Ads Header

Pages

Senin, 25 Juli 2016

Cerita Sex Mesum Dengan Gadis SD

Cerita Nafsu Birahi - Ini pengalaman pribadiku dengan anak kelas 6 SD. Aku tuh paling suka sama anak sekitar kelas 6 SD sampai 2 SMP. Kalau aku sendiri adalah mahasiswa tingkat satu di Bandung. Ceritanya pada waktu itu aku sedang jalan-jalan ke toko buku. Aku sedang ingin cari buku komik. Pas sedang cari itu, aku melihat anak yang manis, yah.. pokoknya cute banget deh! Putih, dan karena baju yang dipakainya agak ketat, buah dadanya yang agak baru tumbuh itu sedikit menjiplak di bajunya, jadi kelihatan runcing begitu.



Aku ajak kenalan saja dia, siapa tahu bisa dapat. Tidak usah aku kasih tahu proses kenalannya ya, soalnya.. ya gitu deh.. pokoknya akhirnya aku tahu itu anak kelas 6 SD dan aku tahu nomor teleponnya. Oh iya, namanya adalah Ima, aku jadi lumayan sering menelepon dia. Habis ternyata anaknya asyik juga. Kami sering ngobrol tentang Boys Band yang dia suka, (bukan berarti aku suka Boys Band, kebetulan adikku banyak tahu, jadi aku ikut-ikutan tahu).Aku sudah beberapa kali ajak dia jalan-jalan ke Mall, tapi jarang mau. Sepertinya tidak dibolehi sama ibunya. Tapi akhirnya bisa juga. Sepertinya aku memang sedang falling in love sama si Ima. Setiap pulang sekolah, dia sering aku jemput, lucu deh, jadi seperti jemput adik sendiri, nanti aku dikira pembantu pribadinya sama temennya. Biarin deh, yang penting aku sayang sama Ima.

Nah, pada suatu hari waktu dia pulang sekolah, aku ajak saja ke rumahku. Ternyata dianya mau. Asyik, pikirku. Habis dia tidak pernah mau aku ajak ke rumahku. Dan pas ketika kuajak ke kamarku, dianya mau saja dan untung tidak ada yang melihatku bawa-bawa anak SD, kan malu juga kalau ketahuan punya cewek anak SD. Setelah beberapa kali aku ajak ke rumah, baru kali ini dia mau dan mau lagi ke kamar. Kan kalau di kamar suasananya jadi lebih romance dan tenang karena berdua saja. Di kamar kustel kaset West Life, khan lumayan lembut tuh musiknya. Dia suka banget sama itu Boys Band. Pertama-tama kami ngobrol biasa tentang sekolahnya, guru-gurunya, temen-temennya, biasalah anak SD. Eh, kami akhirnya ngobrol tentang pacaran, aku tanya saja.

"Pacar kamu siapa sih..?" sambil senyum.
"Bukannya kamu.." jawabnya.
Waduh, nih anak SD polos amat.. tapi aku seneng sih, dia ngakuin aku.
"Iya nih Ma, aku sayang banget ama kamu," rayuku.
Dianya diam sambil menatapku malu. Waduh wajahnya itu lho, masih Fresh dan dia manis sekali. Tiba-tiba, gara-gara meliat parasnya yang cute itu, aku jadi ingin mencium bibirnya, tapi dia mau tidak ya?

"Sayang, kamu pernah ciuman belum?" tanyaku.
"Belum, tapi suka deh ngeliat orang ciuman di film-film," katanya.
"Mau nyobain tidak?" tanyaku, to the point saja.
Dia diam saja.
"Sama kamu? nggak ah, takut.. malu.." kata Ima.
"Nggak apa-apa lagi.." jawabku.
"Coba ya.. enak kok," kataku lagi.
"Coba deh merem!" kataku.
Dia mencoba merem, tapi melek lagi, takut katanya. Jantungnya terasa deg-degan, katanya.
"Santai saja, tidak usah tegang," kataku.

Dia mulai merem, perlahan aku dekati wajahnya, mulai terasa hembusan nafasnya. Lalu perlahan kusentuh bibirku dengan bibirnya. Ketika bibir kami mulai bersentuhan, bibirku mulai bermain di bibirnya, dia belum merespon. Dia hanya membiarkan bibirku memainkan bibirnya, terasa sekali hembusan nafasnya, bibirnya yang begitu lembut tapi akhirnya dia juga mulai memainkan bibirnya. Sekitar lima menit kami berciuman. Nafas dia terengah-engah ketika selesai berciuman. "Gimana enak tidak?" tanyaku. Dia cuma tersenyum malu-malu, "Mau lagi tidak? tapi sekarang lebih seru lagi, kumasukkan lidah ke mulut kamu, terus kamu nanti isep lidahku di dalem mulut kamu ya.. dan nanti gantian kamu yang masukin lidah ke mulutku, nanti kuisep," kata aku.

Dia merem lagi, aku dekati bibirku. Begitu kena bibirnya, langsung aku masukkan lidahku, dia langsung menghisap, ah enak, geli dan nikmat, terasa di mulut. Setelah itu dia masukkan lidahnya ke mulutku, kuhisap lidahnya lengkap beserta ludah yang ada di mulutnya. Ketika sedang asyik berciuman itu, timbul ide nakal, aku mencoba meraba dadanya yang masih baru tumbuh. Ternyata dia tidak menolak, dia masih terus menikmati berciuman dengan aku. Aku masih terus meraba-meraba dadanya yang kalau dibilang sih masih kecil untuk ukuran buah dada, tapi aku suka sekali sama buah dada yang semacam itu, runcing dengan puting yang baru tumbuh. Aku mulai nekat, kucoba masukkan ke dalam balik bajunya, di balik kaus singletnya (dia belum pakai BH, tapi karena tidak pakai BH, putingnya yang baru tumbuh itu jadi menonjol keluar, jadi kelihatan agak runcing dadanya) terdapat gundukan kecil imut nan segar. Eh, ternyata dia mulai sadar dan menghentikan ciumannya.

"Jangan dimasukkin dong tangannya," kata dia.
Wah, tampaknya dia belum berani.
"Maaf deh.. aku terlalu nafsu," kataku.
"Eh, udah sore nih, kamu aku anter pulang dulu ya," kataku.
Anak SD, kalau belum pulang sampai sore nanti dicariin, kan gawat kalau ibunya sampai tahu dia di kamarku. Akhirnya hari pertama dia di rumahku diakhiri dengan belajar ciuman.

Besok-besoknya dia tidak pernah bisa main ke rumahku. Soalnya ibunya menjemput terus. Nah, seminggu setelah dia main ke rumahku, akhirnya dia mau lagi diajak ke rumahku. Pas pulang sekolah aku ajak masuk lagi ke kamarku.
"Gimana sayang? masih mau terusin pelajaran ciuman kita minggu kemaren?" tanyaku.
Dia tersenyum.
"Mau dong.. yang pakai masukin lidah ya.." kata Ima.
"OK deh.." jawabku.

Dan mulailah kami ber-French kissing. Kami berciuman sampai beberapa menit. Tapi aku kepikiran lagi sama dada dia. Karena saking nafsunya aku ingin sekali merasakan dada cewekku ini. Aku mencoba minta ke Ima. "Ma.. aku pengen liat.. liat dada kamu boleh nggak..? Entar enak deh, bisa lebih enak dari pada ciuman," kataku. Dia diam saja sambil menatap ke arahku. Akhirnya dia mau juga setelah kubujuk. Dia aku suruh duduk di tempat tidurku. "Kamu tenang aja ya.." dia mengangguk. Aku perlahan-lahan membuka baju kemeja sekolahnya, satu per satu kancingnya kubuka. Dia menatapku dengan perasaan yang tegang. "Rilex aja lagi.. jangan tegang gitu.. tidak sakit kok," kataku. Akhirnya dia agak tenang.

Begitu kebuka semua, wah, ternyata masih ada kaus singletnya yang menghalangi buah dada mininya itu. "Aku buka semua ya.." kataku. Dia mengangkat tangannya ke atas, lalu kubuka singletnya.Wow.. ternyata indah sekali man..! Kulitnya yang putih mulus, masih halus sekali, buah dadanya yang baru muncul itu menampakkan suatu kesan yang amat indah, putingnya berwarna pink itu, membuat lidahku ingin mengulumnya. Dengan perlahan kusentuhkan lidahku ke putingnya yang berwarna pink itu. (PS: Kalau mau mencoba sama anak yang baru tumbuh buah dadanya, hati-hati, soalnya daerah itu masih sensitif sekali. Kalau kesentuh keras sedikit saja, terasa sakit sekali sama dia. Bener tidak?).

Lalu mulai kujilati dan tanganku mencoba menyentuh puting yang satu laginya. Dia merem ketika aku menjilati putingnya, dia tinggal memakai rok merah, seragamnya. Dia merem ketika aku menjilat, menghisap, menyentuh, meraba buah dada imutnya itu, dan dia mulai mendesah kenikmatan, "Ssshhssh.. mm.." desahnya, aku makin horny saja mendengarnya dan aku makin lancar mengerjai dadanya itu. Aku jilati bergantian kanan dan kiri, dan aku juga menjilati perutnya dan pusarnya. Sedang menjilati tubuhnya itu, eh, timbul lagi benak nakal. Bentuk vaginanya gimana ya? aku jadi penasaran gitu. Aku masukkan tanganku ke dalam roknya. Kuusap-usap CD-nya yang melapisi vagina imut-imut milik seorang anak kelas 6 SD yang manis itu.

"Ima.. kamu mau tidak membuka rok kamu..?" tanyaku.
"Mau kan sayang..?" tanyaku lagi.
"Tapi tidak apa-apa kan?" tanya Ima.
"Nggak kok.." kataku.
Dia kusuruh tiduran. Aku membuka roknya, aku peloroti roknya, dia tinggal memakai celana dalamnya yang berwarna pink (lucu deh, ada gambar Hello Kitty-nya), dan akhirnya aku peloroti CD-nya. Terlihatlah sekujur tubuh telanjang seorang anak SD yang membuatku ingin menidurinya. Terlihat vagina yang masih mulus, belum ada bulunya dan bibir vaginanya yang mulus juga, dan aku nafsu sekali. Aku jilati vaginanya, dianya kegelian, sehingga badannya bergoyang ketika aku jilati bagian dalam vaginanya.

Tapi lama-lama kupikir, aku jahat sekali, nih anak kan cewekku, masa aku tega sih. Ya sudah, aku selesai saja. Kalau aku sampai ML, berarti aku menghancurkan masa depan seorang anak. Aku terus menjilati vaginanya, dan aku terus menjilati bagian klitorisnya sampai dia bergoyang-goyang. Akhirnya dia mengalami orgasme, "Aahh.. aku lemes.." Akhirnya aku sudahi jilati vaginanya dan kucium pipinya.

"Gimana enak kan..?" tanyaku.
"Iya.."
"Tidak apa-apa khan?" kataku.
"Udah sore tuh kamu mau pulang..?" tanya aku.
"Iya deh, tapi kapan-kapan lagi ya.." katanya.
"Iya deh sayangku," kataku sambil kucium keningnya.

Yah begitulah ceritanya, aku tidak tega untuk merenggut keperawanan cewekku sendiri. Aku sama Ima jalan sampai dua bulan saja, karena bosan. Aku tidak pernah nge-ML sama dia dan aku sudah berjanji tidak mau ML sama dia.

Bagai Mana Dengan Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Ini Dan Baca Juga Cerita Nafsu Birahi Lainnya Di Bawah Ini:
Read more

Sabtu, 23 Juli 2016

Cerita Sex Berawal Dari Sebuah Pijatan

Cerita Nafsu Birahi - Ini adalah kisah lain yang terjadi antara aku dengan Oom Win (pamanku yang berusia 10 tahun lebih tua dariku dan masih menumpang di rumahku), ketika aku masih berumur 17 tahun.



Ketika itu rumah memang sedang sepi, hanya Oom Win dan aku saja yang ada di rumah. Kedua orang tuaku sedang berlibur ke Bali dan kakak-kakakku yang sudah berkeluarga sudah pindah ke lain kota. Pembantu-Pembantu pun tidak ada karena memang saat itu hari lebaran.

Sambil malas-malasan, aku menonton televisi sendirian karena Oom Win juga belum pulang malam itu, jadi sekalian saja menunggu Oom Win (yang katanya akan membawa temannya malam itu). Sebetulnya aku agak kesal dengan berita itu karena aku berharap Oom Win dapat melakukan kegiatan "rutin" kami yang biasa kami lakukan sejak aku berumur 16 tahun.

Bunyi bel di pintu memecah konsentrasiku pada acara televisi, dan aku pun sudah menebak bahwa itu pasti Oom Win beserta temannya yang ada di luar pintu.

"Malam, Oom"
"Malam Anna, ini kenalkan teman Oom Adeel"

Teman Oom Win ternyata adalah seorang keturunan Pakistan-Cina dengan tampang yang notabene diatas rata-rata. Tubuhnya tegap, dadanya bidang dan perawakannya yang lumayan tinggi telah mendapatkan simpatiku.

"Anna, Adeel ini jago pijat lho"
"Anna kagak capek kok Oom, jadi kagak usah dipijat" sahutku sambil memasang tampang kesal di depan kedua orang itu.
"Anna, kamu jangan gitu dong sama teman Oom. Dia sengaja Oom undang malam ini untuk memijatmu karena Adeel bukan pemijat biasa, dia ahli kecantikan"

Setelah mendengar kata-kata kecantikan yang ternyata cukup ampuh untuk mengubah pikiranku, aku pun setuju untuk dipijat oleh Adeel.

"Adeel, kamu mandi dulu deh setelah itu giliranku"

Dan selama Adeel mandi, Oom Win menerangkan kepadaku bahwa Adeel adalah seorang pemijat professional yang dapat mempercantik pasien-pasien nya, dan kepiawaiannya telah banyak terbukti.

"Ok deh, Oom. Anna mau dipijat oleh Adeel dengan syarat nanti malam Oom mau melakukan kegiatan "rutin" kita"
"Iya, Anna, Oom janji"

Setelah selesai mandi, Adeel hanya mengenakan celana training sambil bertelanjang dada.

"Adeel, kamu mulai saja pijatnya. Aku mandi dulu," kata Oom Win.

Dengan tampang masih kesal aku pun menuju ke kamar Oom win yang ternyata telah secara diam-diam dipersiapkan untuk pijat malam ini. Kamar itu telah dilengkapi dengan lilin-lilin yang ditata rapi berjajar diseluruh dinding ruangan; tidak lupa juga minyak tradisional untuk keperluan pijat.

Lumayan juga selera Oom Win, begitu pikirku. Kami pun masuk dan membiarkan pintu sedikit terbuka karena memang tidak ada orang lain lagi di rumah itu yang akan menganggu kegiatan kami. Adeel merengkuh pinggangku sambil menuntunku ke tempat tidur Oom Win yang cukup lebar.

"Anna, saya hanyalah seorang pemijat, dan kalau kamu tidak keberatan, saya akan pijat kamu dalam keadaan bugil"

Adeel pun meninggalkan aku memberi aku waktu untuk bersiap-bersiap sementara dia menunggu di luar kamar Oom Win. Dengan perasaan heran tapi demi memenuhi janji Oom Win dan membayangkan bahwa aku akan mendapat kepuasan dari Oom Win malam ini, aku pun cuek saja dan langsung melepaskan semua pakaianku dan mengambil handuk untuk menutupi bagian pinggulku ketika berbaring tengkurap.

Karena menunggu Adeel terlalu lama, aku pun tertidur (karena suasana ruangan yang gelap temaram itu juga mendukung kantukku).

Setelah Adeel memijatku beberapa lama, tenyata tanpa kusadari Oom win yang setelah selesai mandi hanya mengenakan kimono saja, duduk di kursi sambil melihat Adeel yang sedang memijatku. Ketika aku terbangun, kurasakan lembutnya tangan Adeel memijat-memijat kepalaku dan memang kuakui pijatannya professional sekali. Minyak yang digunakannya juga terasa segar di tubuh dan berbau enak.

Adeel mengatur posisi tubuhku yang tengkurap sehingga kedua tanganku direntangkan ke arah samping. Setelah memijat kepalaku, Adeel pun memijat leherku dan beranjak ke tanganku yang dimulai dari ujung-ujung jari. Kemudian tak beberapa lama, konsentrasinya beralih ke bagian samping tubuhku yang memang menantang karena tanganku terentang ke samping. Pertama-Pertama dituangkan nya minyak ke bagian samping bahuku sehingga cairan yang dingin menuruni susuku menuju kea rah putingnya memang membuatku tersentak. Karena licinnya minyak itu, kadang-kadang tangannya mengena pentilku, dan itu membuatku semakin terangsang.

Setelah selesai dengan pungguku, Adeel pun beralih ke ujung-ujung jari kakiku, dan pelan-pelan naik ke pahaku. Ketika disingkapkannya handuk yang menutupi bagian pinggulku, aku pun mengalami rangsangan yang terasa sangat erotis, mungkin karena dengan begitu aku bisa memamerkan memekku ke orang yang baru kukenal. Pijitannya di pahaku dilakukannya tanpa menyentuh memekku yang sudah mulai basah itu, dan itu membuatku sedikit kecewa.

Tetapi hal yang tak kusangka-kusangka terjadi ketika dia mulai sedikit demi sedikit menuangkan minyak ke belahan pantatku, otomatis aku menggelinjang dan meregangkan selangkanganku. Sebelum aku sempat untuk berpikir lebih jauh, Kedua tangannya yang bertumpuk satu sama lain telah mencakup semua memekku dan memijat-memijat nya. Kedua tangannya masuk lebih dalam untuk memijat perutku sehingga otomatis pergelangan tangannya yang memang penuh minyak itu mengurut-mengurut memekku dan kelentitku. Perasaan yang kurasakan luar biasa karena gerakan itu sekaligus membuat pusarku geli dan memekku seperti diusap-diusap.

Pelan namun pasti, Adeel membalikkan badanku, dan langsung saja tangannya menuju ke payudaraku dengan pentil-pentil nya yang sudah mencuat tanda aku memang sudah terangsang hebat. Gerakan tangannya yang berputar-berputar itu ternyata tidak menyentuh pentilku sama sekali, dan itu membuatku semakin memajukan dadaku ke arahnya berharap agar Adeel segera menyentil puncaknya yang sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi untuk disentuh. Adeel pun tersenyum karena aku yakin bahwa dia pun tahu kalau aku ingin pentilku disentuhnya. Tak lama kemudian, harapanku menjadi kenyataan, tetapi bukan dengan jari-jari nya, Adeel meletakkan telapak tangannya yang sudah licin itu tepat diatas kedua pentilku.

Dengan gerakan memutar-memutar, Adeel "memijit" pentilku, semakin lama gerakannya semakin cepat dan semakin menekan susuku. Dengan berakhirnya gerakan itu pula aku melepaskan eranganku yang pertama tanda aku mencapai orgasmku yang pertama. Bukannya menghentikannya, Adeel malahan menyentil-menyentil pentilku dengan ujung-ujung jarinya, dan setelah pentilku menjadi keras kembali, Adeel memasang alat perangsang berbentuk lingkaran di kedua pentilku. Ternyata alat itu dapat membuatku terangsang terus-menerus terlebih ketika aku bergerak-bergerak, terasa alat yang seperti cincin itu memberikan kegelian yang sangat di ujung pentilku sehingga kedua puncak itu tetap mencuat keras.

Pelan namun pasti, pijatannya beralih kea rah perutku dan Adeel mulai menjilat-menjilat pusarku yang ternyata amat merangsang birahiku. Kembali kurasakan cairan hangat mengalir melalui memekku yang pasti telah berkilat-berkilat karena banyaknya lendir yang keluar. Lama kelamaan, pijatannya turun ke bagian dibawah pusar dengan gerakan memutar, dan gerakan itu menambah banyaknya cairan yang keluar sampai akhirnya aku mencapai orgasme yang kedua. Betapa hebatnya pijatan-pijatan Adeel ini yang ternyata tanpa disetubuhi pun aku bisa mendapatkan orgasme sampe dua kali.

Ketika aku belum reda dengan orgasmeku yang kedua kalinya, Adeel membuka selangkanganku lebar-lebar dan merekahkan kedua bibir memekku dengan tangan kirinya. Kemudian dengan telapak tangan kanannya (ke empat jari-jarinya), dia mulai menepuk-menepuk pussyku yang terpampang lebar di depannya. Gerakan-Gerakan itu bermula dengan pelan, dan setiap kali "tamparan" nya mengenai bibirku yang sudah basah itu, aku tersentak-tersentak antara rasa kaget dan erotis.

Akhirnya, pukulan-pukulan kecil itu bertambah keras dan cepat seiring dengan aku mendapatkan sensasi yang luar biasa di rondeku yang ketiga. Aku orgasme hebat diselingi erangan-erangan ketika tamparannya mengenai memekku dengan cairan kentalnya yang mengalir deras sampai ke bongkahan pantatku.

Kemudian Adeel memasangkan suatu alat yang aneh sekali di pinggangku, berupa sabuk dengan penis buatan yang berukuran sedang dengan permukaannya yang dipenuhi tonjolan-tonjolan yang tidak sama besarnya maupun tingginya. Keseluruhan alat itu berbentuk seperti ikat pinggang dengan celana dalam yang dilengkapi dengan penis mencuat kea rah dalam. Setelah agak reda, Adeel memberiku segelas air putih sambil menunggu sampai aku agak tenang kembali, dan pelan-pelan memasukkan penis itu ke dalam lubang memekku dan memasangkan strap-strapnya ke pinggangku. Adeel juga mengganjal pinggangku dengan tumpukan bantal sehingga penis itu yang telah dilumuri lubricant, dapat dengan mudah masuk ke lubang memekku.

Alat yang aneh itu ternyata memiliki remote control yang tidak terhubung dengan kabel sehingga tidak merepotkan pemakainya. Setelah dirasanya cukup siap, Adeel melebarkan kakiku dengan memekku yang telah tertancap penis palsu itu. Kemudian, dia menekan tombol di remote control yang ternyata menyebabkan alat itu bergerak memutar pelan-pelan seakan-seakan menggaruk rahimku. Dan oleh gerakan itu, maka seluruh dinding rahimku kegelian.

"Argh, argh, hmph hmph.."
"Enak kan, Anna?"
"Oh, alat biadab, oh, oh, oh"

Di tengah-tengah permainan itu, Adeel menambah getaran-getaran kecil di alat itu sehingga aku merasa melambung dibuatnya. Alat itu ternyata dapat pula mengeluarkan cairan dari bagian ujungnya, sehingga rahimku terasa disemprot-disemprot oleh cairan yang seolah-seolah terasa seperti cairan air mani.

"Oh, oh, Adeel, Anna sudah mau keluar"

Dan seketika itu Adeel menghentikan alat itu, dan tampak sekali di wajahku rasa kecewa yang amat sangat.

"Please Adeel, Anna mau, Anna nggak tahan Adeel, gerak-gerak in lagi Adeel"

Bukannya menurutiku, Adeel hanya senyum-senyum sendiri melihatku, dan aku pun tidak tahan akhirnya hanya memegang-memegang kelentitku saja. Tiba-Tiba Adeel mengulurkan tangannya, dan mengajakku untuk berdiri.

"Aku akan turuti permintaanmu jika kamu mau melakukan syaratnya"
"Please, Adeel apa aja akan aku lakuin"
"Kamu harus berjalan-berjalan di luar kamar ini dengan alat itu"
"Siapa takut, tapi please Adeel, sudah tanggung tadi"

Karena cincin yang masih terpasang di pentil-pentil ku bergoyang-bergoyang setiap kali aku bergerak, maka aku pun mulai terangsang lagi. Kemudian aku pun melangkah keluar kamar dan mulai berjalan-berjalan. Tiba-Tiba kurasakan alat itu kembali beroperasi mengorek-mengorek isi rahimku, kakiku pun menjadi lemas karena sensasi yang kurasakan lebih hebat dengan posisi tubuhku yang berubah-berubah dan kedua kaki ku yang tetap kupaksakan melangkah menambah rangsangan di kelentitku dan memekku.

"Adeel, Anna tidak kuat berjalan lagi, oh please" sambil berjalan terseok-terseok aku pun merintih-merintih.
"Ayo kamu teruskan atau alat itu kuhentikan"

Akhirnya aku hanya dapat menuruti kemauan Adeel untuk terus berjalan-berjalan dengan alat yang semakin dasyat mengorek-mengorek rahimku dengan tonjolan-tonjolan nya itu. Ketika aku mencapai orgasmeku, Aku pun terjatuh lemas di sofa.

Kemudian, Adeel menghentikan alat itu tepat ketika aku mencapai orgasmeku dan dengan hati-hati dia membereskan alat itu melepaskan nya dari pinggangku. Aku pun terkulai lemah untuk beberapa saat sebelum Adeel akhirnya membopongku ke dalam kamar Oom Win dan merentangkan kedua pahaku untuk siap dimainkan oleh penis asli milik Oom Win yang sudah berdiri tegak mencuat itu.

"Thank you banget, Adeel, aku sangat menikmati permainan ini. Sekarang kamu boleh pulang," kata Oom Sam sambil memberi Adeel sejumlah uang.
"Oom, Anna sudah nggak kuat lagi Oom," dengan tampangku yang sudah pasrah demi melihat kemaluan Oom Win yang sudah berdiri.
"Oom hanya memenuhi janji Oom, Anna"

Malam itu, akhirnya aku tertidur kecapaian setelah mendapatkan empat kali orgasme lagi dengan Oom Win dari berbagai posisi. Keesokan harinya, aku terbangun dengan posisiku yang mengangkang lebar menantang.

Bagai Mana Dengan Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Nafsu Birahi Ini Dan Baca Juga Cerita Nafsu Birahi Lainnya Di Bawah Ini:
Read more

Download Apk Cerita Nafsu Birahi

Info Penting - Sekarang Cerita Nafsu Birahi Sudah Ada Apk nya, Jadi Para Pembaca Setia CNB Bisa Lebih Mudah Untuk Membaca Cerita Nafsu Birahi Di HP Androit.
Terus Ikuti Cerita Terbaru CNB Karena Setiap Hari Akan Selalu Update Cerita Setiap Hari.
Selalu Siapkan Tisu Sebelum Membaca... Hihihihi....



Download Apk CNB Sekarang Juga!
Klik Di Sini - Download Apk CNB

Read more

Jumat, 22 Juli 2016

Cerita Perselingkuhan Ibu Muda Dengan Pria Pengepul Barang Bekas

Cerita Nafsu Birahi - Terus terang tak pernah aku berpikir bisa berlaku macam ini sebelumnya. Di kalangan pergaulan komplek rumahku aku termasuk ibu rumah tangga yang alim dan terhormat. Aku sangat mencintai suamiku yang 38 tahun, cukup ganteng, punya jabatan (insinyur dan manager dari sebuah perusahaan konstruksi). Aku sendiri Ani, 32 tahun, cukup cantik, bahkan menurut tetanggaku aku sangat cantik hingga mereka bilang aku mirip Ussy Susilowati, itu pembawa acara KDI yang berpasangan dengan Ramsi di stasiun televisi TPI.



Memang kuakui aku agak kesepian. Sejak 5 tahun perkawinan, kami belum juga dikaruniai anak. Saat-saat suami tak di rumah aku sering khawatir dan cemburu, takut dia mencari perempuan lain yang bisa memberikan anak. Demikian pula saat suami sedang sibuk atau lelah dan tak banyak ngomong, aku sudah cepat curiga dan cemburu pula.

Demikianlah pada suatu ketika karena aku ada sedikit gangguan pada kesehatanku aku pergi berobat ke sebuah poliklinik posyandu yang tidak seberapa jauh dari rumahku. Biasanya suamiku mengantar ke RS Medika Kuningan, tetapi karena sedang tugas keluar kota jadi aku harus ke dokter sendiri.

Saat aku turun dari angkot (kendaraan umum) nampak di ruang tunggu posyandu sudah penuh orang. Tetapi aku santai karena memang tak ada urusan yang mesti buru-buru. Mas Wardi, keluar kota untuk 1 minggu sejak kemarin pagi. Aku juga tak perlu masak memasak. Kami berlangganan makanan dari tetangga yang mengusahakan catering.

Sesudah beberapa saat menunggu aku berasa kepingin ke toilet untuk kencing. Sesudah melalui lorong poliklinik yang cukup panjang dan kemudian deretan pintu toilet untuk lelaki aku sampai ke toilet perempuan.

Pada saat inilah peristiwa itu terjadi hingga melahirkan cerita ini. Tanpa sengaja saat melewati toilet lelaki aku menengok ke sebuah pintunya yang menganga terbuka. Aku langsung tertegun dan sangat kaget seakan tersengat listrik. Kusaksikan seorang lelaki sedang berdiri kencing dan kulihat jelas pancuran kencingnya yang keluar dari kemaluannya yang nampak tidak tersunat.

Yang membuat aku tertegun adalah kemaluan lelaki itu. Aku anggap sungguh luar biasa gede dan panjang. Dalam pandangan yang singkat itu aku sudah berkesimpulan, dalam keadaan belum tegang (ngaceng) saja sudah nampak sebesar pisang tanduk. Aku tak mampu membayangkan sebesar apa kalau kemaluan itu dilanda birahi dan ngaceng. Aku masih tertegun saat lelaki itu menengok keluar dan melihat aku sedang mengamatinya. Entah sengaja atau tidak, dia menggoyang-goyangkan kemaluannya itu. Mungkin untuk menuntaskan kencingnya. Aku cepat melengos. Aku malu dikira sengaja untuk melihatinya. Dan aku juga malu pada diriku sendiri, sebagai istri ataupun wanita sebagaimana yang aku gambarkan di atas tadi. Tetapi entahlah. Barangkali lelaki tadi telah sempat melihat mataku yang setengah melotot pada wajahku yang tertegun. Aku sendiri jadi resah. Hingga sepulang berobat itu perasaanku terus terganggu.

Aku akui, oleh sebab peristiwa itu selama aku menunggu panggilan dari petugas poliklinik, pikiranku terus melayang-layang. Aku tak mampu menghilangkan ingatanku pada apa yang kusaksikan tadi. Mungkin aku tergoda. Dan tidak sebagaimana biasanya, libidoku tergangu. Bayangan akan seandainya kemaluan segede itu menembusi vaginaku terus mengejar pikiranku. Jantungku terus berdegup kencang dan cepat. Entah apa yang kumaui kini. Kenapa aku jadi begini?!

Bahkan kini aku mulai mencari-cari, siapa sebenarnya lelaki itu. Kutengok-tengok di antara pengunjung yang berada di ruang tunggu dan juga sepintas yang ada di teras dan halaman kebun, namun aku tak pernah menjumpainya lagi.

Khayalanku bahkan terus bergerak menjadi demikian jauh. Kubayangkan seandainya kemaluan macam itu berdiri tegak macam Tugu Monas. Dan aku berada di dekatnya hingga hidungku disergap aroma kelelakiannya sambil aku membayangkan menjilati kemaluan tegak itu. Ahh.. Tanpa sengaja tanganku memilin puting susu dari balik blusku. Rasa gatal yang amat kurasakan pada ujung-ujung pentilku.

2 hari kemudian

Aku sedang menyirami kembang di halaman saat aku dengar tukang pengumpul koran lewat depan rumahku,

"Koran bekas.. Korraann..." teriakannya yang khas.

Sudah lebih 3 bulan koran bekas numpuk dekat lemari buku. Aku pikir kujual saja untuk mengurangi sampah di rumah. Tanpa banyak pikir lagi,

"Bang, tunggu, saya punya koran bekas, tuhh..." sambil aku beranjak memasuki rumah untuk mengambilnya.

Namun ternyata koran sebanyak itru cukup berat. Kuputuskan, biar si Abang itu saja yang mengambilnya. Kusuruh dia masuk sambil sekalian bawa timbangannya. Sesudah mengikatnya dengan rapi dan menimbangnya, dia memberikan Rp. 10.000, padaku untuk harga koran itu.

"Terima kasih, Bu.."

Dan aahh.. Kurang ajar bener nih Abang. Saat menyerahkan uang itu tangannya setengah meraih dan kurasakan hendak meremas tanganku. Aku tarik secepatnya dan.. Aku kaget. Bukankah ini orang lelaki yang kulihat di poliklinik kemarin. Orang yang telah membuat jantungku berdebar keras-keras. Semula aku hendak marah, namun kini ragu. Hatiku bicara lain. Bukankah dia yang telah mampu membuat aku resah gelisah.

Tak terelakkan mataku mencari-cari. Mataku menyapu pandang pada tubuhnya. Berbaju kaos oblong sisa kampanye Pilpres I yang berlogo salah satu calon aku memperhatikan gundukkan menggunung pada selangkangan yang bercelana jeans kumel. Namun di lain lagi, ternyata Abang inih bersih dan.. Sangat jantan.

"Haahh... rasanya saya pernah lihat Abang ini, deh," begitu aku berpura kelupaan.

Dia melihati aku dengan pandangannya yang tajam menusuk. Terus terang aku jadi takut dan bergidik. Mau apa dia ini? Dan yang terjadi adalah langkah pasti seorang pejantan,

"Yaa.. Aku melihat ibu di poliklinik itu, khan. Waktu itu ibu menengok aku yang sedang kencing?!"

Aku nggak setuju dengan tuduhannya itu. Namun apa sih artinya. Toh terbukti dia telah menggetarkan jiwaku. Dan dengan penuh percaya diri yang disertai senyumannya yang mesum dia mendesah berbisik..

"Aku sering berselingkuh dengan perempuan di luar istriku, Bu. Aku tahu kebanyakan perempuan suka dengan apa yang aku punya. Aku sangat tahu, Bu," dengan bisik desah serak-seraknya tanpa ragu dia membanting dan merobek-robek harga diriku. Dan yang lebih hebat lagi.

"Nih..... Ibu mau lihat?," tanpa ragu lagi di cepat membuka celananya dan mengeluarkan kemaluannya yang masih belum tegak berdiri. Namun aku sekarang menjadi sangat ketakutan.

Bagaimana seandainya dia bukan hanya menarik hati saja tetapi juga berbuat jahat atau kejam atau sadis padaku. Apa jadinya?

"Nggak, Bang.. Cukup. Terima kasih.. Sudah tinggalkan saya.. Tinggalkan rumah ini," kataku panik, cemas, takut dan rasanya pengin nanis atau minta tolong tetangga.

Tetapi semuanya itu langsung musnah ketika tanpa terasa tanganku telah berada dalam genggamannya dan menariknya untuk disentuhkan dan digenggamkan ke batang kemaluannya yang kini telah bangkit membusung, dengan sepenuh liku ototnya, dengan semengkilat bening kepalanya, dengan searoma lelaki yang menerpa dan menusuk sanubariku.

"Lihat dulu, neng.. Jangan taku.. Aku nggak akan merugikan ibu, koq," ucap bisik getar-nya begitu terdengar penuh pengalaman dan sangat menyihir. Dan aku benar-benar menjadi korban tangkapan yang bak rusa kecil dalam terkaman singa pemangsanya.

"Lihat dulu neng..." sekali lagi diucapkannya.

Kali ini dengan tangannya sambil meraih kemudian menekan bahuku untuk bergerak merunduk atau jongkok. Dan sekali lagi aku menjadi begitu penurut. Aku berjongkok. Dan kusaksikan apa yang memang sangat ingin kusaksikan dalam 2 hari terakhir ini.

Ini bukan saja pesona. Ini merupakan sensasi bagi aku, Ibu Ani yang santun dan alim dan istri manager yang insinyur itu. Kini aku bergetar. Dengan jantungku yang berdegup-degup memukul-mukul dada mataku nanar menatap kemaluan lelaki lain. Sungguh aku terpesona. Kemaluan itu nampak sangat 'ngaceng' bak laras meriam yang lobangnya mengarah ke wajahku. Aku menyaksikan lubang kencing yang menyihir libidoku. Aku menyaksikan 'kontol' yang dahsyat. Aku langsung lumpuh dan luluh. Aku terjerat kelumpuhanku. Demikianlah pula saat kusaksikan ujung meriam itu mendekat, mendekat, mendekat hingga menyentuh pipiku, hidungku dan bibirku. Yang kemudian kudengar adalah sepertinya 'suara jauh dari angkasa' yang penuh vibrasi,

"Jilat, neng, isep. Banyak ibu-ibu yang sudah menikmati ini. Isep kontolku, neng. Aku ingin merasakan bibir neng yang sangat cantik ini. Aku ingin merasakan isepan mulut neng"

Tangan kanannya menekan kepalaku dan tangan kirinya mengasongkan 'kontol'nya ke mulutku. Bagaimana aku mampu mengelak sementara aku sendiri serasa lumpuh sendi-sendiku. Aku merasakan ada asin-asin di lidahku. Aku tersadar. Aku jadi sepenuhnya sadar namun segalanya tengah berlangsung. Aku tak mampu menghindar, baik dari kekuatan fisikku maupun dari tekad yang dikuasai rasa bimbang.

Tidak lama. Mungkin baru berlangsung sekitar 1 atau 2 menit saat 'kontol' itu terasa semakin mengeras dan memanas. Mulutku penuh dijejali bongkol kepalanya yang menebar rasa asin itu. Sambil berdiri mengangkangi aku yang jongkok di depannya si Abang dengan sangat kuat menjambak rambut kepalaku dan menggoyangkan pinggulnya mendorong dan menarik 'kontol'nya ke mulutku. Lagi, lagi, lagi. Aku nyaris membuatku tersedak. Rasanya ujung 'kontol' itu telah merangsek maju mundur ke gerbang tenggorokanku.

Kedutan-kedutan besar yang disertai semprotan-semprotan lendir kental yang hangat penuh muncrat ke haribaan mulutku. Aku tahu persis, si Abang telah menumpahkan air maninya ke mulutku. Dan kemudian yang tak kuduga sebelumnya adalah saat dia memencet hidungku hingga dengan ngap-ngapan aku terpaksa menelan tuntas seluruh cairan kentalnya dan membasahi tenggorokanku.

Sepertinya aku minum dan makan kelapa muda yang sangat muda. Lendirnya itu demikian lembut memenuhi mulut untuk kukunyahi dan terpaksa menelannya. Bahkan pada suamiku aku tak pernah merasakan macam ini. Rasanya aku akan jijik dan tak akan pernah melakukannya pada Mas Wardi.

Aku masih tertegun dan setengah bengong oleh rasa yang memenuhi rongga mulutku saat dia menggelandang ke kamar tidurku. Dengan tenaga kelelakiannya dia angkat dan baringkan tubuhku ke ranjang pengantinku. Entah kekuatan apa, aku tak mampu mengelakkan apa yang si Abang ini perbuat padaku. Dia lepasi busanaku. Dia tarik hingga robek gaunku. Demikian pula blusku.

Dia renggut BH-ku seketika hingga aku juga yakin kancing-kancingnya lepas. Dan tak ayal pula di renggut celana dalamku. Dia ciumi celana itu sambil menebar senyuman birahi dari gelora syahwatnya yang sedang terbakar berkobar. Kemudian rebah menindih tubuh telanjangku.

"Neng, biar aku buat neng ketagihan yaa.. Nikmati kontolku neng. Mahal nih. Aku tak mau sembarang ibu-ibu aku layani. Aku hanya milih-milih saja," begitu suara orang yang dilanda prahara birahi sambil tangannya meremasi pinggul kemudian bokongku sementara bibirnya yang demikian tak terawat nyosor untuk melumat bibirku. Aku berusaha menolaknya. Rasa jijik dan enggan menderaku.

Namun sasaran berikutnya benar-benar membuat aku menyerah. Dia 'kemot-kemot' pentil susuku. Dia gigiti dagingnya. Entah berapa lama dia isepin dan tinggalkan cupang-cupang kotor pada seluru bidang dadaku, leherku, bahuku, ketiakku. Kemudian juga turun keperut, ke selangkangan, ke pahaku. Adduuhh.. Ini sungguh sangat surgawi. Kenikmatan hubungan seksual yang belum pernah aku dapatkan dari suamiku.

Dan ketika puncak birahinya datang, si Abang ini naik merangsek dan menindih kembali tubuhku. Kurasakan 'kontol'nya mulai menggosok-gosok paha dan selangkanganku. Aku sudah benar-benar terbius. Dorongan nafsu birahiku sudah berada di ambangnya. Aku sudah tak mampu lagi menahannya. Kini desah, rintih, jerit tertahan keluar dari mulutku dan memenuhi kamar pengantinku yang sempit ini,

"Tolonng baang.. Ayoo, Bang.. Aku sudah nggak tahaann.. Toloong.. Enak bangeett baang.. Aku cinta kontol abaang.. Biar aku minum lagi pejuh aba nanti yaa..." kuraih kemaluan besar itu dengan cepat dan kutuntun untuik menembusi kemaluanku yang sudah sangat menantinya.

Masih dalam upaya penetrasi, dimana ujung 'kontol' dahsyat itu sedang menerpa-terpa bibir kemaluanku ketika aku meraih orgasme pertamaku. Aku kembali menjerit dan mendesah tertahan. Kulampiaskan nafsu syahwatku. Kurajam pundak si Abang dengan cakarku. Kuhunjamkan kukuku ke dagingnya. Rasanya kemaluanku demikian mencengkeram untuk mempersempit kepala kemaluan itu menembusinya. Namun rasa gatal ini sangat dahsyat. Si Abang cepat menerkam bibirku sambil mendesakkan kontolnya dengan kuat ke lubangku.

Begitu blezz.. Aku langsung diterpa orgasme keduaku. Ahh.. Inikah yang disebut orgasme beruntun? Hanya selang 10 detik aku mendapatkan kembali orgasmeku.

Ternyata memang inilah. Dalam hujan keringat yang menderas dari tubuhku dan tubuhnya selama 2 jam hingga jam 4 sore, aku mendapatkan orgasme beruntunku hingga sekitar 10 atau 12 kali. Aku tak mungkin melupakan kenikmatan macam ini. Mungkin aku tertidur karena puas dan lelah yang kudapatkan.

Aku terbangun saat kupingku mendengar telpon berdering. Aku bangun dan lari untuk mengangkatnya,

"Jeng Ani, apa kabar..? Sehat? Aku sedang berada di pusat kerajinan di Balikpapan, nih. Banyak barang-barang artistik disini. Pasti kamu senang. Mau dibeliin apa?," demikanlah kebiasaan suamiku kalau bertugas keluar kota. Dia selalu sempatkan mencari barang-barang kerajinan asli setempat. Dia tahu aku sangat menyenangi barang-barang macam itu. Kasihan, sementara dia bekerja keras jauh dari rumahnya, dia telah kehilangan permatanya..

Ternyata dengan gampang aku telah meninggalkannya dalam selingkuhku dengan si Abang. Masih pantaskah aku menjadi istri yang alim dan terhormat?

Kulihat si Abang telah pergi. Mungkin sebelum aku terbangun tadi. Tumpukkan koran itu telah dibawanya. Kulihat barang-barangku yang lain tak ada yang berubah dari tempatnya. Ah, terkadang kita cepat curiga dengan orang lain yang kelasnya se-akan dibawah kita.

Aku masih termangu hingga sore mengendap dan menggelap. Bibir dan dinding kemaluanku masih terasa pedih. Aku nggak tahu. Aku ini menyesal atau tidak atas selingkuh yang telah aku perbuat. Bahkan aku juga lupa Mas Wardi mau belikan apa tadi?! Yang aku mencoba mengingatnya hanyalah sekitar 10 atau 12 kali aku telah meraih orgasme dalm berasyik masyuk sepanjang 2 jam dengan Abang pengumpul koran bekas tadi. Mungkin itu rekord seumur hidupku.

Bagaia Mana Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Nafsu Birahi Ini Dan Baca Juga Cerita Nafsu Birahi Di Bawah Ini:
Read more

Kamis, 21 Juli 2016

Cerita Sex Pengalamanku Saat Ospek

Cerita Nafsu Birahi - Hi para pembaca perkenalkan namaku adalah Indra. Aku adalah salah satu Mahasiswa di sebuah PTN ternama di Jogja. Tinggi badanku sekitar 170 cm, berat badan sekitar 55 kg, dan kulitku coklat sawo matang. Aku termasuk seorang yang berprestasi karena sejak dari SD, SMP, SMU, bahkan kuliah aku selalu mendapatkan peringkat dan prestasi yang baik. Hal ini banyak membuat orang-orang kagum.

Pengalaman sek pertamaku adalah ketika aku duduk di bangku kuliah tahun pertama, ketika itu aku masih berusia 19 tahun. Sekarang aku sudah berusia 21 tahun. Cerita ini bermula ketika aku harus mengikuti OSPEK di kampus. Sebenarnya sih aku agak malas juga untuk ikut kegiatan itu, pembaca tahu sendirilah, acara-acara seperti itu pasti membosankan, melelahkan, dan tentu saja panas.



Tapi ternyata semua dugaanku salah, dimulai ketika hari pertama aku masuk ospek sudah terlambat ditambah lagi aku tidak mengerjakan hampir semua tugas yang dibebankan. Jadi deh aku kena bahan amukan kakak angkatan yang serem-serem itu. Masuk halaman kampus, aku sudah disambut oleh panitia seksi keamanan. Wajahnya garang-garang, nggak yang cowok dan nggak yang cewek sama garangnya.

"Ayo cepat Diik," seorang panitia tinggi besar meneriakiku dari belakang, kontan saja aku langsung berlari menuju ke barisan kelompokku. Ditambah lagi aku harus memakai topi dan atribut yang aneh-aneh, pokoknya waktu itu kacau banget deh.
"Eh kenapa kamu terlambat Ndra?" kata temanku yang dari satu SMU sama aku.
"Iya nih Ton saya bangun kesiangan," jawabku.
"Ah saya kagak heran kalau kamu bangun kesiangan, emang kapan kamu pernah bangun pagi?" balasnya.

"Hei apa-apaan ini kok malah berani-beraninya kalian bercanda? Nantang ya?" seorang panitia keamanan membentakku.
Aku dapat dengan mudah mengenalinya karena dia memakai pita biru di lengannya.
"Maaf Mbak," jawabku.
"Eh kurang ajar kamu, kok malah berani menjawab, anak baru aja berlagak awas kamu ya," teriaknya.
Terus dia pun pergi meninggalkan kami berdua. Tapi ketika dia berjalan alamak ternyata seksi banget bodinya, kulitnya putih mulus. Aku heran kenapa cantik-cantik kok malah galak?

Upacara pembukaan ospek pun dimulai, tak terasa waktu berjalan begitu cepat sampai pada saat siang hari. Seluruh peserta di suruh untuk berbaris rapi. Gila aja pokoknya panas banget waktu itu. Bayangin aja masa siang-siang disuruh berjemur sih? Emangnya orang bule? Lagian tadi belum sempat sarapan lagi, lengkap deh penderitaan saya.

Semua peserta dijemur sekitar setengah jam. Lalu semua tugas-tugasnya dicek. Mahasiswa yang tidak membawa tugas disuruh ke depan lapangan, tidak terkecuali aku. Ketika akan dihukum ternyata aku ketemu lagi dengan Mbak seksi yang memarahi aku tadi pagi.

Belakangan aku tahu ternyata namanya Selfi, anak angkatan 99. Dadanya cukup montok juga sih.
"Hei anak baru siapa nama kamu?" tanyanya.
"Ee Indra Mbak," jawabku.
"Mbak.. Mbak emangnya saya kakak kamu?" katanya sambil mengangkat tangan memegang pundakku.
Duh rasanya aku terangsang banget waktu itu, apalagi dia pakai celana jin ketat, dipadu dengan kaos putih ketat hampir transparan, sehingga BHnya yang berwarna hitam terlihat menerawang dengan jelas dari luar, hanya jaket almamater saja yang menutupinya. Rambutnya pun panjang lurus, bibirnya juga seksi.

"Eh ngapain kamu bengong? Ayo sana push up 20 kali," perintahnya.
"Ehh siap Mbak," kataku.
Lalu akupun mengambil posisi push up. Wuih capek banget rasanya baru 12 kali aja aku sudah ngos-ngosan. Akhirnya akupun berhenti.
"Eh sapa yang suruh berhenti, ayo terusin,"katanya.
Lalu aku pun mencari-cari alasan.
"Maaf Mbak saya pingin ke belakang, kebelet pipis," jawabku sekenanya.
"Ah jangan alasan kamu"
"Benar kok Mbak, ntar saya pipis di sini gimana?" belaku.
"Eh jijik tahu, ya sudah sana ke kamar mandi," katanya.

Lalu aku pun meninggalkan semua peserta menuju ke kamar mandi. Agak jauh juga sih jaraknya dari halaman kampus sehingga aku agak santai aja, biar lama he.. he.. he.. Sampai di kamar mandi aku malah bingung mau apa, ya sudah tiba-tiba keluar keinginan untuk onani karena terangsang melihat Mbak Selfi tadi. Ya sudah saya keluarin aja di kamar mandi. Mumpung sepi pikirku. Celana kupelorotkan, lalu CD ku kuturunkan sampai ke lutut. Lagi asyik-asiknya ngocok tba-tiba.
"Bruaak"
Suara pintu dibuka, aku lalu bingung sampai nggak sempat pake celana lagi.
"Hayo sedang apa kamu? Ketahuan ya malah asyik-asyik disini," kata Mbak Selfi.

Aduh mati aku. Aku bisa kena hukuman berat nih.
"Maaf Mbak tadi saya agak sakit perut jadi agak lama," kataku sambil menutupi kemaluanku.
"Kamu bisa saja kena hukuman berat, tapi.. Kamu bisa Mbak bebasin kalau.."
"Kalau apa Mbak?" kataku.
"Kalau kamu mau nurutin keinginan Mbak," kata Mbak Selfi sambil mendekat ke arahku. Kali ini pandangannya mulai sayu.
"Kamu harus mau muasin Mbak"
"Maksudnya?" tanyaku setengah nggak percaya.
"Ya kamu harus mau gituan sama Mbak, making love sama Mbak"
"Iya deh Mbak.. Asyik juga nih"

Lalu dia pun menunggingiku, lalu dibuka celana jinsnya, alamak putih mulus sekali pahanya, apalagi ia memakai celana dalam G string sehingga vaginanya yang merah muda itu agak kelihatan dari luar, ditambah dengan bulu-bulu halus.

"Ayo ngapain bengong?" katanya sambil menoleh ke arahku.
"Oh iya Mbak"
Kali ini aku nggak malu-malu lagi.
"Oh Mbak.. Bahenol sekali, aku ingin nyobain Mbak Selfi," kataku dengan nafas memburu.
"Auw Dik pelan-pelan," timpalnya tanpa berusaha merubah posisinya.
Aku lalu membuka g-stringnya dan mulai menjilati vaginanya dari bawah.
"Gila kamu dik, enak banget, belajar dimana," rintihnya.

Tanpa menjawab aku terus menjilati vaginanya dan meremas remas bokongnya sampai akhirnya lama-lama vaginanya basah sekali.

"Sudah panas Mbak," kataku sambil mengarahkan penisku ke pantatnya dan memukul-mukul kepala penisku ke pantatnya. Aku lalu berusaha mencari lubang vaginanya dengan kepala penisku.
"Mana lubangnya Mbak?" tanyaku, lalu dia menjulurkan tangan kanannya dan menggengam penisku dan menuntun ke mulut goanya.
"Auw dik, gede banget sih," katanya,"Pelan-pelan"

Begitu kepala penisku membuka jalan masuk ke vaginanya, Aku langsung menarik pinggulnya sehingga batang penisku yang besar amblas ditelan vaginanya.

"Oh, Mbak nikmat banget vaginamu.." kataku.
"Ssshh.. Iya dik.. Enak," katanya.

Lima menit aku mengenjotnya, sampai akhirnya aku merasakan orgasme yang sangat panjang dan nikmat disusul erangan Mbak Selfi sambil menahan pantatku agar penetrasinya maksimum.

"Oh Mbak aku keluar nikmat banget,"kataku .

Sejenak aku memelukku dari belakang, dan mulai mencabut penisku dari vaginanya.

"Ma kasih Mbak," kataku dan memakaikan celananya lagi.
"Iya Dik enak bamget penismu makasih juga ya," katanya sambil tersenyum.
"Mbak istirahat dulu ya Ndra capek nih, habis penis kamu besar banget, keras lagi," katanya sambil duduk di lantai.
"Oke deh Mbak, terserah Mbak aja tapi nanti gimana kalau kita dicariin sama panitia yang lain, kan bisa bahaya kalau ketahuan kita lagi beginian," balasku sambil duduk disampingnya.
"Emang kamu belum pernah nyoba making love sama cewek ya Ndra?" sambil melirikku.
"Iya Mbak aku baru pertama kali nyobain seks ya sama Mbak Selfi ini," sambil aku mencubit payudaranya.
"Auu sakit tahu, kamu bandel ya!" katanya sambil berusaha menghindar.
"Tapi kamu kok hebat banget Ndra sampai tahu caranya jilatin vagina Mbak? Apa kamu sudah pernah?" katanya sekarang agak serius.
"Enggak kok Mbak suwer deh, aku cuma lihat dari film-film itu," kataku.
"Oo begitu ya, hebat juga adik Mbak nih," katanya sambil mengelus-elus penisku.

Mungkin karena elusan tangannya yang halus dan lembut, penisku mulai tegang lagi.

"Eh hidup tuh penis kamu," kata Mbak Selfi sambil tertawa dan terus mengocok penisku.
"Iya Mbak terus e eenaak nih.." kataku sambil meraih payudaranya.
"Kubuka bajunya ya Mbak?" kataku.
"He eh" kata Mbak Selfi.

Lalu dengan mudah kubuka kaos ketatnya, ternyata dia memakai bra warna item, seksi banget lho. Kami lalu saling membukakan baju masng-masing sambil dalam posisi duduk. Tak lama kemudian kami berdua sudah telanjang bulat tanpa sehelai benang seperti bayi yang baru dilahirkan ke dunia.

"Ndra coba kamu emut susu Mbak," Mbak Selfi lalu membenamkan kepalaku di payudaranya yang montok itu(aku bilang montok karena aku nggak tahu berapa ukuran payudara seorang cewek). Lalu aku emut dan isap payudara Mbak Selfi yang kanan dan yang kiri aku pelintir putingnya dengan tanganku. Sekarang payudara yang kanan sampai belepotan ludah ku. Kadang-kadang aku sedot sampai mulutku kempong, kadang-kadang aku gigit-gigit putingya yang kecoklatan itu sampai Mbak Selfi berontak dan belingsatan nggak karuan.

"Aduuh Ndra eenak banget gila kamu Ndraooh uuff.." kali ini ia lau menjambak rambutku.
"Sini Ndra sekarang gantian giliran Mbak yang oral kamu," katanya.

Lalu dia pun berlutut di depan ku dan meraih batangku yang sudah sejak tadi ngaceng. Lalu ia masukkan btangku ke dalam mulutnya yang mungil itu. Wuih rasanya selangit apalagi isapan mulutnya lembut banget, kayak apa ya? Aku sendiri bingung mengatakannya. Aku lihat Mbak Selfi sedang asyik mengoral aku seperti anak kecil yang lagi makan permen lolipop. Kadang kadang ia melihat ke arahku. Kadang-kadang pula ia mengigit-gigit penisku sampai aku belingsatan.

"Aduh Mbak enak banget," kataku.
"Hmphf.. Hmph," kata-katanya nggak jelas karena tersumpal oleh penisku.
"Mbak aku mau keluar," kataku sambil memegangi kepalanya.
Tiba-tiba ia melepaskan penisku dari mulutnya dan berkata, "Enak saja Mbak kan belum keluar kok kamu sudah mau keluar duluan, ayo sini ikut Mbak"

Lalu dia pun tiduran telentang di atas lantai, dan mengangkangkan kedua pahanya ke atas sehingga vaginanya terlihat jelas.

"Ayo Ndra sekarang masukin penismu dan puasin Mbak ya"katanya.

Lalu aku pun berlutut di depannya dan menaikkan kedua kakinya ke bahuku. Aku lalu menggesk-gesekkan kepala penisku ke vaginanya sampai bsah banget.

"Aduuh Ndra geeli banget Mbak sudah nggak tahan ayo sayang masukin sekarang dong," katanya sambil memejamkan mata menikmati servisku. Kuhujamkan penisku ke vaginanya, sampai amblas semua ke dalam.

"Aaauuw pelan-pelan sayang," kata Mbak Selfi sambil memegang payudaranya.

Kugenjot Mbak SElfi dalam posisi itu sekitar 1 menit sampai akhirnya ia berteriak, "Ayo Ndra agak cepetan Mbak sudah mau keluar nih uh.. uh.." katanya sambil memelas.
"Iya Mbak sayang sabar Indra juga mau keluar"
"Aduh Ndraa Mbak keluar aduh enak.. Nikmaat Ndra, penismu nggak usah dikeluarin sayang".
"He eh Mbak," kataku sampai keringatan.
"Cret.. cret.." aku pun orgasme didalam bersama Mbak Selfi.
"Enak banget Ndra sperma kamu, hanget banget," katanya sampai ngos-ngosan.

Kami berdua lalu buru-buru pake baju dan celana. Sebelum keluar Mbak Selfi sempat meremas penisku sambil berkedip nakal.
"Thanks ya," katanya sambil berlalu.
Lalu kami berdua pun keluar menuju ke halaman kampus dengan sebuah pengalaman yang luar biasa. Untung saja yang lainnya tidak curiga. Sejak saat kejadian itu Mbak Selfi jadi ramah sama aku. Itulah pengalamanku bersama Mbak Selfi. Aku sekarang jadi agak hyperseks sejak kejadian itu.

Bagai Mana Dengan Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Ini Dan Baca Juga Cerita Dewasa Lainnya Di Bawah Ini:
Read more

Cerita Hot Anak Kost Ku Tersayang

Cerita Nafsu Birahi - Namaku adalah Iyo, usiaku 24 tahun, aku tinggal sendiri di sebuah rumah yang cukup besar untuk aku tempati sendiri karena itu rumahku kujadikan tempat kost cewek. Apalagi rumahku letaknya berdekatan dengan universitasku.



Aku menyeleksi semua cewek yang ingin kost di rumahku, mereka harus cantik, seksi dan gaul apalagi kalau wajahnya terlihat nakal, pasti langsung aku terima tinggal disini. Karena itu semua kamar terisi dengan cewek-cewek cantik. Itulah awal percintaanku dengan salah satu cewek kostku.

Yang aku incar adalah Nuke karena dia sangat cantik dan bodynya sangat seksi, wajahnya sangat sensual menurutku, aku jatuh hati saat pertama melihatnya karena itu aku melakukan segala macam cara agar bisa memilikinya, mengantar dia kuliah pakai mobil, membantu menyelesaikan tugas, ajak dia jalan, nonton, shopping, pokoknya kumanjakan dia.

Akhirnya usahaku tak sia-sia, Nuke mulai jatuh hati padaku. Hal itu terjadi saat kami berdua pulang dari menonton bioskop. Tingkah laku Nuke terlihat lain, biasanya dia suka bercanda sampai tertawa ngakak, malam itu di dalam mobil dia tampak pendiam dan sering menatap wajahku lalu tersenyum manis, sebenarnya aku tahu isi hatinya tapi aku pura-pura tidak tau.

"Kamu kenapa Say..? Sakit ya?", tanyaku sok perhatian.
"Oh.. Nggak kok Yang.. Nuke jadi suka aja ngelihat Yayang..", jawabnya polos.

Kemudian kami tersenyum dan terdiam lagi sampai di rumah. Pada waktu jalan dia menggandeng tanganku lembut sampai di kamarnya.

"Udah ya Say, sekarang tidur ya?", kataku sambil beranjak pergi menuju kamarku.
"Yang.. Kenapa ya Nuke kok jadi sayang sama Yayang.." ucapnya sambil memegang tanganku, matanya menatapku penuh harap.
"Ah.. Ngaco kamu, udah tidur sana!", jawabku sok cuek sambil berlalu.
"Yang..! Temani Nuke bentar ya..?", pintanya, aku hanya tersenyum lalu dia menggandengku masuk kamarnya. Setelah kamarnya kukunci, Nuke langsung memelukku.
"Nuke cinta Yayang..", katanya sambil mencium bibirku lembut.

Inilah yang kutunggu, aku membalas pelukannya sambil mencium bibir sensualnya. Lama kelamaan ciuman kami semakin panas, lidah kami saling beradu penuh gairah, tanganku sudah tak tahan ingin meremas buah dadanya yang montok dan kencang itu. Kusandarkan dia di balik pintu, lalu aku memasukkan tanganku ke dalam bajunya, buah dadanya terasa empuk dan lembut saat kuremas meski putingnya sudah mengeras. Nuke tampak sangat menikmati permainan ini, matanya terpejam sambil sekali-kali mendesah nikmat.

Ciumanku mulai turun ke leher jenjangnya, lidahku menyapu tiap jengkal lehernya, tampaknya dia sudah tak tahan lagi saat puting susunya kujilati sambil kugigit lembut, lalu roknya mulai kulepaskan perlahan, tanganku kini mulai meraba-raba gumpalan bulu halus tempiknya sambil terus menjilati susunya, jemariku terasa basah saat kugesek-gesekkan di luar tempiknya, lalu aku jongkok, salah satu kakinya kuangkat dan kusandarkan di bahuku agar aku lebih leluasa menciumi tempiknya, lidahku menyapu klitorisnya sambil sekali-kali kusedot gelambir tempiknya, kakinya terasa bergetar menahan geli nikmat rangsanganku. Cukup lama kurangsang tempiknya dengan mulut dan lidahku, sampai akhirnya tubuhnya bergetar hebat.

"Oh.. Yayang.. Nuke hampir.." bibirnya makin mendesah nggak karuan dan tangannya makin menenggelamkan mukaku ke tempiknya. Lalu terasa banyak cairan kental yang hangat mengalir dan membasahi mulutku, cukup banyak yang tertelan di mulutku. Tampaknya dia mengalami orgasme hebat.

Lalu aku berdiri sambil mengusap mulutku yang basah, Nuke menatapku sambil tersenyum nakal, tangannya melingkar manja di pinggangku, aku makin nafsu melihatnya lalu kugendong dia ke ranjangnya dan kurebahkan tubuhnya. Kulebarkan kedua kakinya lalu aku menindih tubuhnya, Nuke terlihat pasrah hingga membuatku makin bernafsu. Lalu sambil berciuman, kugoyang-goyangkan kontolku sambil kugesek-gesekkan di bibir tempiknya.

Batang kontolku terasa basah dan geli, lalu kuarahkan kontolku ke lubang tempiknya, kusodok pelan-pelan. Terasa sulit untuk memasukinya karena lubangnya sangat sempit, aku terus menggoyang-goyangkan pantatku, terasa nikmat saat helm kontolku masuk ke dalamnya.

"Achh.. Yayang, pelan-pelan.. Sakit yang.." Nuke menjerit tertahan menahan sakit saat kosodok-sodokkan kontolku lebih keras.

Aku memperlambat gerakanku, akhirnya kontolku masuk ke dalam tempiknya sedikit demi sedikit.

"Uhh.. Achh.." desahnya saat seluruh batang kontolku tenggelam, serasa seperti dipijat-pijat dan tersedot masuk ke dalam tempiknya.

Aku makin bernafsu melihat raut wajahnya yang mempesona, keringatku menetes membasahi tubuhnya, makin lama makin cepat sodokan kontolku di dalam tempiknya, suara desahan kami makin keras di kamarnya, tak peduli ada yang mendengar. Kutindih dan kupeluk Nuke sambil kujilati telinganya.

"Oh Yayang.. Nuke mau lagi.. Ahh..", rintihnya.
"Aku juga Say..", balasku.

Saat spermaku terasa menjalar di dalam urat kontolku, gerakanku semakin cepat, akhirnya kami berdua mengalami orgasme bersamaan, spermaku muncrat memenuhi tempiknya, pelukanku makin erat, gerakanku makin melambat, tapi tangan Nuke terus mendorong pantatku agar aku terus bergerak..

"Terus.. Nuke hampir.."

Lalu saat sodokanku kembali kupercepat, Nuke semakin keras meremas pantatku, pahanya makin erat menjepit pinggangku.

"Achh.. Achh..", desahnya saat dia mengalami orgasme kedua kalinya, terasa banyak cairan hangat membasahi kontolku, lalu gerakanku berhenti.

Kupeluk terus dia sambil mencium keningnya, kontolku masih tertanam di tempiknya sampai mengecil dengan sendirinya. Kemudian kulepas perlahan, terasa geli sekali dan kulihat ranjangnya telah basah oleh cairan kami berdua. Dan terlihat ada noda merah darah di ranjang itu, kutatap wajahnya, tak ada raut penyesalan di sana.

"Nuke udah nggak perawan lagi Yang.. Jangan tinggalin Nuke ya..", pintanya padaku.
"Nggak mungkin aku tinggalin kamu Say, aku cinta kau..", batinku. Lalu kami berdua tidur sambil berpelukan, aku bermimpi indah sampai pagi tiba..

Tak terasa matahari sudah terbit, hari sudah mulai siang, dan kulihat Nuke masih tidur pulas di sampingku sambil memelukku. Wajahnya tampak mempesona dan cantik sekali pagi itu. Aku sangat beruntung bisa memilikinya. Lalu kukecup lembut keningnya. Aku tak mau membangunkannya, jadi kutunggu saja sampai dia terbangun. Akhirnya tidak berapa lama Nuke terbangun dan menggeliat, kemudian dia menatapku.

"Met pagi Say..", katanya manja sambil menciumku.
"Ihh bauu.. Sana mandi dulu..", jawabku bercanda.
"Gak mau kalau nggak Yayang mandiin", balasnya genit.

Lalu kugendong dia ke kamar mandi di dalam kamarnya. Lalu kami berdua mandi bersama. Saat kusiram tubuhnya dengan air dingin, Nuke tampak menggigil dan memelukku lagi.

"Yayang.. Dingin nih.. Ntar aja mandinya ya..", pintanya manja.

Lalu dia mulai merangsangku lagi, puting susuku dijilati dan tangannya mulai nakal meremas kontolku yang masih tidur. Lidahnya berputar-putar mengelilingi puting susuku, rasanya benar-benar nikmat sekali. Makin lama kontolku mulai tegak lagi karena tak tahan menahan rangsangannya. Ketika tanganku ingin meremas buah dadanya, Nuke langsung menepisnya..

"Nggak boleh.. Aku mau puasin Yayang dulu..". katanya.

Lalu ciumannya perlahan mulai turun ke perut dan pinggangku, benar-benar geli dan nikmat sekali. Aku cuma bersandar di dinding menikmati rangsangannya. Lama kelamaan bibirnya mulai turun kearah kontolku, perlahan dijilatinya mulai pangkal sampai helmnya. Aku benar-benar dimanja oleh sentuhannya yang begitu lembut. Sekali-kali matanya menatapku nakal, aku benar-benar tak tahan dibuatnya. Kontolku terus dikulum sambil dikocok perlahan.

"Ahh udah say.. Sini gantian..", bisikku lirih.

Lalu kubalikkan badannya membelakangiku dan aku jongkok di belakangnya, langsung saja kujilati vaginanya, baunya begitu harum khas wanita, kujilati perlahan sambil sesekali lidahku masuk ke dalamnya. Nuke mulai mendesah..

"Oh.. Yayang..", aku semakin bersemangat merangsang klitorisnya, tanganku juga meremas pantatnya yang membulat bersih. Lalu jilatanku mulai naik ke lubang pantatnya..

"Ihh geli Yang..", desahnya sambil tertawa kecil, jemariku kini mulai kumasukkan ke dalam vaginanya dan kuputar perlahan sehingga menimbulkan sensasi pada tubuhnya. Getaran kakinya mulai terasa dan desahnya mulai tidak karuan.

"Oohh.. Achh", lalu aku berdiri dan kontolku kini mulai kugesek-gesekkan di bibir vaginanya. Kumasukkan perlahan dan kugoyangkan pelan-pelan, kami sangat menikmati permainan yang lembut ini.

Akhirnya kontolku benar-benar terbenam seluruhnya di dalam vaginanya, tanganku terus meremas-remas pantatnya. Nukepun juga ikut bergerak maju mundur seirama dengan gerakanku. Lalu saat gerakan kupercepat, Nuke tampak sudah tak tahan menghadapi gempuranku, tubuhnya mulai bergetar dan desahnya makin keras di dalam kamar mandi. Orgasmenya mulai mengalir membasahi kontolku, begitu basah dan hangat terasa, lalu kurasakan spermaku mulai mengalir di dalam batang kontolku dan gerakanku makin cepat menyodok tempiknya. Akhirnya sperma telah berada di ujung kontolku dan ketika akan kutarik keluar, Nuke menahannya..

"Yayang, dikeluarin di dalam saja.."

Akhirnya aku tak jadi menarik kontolku dan melanjutkan sodokanku, lalu spermaku muncrat membasahi vaginanya. Mataku terpejam menikmati orgasme yang begitu hebat itu. Akhirnya saat permainan telah selesai, kupeluk dan kukecup lembut keningnya, lalu kami berdua meneruskan mandi sambil saling membasuh tubuh dan bercanda.

Bagai Mana Dengan Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Ini Dan Baca Juga Cerita Dewasa Lainnya Di Bawah Ini:
Read more

Cerita Sex Permainan Si Cantik Anggi

Cerita Dewasa IGO - Seperti biasa, sepulang dari kantor aku selalu memanfaatkan waktu untuk beristirahat di sebuah cafe yang terletak tak jauh dari kantorku. Sedang asyik menikmati juice sirsak kesukaanku, tiba-tiba salah satu dari dua HP milikku berdering. Aku lihat siapa yang meneleponku, ternyata nomornya tak aku kenal sama sekali. Dengan bermalas-malasan, aku angkat juga telepon itu.



"Halo..," aku coba bicara sesopan mungkin.
"Ya, hallo. Ini Jarot ya," ujar suara lembut dari seberang sana.
"Ini siapa ya, maaf saya tidak mengenal suara anda," jawabku dengan sedikit heran. Soalnya, sama sekali aku tidak mengenal suara tersebut, termasuk nomor teleponnya.
"Ini Anggi, kita memang belum pernah kenal kok," jawabnya semakin membuat saya heran.
"Anggi..? Trus, dari mana kamu dapat nomor HP saya," aku coba bertanya.
"Nanti kamu akan tahu juga kok. Kita bisa ketemu nggak?" ujarnya lagi.

Aku sedikit tersentak kaget. Soalnya, selain aku tidak mengenalnya sama sekali, aku juga tidak tahu apa maunya cewek itu ingin berjumpa denganku. Namun dengan masih penasaran, akhirnya aku menyanggupi permintaannya untuk bertemu denganku di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di kotaku.

Setelah menghabiskan sisa juice sirsak di hadapanku, aku langsung menghidupkan mesin mobil dan melaju arah utara, menuju pusat perbelanjaan tempat aku janjian bertemu dengannya.

Sesampai di tempat kami janjian untuk bertemu, aku coba untuk menghubungi nomor HP-nya yang masih tersimpan di HP-ku. Seketika terdengar suara dering HP milik seorang cewek cantik yang berdiri tak jauh dari tempatku berada. Seketika aku matikan kontak telepon dengannya, dan langsung menuju arah cewek itu.

"Anggi ya, saya Jarot..," aku mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Anggi," kurasakan tangannya yang lembut bersentuhan dengan tanganku.

Setelah berkenalan, aku ajak dia untuk masuk ke salah satu cafe yang ada di pusat perbelanjaan itu, sekaligus untuk mengobrol. Dari percakapannya dengannya, ia menyatakan mendapatkan nomor HP-ku dari seseorang yang katanya kenal denganku. Tapi ketika memberikan nama orang yang memberikan nomor HP-ku itu padanya, ternyata aku juga tidak mengenalnya sama sekali.

"Persetan dengan orang yang memberikan nomor HP-ku, yang penting bisa berkenalan dengan cewek cantik," ujarku dalam hati.

Dari pembicaraanku dengannya, ternyata kuketahui ia kuliah di fakultas hukum di Universitas "BH" yang cukup terkenal di kotaku, dan kost di daerah "T" yang dekat dengan bandara. Dari ceritanya, aku juga bisa menebak bahwa ia saat ini sedang kebingungan setelah ditinggal pergi sang pacar.

"Sudahlah, tak usah dipikirkan lagi. Justru kalau kamu memikirkannya terus, akan menambah beban pikiranmu," ujarku sambil coba menenangkan perasaannya dengan membelai rambutnya yang direbonding.

Dan tanpa kusadari, ternyata ia merebahkan kepalanya ke dadaku. Aku terkejut bukan main, karena tak menyangka ia akan begitu. Lalu perlahan, aku tawarkan padanya untuk pergi dari tempat itu mencari tempat yang bebas untuk bercerita. Ia setuju, dan kamipun meluncur menuju pinggir pantai.

Dalam suasana yang sejuk dan senja mulai merambat turun itu, aku memberanikan diri untuk merengkuh pundaknya. Ia terlihat pasrah, dan aku jadi makin berani untuk berbuat lebih lagi. Ku coba kembali membelai rambutnya dan mengecup lembut keningnya, terus turun ke bibirnya yang ranum.
"Ah..," dia mendesah.

Aku jadi semakin berani. Lidahku mulai keluar masuk ke rongga mulutnya, dan perbuatanku itu ternyata mendapat balasan darinya. Aku jadi semakin berani, dan tanganku coba meremas daging kenyal di dadanya, sementara ia juga terlihat mencoba menrambat ke sela-sela sudut pahaku.

Anggi terlihat mulai tak sabaran untuk bisa mengelus-elus rudalku yang sudah menegang sejak tadi. Secara perlahan-lahan, ia mencoba untuk bisa membuka resluiting celana ku, dan sesaat ia terkejut merasakan betapa besarnya punyaku.
"Oh.., besar sekali," katanya, dan aku hanya tersenyum menanggapinya sambil tanganku tetap bermain di puting susunya.

Ciuman bibirku mulai turun ke leher, dan terus turun ke bawah serta berhenti sejenak di puncak bukit kembarnya. Disini, aku permainkan puting susunya dengan lidahku, sehingga membuatnya tak kuasa menahan gejolak hawa nafsunya. Tampaknya, ia sudah tak sabaran lagi untuk melanjutkan aktivitasnya ke arah yang lebih intim lagi, karena ia sudah mulai berusaha untuk melorotkan celana dalamku.

"Jangan disini, Anggi. Kita cari tempat istirahat yang aman yuk," ajakku, yang ternyata dibalas dengan anggukan.

Tanpa pikir panjang, segera aku hidupkan mesin mobilku, dan menuju sebuah hotel "P" yang terletak di jalan Dobi bersebelahan dengan Bank BNI. Begitu masuk kamar, aku segera memeluknya dan mengulum bibirnya dengan penuh nafsu. Sementara ia kulihat sibuk membuka kancing-kancing baju kemeja yang kupakai dan kemudian melorotkan celana panjangku.

Akupun tak mau kalah. Dengan sekali tarik, aku berhasil melepaskan baju kaos yang dipakainya dan kemudian menarik resluiting celana jeans yang dipakainya, sehingga tinggallah ia hanya mengenakan BH hitam dan CD yang juga berwarna hitam.

Tanpa membuang waktu lagi, aku dorong tubuhnya ke ranjang yang berukuran besar itu setelah berhasil membuka kait BH dengan ukuran 34B di bagian belakang tubuhnya, sehingga terlihatlah dua buah gunung putih yang menyembul dengan puncaknya yang berwarna pink. Tanpa menunggu lagi, segera aku hisap puting susunya yang berwarna pink itu dan sekali-sekali memainkannya dengan ujung lidahku.

"Ah, Jarot..!" serunya.
"Anggi, mimikmu begitu indah dan kenyal. Aku sangat menyukainya," ujarku.
"Terus, Jarot. Oh, geli..," desahnya.
Mendengar desahannya itu, aku jadi semakin bernafsu. Jilatanku terus merambat turun ke pusarnya, dan terus ke gundukan di sela kedua pahanya. Dengan lihainya, aku permainkan clitorisnya yang sudah mulai menyembul dengan ujung lidahku, dan aku terus memasukkan ujung lidahku hingga ke dalam. Tiba-tiba, ia mengangat pinggulnya dan berteriak,
"Ah.., terus.. ee.. naak..!" raraunya.

Sementara aku terus mempermainkan rongga kenikmatannya, Anggi juga terlihat semakin kencang menggoyang-goyang pinggulnya. Dan tiba-tiba ia berteriak dengan kuat.
"Ah, aku.. ke.. luar..," dan terlihat tubuhnya mengejang dengan mata terpejam. Sementara di lubang kenikmatannya terlihat cukup banyak cairan yang keluar. Aku merasakan rasa asin bercampur manis dengan aroma yang harum dan terasa panas.

Dengan rakusnya, aku jilat seluruh cairan yang keluar dari rongga kewanitaannya itu, dan tubuhku terus merambat naik ke atas. Disini, aku permainkan kembali puting susunya yang terlihat begitu indah. Rasanya, tak ingin aku melepaskan bibirku dari sana.

Tak lama kemudian, aku lihat Anggi kembali menggeliat dan mendesah-desah. Ia tampak kembali terangsang dan minta aku segera memasukkan rudalku yang berukuran 16 Cm dengan diameter 3 cm itu ke lubang vaginanya.
"Ayo Jarot, Anggi sudah nggak tahan lagi," erangnya.

Tanpa menunggu lama lagi, segera aku arahkan rudalku ke lubang vaginanya. Secara perlahan-lahan tapi pasti, ujung rudalku mulai menyeruak masuk ke lubang vaginanya yang berbulu tipis itu. Aku merasakan punyaku cukup sulit menembus lubangnya yang ternyata masih sempit itu. Namun aku terus memaksanya untuk bisa masuk.
"Ah, pelan-pelan ya..," erangnya.

Kembali aku tekan kepala rudalku untuk masuk ke lubang vaginanya secara perlahan-lahan, sehingga akhirnya aku berhasil memasukkan seluruh rudalku dan merasakan ujungnya menyentuh dasar vaginanya.
"Oh, nikmat sekali," katanya sambil mendesah.

Aku semakin bernafsu untuk menggenjot terus lubang kenikmatannya mendengar desahannya. Semakin dia menceracau tak karuan, semakin kencang aku mengeluarkan dan memasukkan rudalku ke lubang kenikmatannya.
"Oh Jarot, aku.. mau.. ke.. luar lagi," desahnya.
"Tahan dulu ya sayang, aku juga.. su.. dah.. mau sampai.. Keluarkan dimana..?" tanyaku.
"Di lu.." Belum sempat ia menjawab, aku sudah tidak bisa menahannya lagi, sehingga akibatnya.

"Crot.. crot.. crot..!" beberapa kali tembakan spermaku yang cukup banyak menghantam dinding vaginanya, sementara pada saat bersamaan aku juga merasakan cairan hangat menyelimuti batang kemaluanku.

"Maaf Anggi, aku tak kuasa lagi menahannya dan spermaku tertancap di lubang vaginamu," kataku menyesali.
"Tak apa-apa, mudah-mudahan saja sekarang aku tak subur, karena jadwal datang bulanku dua hari lagi," katanya sambil memelukku sambil mengelus dadaku.
"Terima kasih Anggi, kamu telah memberikan kenikmatan yang tiada tara padaku hari ini," ujarku sambil mengecup bibirnya.
"Saya juga, rasanya beban pikiranku hari ini menjadi hilang dan berubah jadi rasa nikmat. Yuk, kita mandi berdua," ajaknya sambil menarik tanganku menuju kamar mandi.

Dan di kamar mandi itu, batang kemaluanku kembali mengeras ketika Anggi sedang mengelus-elusnya. Tanpa berbasa-basi lagi, aku menarik pinggang Anggi dan menyuruhnya menungging membelakangiku. Perlahan-lahan, aku arahkan kepala rudalku di sela-sela pantatnya yang bahenol. Sesaat, aku merasakan Anggi tersentak. Namun itu hanya sebentar, karena tiba-tiba Anggi mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya, ketika dirasakannya kepala rudalku sudah amblas semuanya.

"Ah, Jarot. Aku sampai lagi," desah Anggi tertahan.
"Aku ju.. ga..," kataku sambil menembakkan kembali spermaku ke dalam rongga kewanitaannya.
"Kapan kita bisa mengulangi seperti lagi, Jarot," ujar Anggi sambil mengecup lembut bibirku.
"Terserah kamu aja, telpon saja aku," jawabku pasti.

Setelah jam menunjukkan pukul 20.45 WIB, kami lalu check out dari hotel itu dan mengantar Anggi pulang. Di perjalanan menjelang tempat kostnya, Anggi terlihat seperti tidak ingin melepaskan tangannya dari rudalku. Sebelum sampai di tempat kostnya, aku belikan ia voucher simpati agar ia bisa menghubungiku kapanpun ia menginginkan permainan seperti tadi kembali, dan kemudian aku kembali ke rumah untuk berkumpul dengan keluargaku.

Bagai Mana Dengan Ceritanya?
Bagus Bukan!
Jangan Malas Untuk Membagikan Cerita Ini Dan Baca Juga Cerita Dewasa Lainnya Di Bawah Ini:
Read more
 
Blogger Templates