa enak sudah mengalahkan semua pertimbangan. Malam itu kami main sampai 3 kali. Celakanya atau untungnya mbah menambah hari menginapnya sehingga malam kedua kami mengadakan reli dan memecahkan rekor saya 9 kali ejakulasi, dia entah berapa kali, karena saya tidak mampu menghitung, apalagi permainan saya makin lama untuk ronde-ronde berikutnya. Pada ejakulasi yang kesembilan rasanya tinggal angin saja yang keluar dari peluru kendali ini.

Seharian itu kemudian saya tidur kecapaian, selain membalas tidur malam yang terbengkalai, juga memulihkan tenaga yang musnah. Meskipun sudah demikian jauh kami berbuat, tetapi jika di hadapan saudara-saudara kami tidak berubah sikap, artinya saya tetap saja menganggap dia tante saya dan saya keponakannya. Tapi di balik itu kami punya cerita yang dahsyat. Setelah reli itu saya sampai sekarang tidak pernah mampu lagi mencapai 9 kali dalam semalam meskipun dengan wanita yang lain.

Bagai Mana Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Ini Dan Baca Juga Cerita Nafsu Birahi Lainnya Di Bawah Ini:
Read more
 
Blogger Templates